BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, menyoroti dampak kenaikan harga BBM non subsidi terhadap dunia industri di Batam.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan tekanan langsung, terutama bagi sektor industri yang bergantung pada BBM industri.
Rafki menjelaskan, kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi meningkatkan biaya logistik.
Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga avtur yang terjadi lebih dahulu, sehingga menambah beban biaya distribusi secara keseluruhan.
Di sisi lain, pelaku usaha saat ini juga tengah menghadapi kenaikan biaya pokok produksi akibat kelangkaan sejumlah komponen yang dipicu oleh situasi perang global.
“Biaya logistik akan naik dan ini menjadi tambahan beban bagi pengusaha yang sudah menghadapi kenaikan biaya produksi,” ujarnya.
Dampak lanjutan juga diperkirakan akan dirasakan oleh masyarakat. Rafki menyebut, harga bahan pokok di Batam berpotensi mengalami kenaikan karena sebagian besar kebutuhan didatangkan dari daerah lain melalui jalur transportasi laut.
“Jika BBM non subsidi naik, otomatis biaya transportasi barang juga meningkat. Ini akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang perlu diantisipasi sejak dini,” jelasnya.
Selain itu, Apindo Batam juga telah menerima laporan mengenai kenaikan biaya produksi akibat kelangkaan chip dan bahan baku seperti biji plastik.
Meski demikian, Rafki menilai daya saing industri bersifat relatif, tergantung pada kemampuan masing-masing sektor dalam beradaptasi.
Di tengah tekanan tersebut, Apindo berharap pemerintah dapat segera memberikan dukungan kepada dunia usaha.
Rafki menekankan pentingnya insentif fiskal maupun non fiskal agar perusahaan tetap mampu bertahan dan menghindari langkah pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Kami berharap ada kebijakan yang dapat membantu perusahaan agar tetap bertahan di tengah situasi yang menantang ini,” ujarnya. (uly)







