BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Matahari baru saja terbit, udara masih terasa dingin, Ady Indra Pawennari melangkah ke pekarangan belakang rumahnya di Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Di lahan seluas 4 x 9 meter, ia memeriksa rumpun padi yang berumur dua bulan. Dengan telaten Ady membersihkan gulma disela-sela tanaman sembari mengatur debit air yang mengalir di sawah kecilnya.

Ady menceritakan tujuannya menanam padi sembari menikmati secangkir kopi hitam. Baginya, aktivitas ini bukan sekadar hobi.
Melainkan pembuktian bahwa padi tumbuh subur di tanah Kepri yang dikenal mengandung bauksit. Jenis tanah yang selama ini dianggap tidak cocok untuk pertanian.
Lebih dari itu, Pria 53 tahun ini ingin mengajak masyarakat bisa memanfaatkan lahan kecil di sekitar rumah tetapi menghasilkan bagi keluarga.
Jiwa bertani Ady memang sudah tertanam sejak kecil. Ia lahir dan besar di sebuah perkampungan di Timur Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Sejak dini, ia memang akrab dengan lumpur sawah. Sepulang sekolah, ia membantu orang tuanya menanam padi. Baginya, masa kecil adalah tentang dua hal, yaitu belajar dan bertani.
“Kalau musim panen, uang jajan dan SPP lancar. Tapi kalau gagal panen, ya nunggak,” kenangnya sembari tersenyum di tepi sawah rumahnya, Rabu (18/3/2026).
Kini, meski kesehariannya berkutat di bisnis pertambangan mineral non-logam, khususnya pasir kuarsa atau silika, jiwa petaninya tetap hidup. Bahkan, justru menemukan bentuk baru di tanah rantau.
Semua bermula dari rasa penasaran sekaligus keprihatinan. Di Tanjungpinang, tanah yang didominasi bauksit dikenal sulit menyerap air dan tidak cocok untuk pertanian, apalagi padi. Namun, Ady tidak menyerah pada anggapan tersebut.
Ia memulai dari hal kecil. Mencoba menanam padi di baskom. Media tanamnya pun tak biasa campuran biji bauksit dan cocopeat atau serbuk sabut kelapa.
Cocopeat dipilih karena kemampuannya menyerap dan menyimpan air hingga 300 persen dari bobotnya. Hasilnya di luar dugaan. Padi tumbuh, bahkan berkembang sempurna hingga panen.
Keberhasilan percobaan itu menjadi titik balik. Pada 2016 lalu, Ady memperluas skala tanamnya ke Kabupaten Lingga. Di wilayah yang dulu dipercaya hanya cocok untuk tanaman sagu sejak masa Kesultanan Riau-Lingga, ia berhasil membuktikan sebaliknya.
Padi bisa tumbuh. Bahkan, dalam skala besar. Keberhasilan itu menarik perhatian pemerintah pusat.
Melalui Kementerian Pertanian, bantuan sarana produksi hingga alat mesin pertanian mulai digelontorkan. Lingga pun sempat digadang sebagai calon lumbung pangan di wilayah perbatasan.
Namun, bagi Ady, perjuangannya bukan sekadar soal membuktikan tanah bisa ditanami. Lebih dari itu, ada kegelisahan yang ia rasakan setiap hari.
“Kita ini terlalu bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah,” ujarnya.
Karena itu, ia mulai menanam padi di pekarangan rumahnya. Lahan kecil diolah dengan teknik yang sama, rekayasa media tanam menggunakan cocopeat.
Dalam setahun, Ady bisa menanam dua kali. Dari lahan sempit tersebut, ia menghasilkan sekitar 20 hingga 25 kilogram beras setiap panen cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama satu bulan.
“Paling tidak, saya tidak beli beras selama sebulan. Itu sudah membantu mengurangi pengeluaran,” tuturnya.
Jenis padi yang ditanam pun beragam, mulai dari ketan hitam, CL 220, Inpari 32 hingga SR. Menariknya, semua varietas itu mampu tumbuh dengan baik, bahkan produktivitasnya melampaui rata-rata hasil panen di Provinsi Kepulauan Riau.
Namun, perjuangan itu tidak tanpa tantangan. Hama burung menjadi musuh utama.
Karena lahan yang kecil dan tidak seragam dengan lingkungan sekitar, burung-burung kerap datang bergerombol dan menyerang saat bulir padi mulai keluar.
“Ini yang berat. Harusnya tanam serentak supaya tidak terkonsentrasi di satu titik,” jelasnya.
Semangatnya tak pernah surut. Ia bahkan kerap mengundang tetangga saat panen, memasak nasi lemak dari beras hasil tanamannya, dan berbagi cerita.
Beberapa warga sempat tertarik mengikuti jejaknya, meski belum berlanjut karena tantangan yang ada.
Bagi Ady, ketahanan pangan bukan sekadar isu besar di tingkat negara. Ia percaya, semuanya harus dimulai dari rumah tangga.
“Kalau kebutuhan pangan keluarga terpenuhi, konflik berkurang, kebahagiaan meningkat,” ujarnya sederhana.
Di Kepulauan Riau, tantangan ketahanan pangan memang tidak ringan. Selain kondisi geografis kepulauan yang membuat distribusi mahal, budaya masyarakat yang mayoritas nelayan juga menjadi faktor.
“Nelayan pagi melaut, sore sudah dapat uang. Petani harus tunggu 100 hari baru panen,” katanya.
Namun, ia tetap optimistis. Ia percaya, dengan dukungan pemerintah berupa bantuan benih, pupuk, alat pertanian, serta jaminan harga jual yang layak, masyarakat akan mulai tertarik untuk menanam.
Ia juga punya pesan sederhana yang mungkin terdengar sepele, tapi sarat makna:
“Padi itu bukan tanaman air, tapi butuh air. Jadi jangan takut menanam, meski tidak ada irigasi.”
Di tengah ancaman kenaikan harga pangan dan ketergantungan pada pasokan luar daerah, langkah kecil Ady menjadi pengingat. Solusi besar bisa dimulai dari halaman rumah.
Dari tanah bauksit yang dulu dianggap tak berguna, kini tumbuh bulir-bulir harapan. Dan dari seorang anak petani, lahir semangat untuk menjaga kedaulatan pangan. Setidaknya, untuk keluarganya sendiri.
Seperti diketahui apa yang dilakukan Ady sejatinya selaras dengan upaya yang lebih besar. Di tingkat regional, Bank Indonesia melalui Perwakilan Kepulauan Riau juga tengah menguatkan strategi ketahanan pangan.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menegaskan bahwa tantangan utama wilayah kepulauan ini adalah ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah yang berdampak langsung pada stabilitas harga.
“Pengamanan pasokan menjadi fokus utama untuk menekan inflasi,” jelasnya.
Untuk itu, BI Kepri meluncurkan berbagai inisiatif, salah satunya Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini mendorong sinergi lintas sektor, termasuk penguatan urban farming dan pemberdayaan UMKM pangan.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dengan kondisi geografis yang tersebar dan biaya distribusi tinggi, memperkuat produksi pangan dari skala rumah tangga hingga komunitas menjadi kunci.
Gerakan urban farming yang didorong BI Kepri menemukan refleksinya pada apa yang dilakukan Ady. Bedanya, Ady memulainya jauh sebelum istilah itu populer dengan pendekatan sederhana, dari pekarangan sendiri.
Di sisi lain, BI Kepri juga terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menggelar bazar pangan murah, serta mendorong peningkatan produktivitas pangan lokal. Upaya ini menjadi jembatan antara kebijakan makro dan praktik nyata di lapangan.
Di tengah ancaman kenaikan harga pangan dan ketergantungan pasokan luar, langkah kecil seperti yang dilakukan Ady terasa semakin relevan. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar. (uly)









