Thursday, July 9, 2026
HomeBatamBatam Bergeser dari Industri Padat Karya ke Teknologi, Investasi Data Center Tembus...

Batam Bergeser dari Industri Padat Karya ke Teknologi, Investasi Data Center Tembus Rp120 Triliun

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Gelombang investasi di sektor digital mulai mengubah wajah perekonomian Batam. Sedikitnya 20 proyek data center dengan nilai investasi mencapai lebih dari Rp120 triliun kini berkembang di kawasan tersebut.

Nilai fantastis itu bahkan belum memasukkan sejumlah proyek yang masih berada pada tahap persiapan dan belum diumumkan kepada publik.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan investasi yang masuk tidak hanya menghadirkan bangunan fisik atau lapangan kerja langsung, tetapi juga menciptakan efek berganda (multi-layer effect) yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi. Mulai dari konstruksi, transportasi, perdagangan, jasa, hingga sektor informal.

“Investasi yang masuk sekarang sudah mencapai sekitar Rp120 triliun, termasuk sekitar 20 data center. Ada yang bertanya karena investasi ini tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja seperti industri manufaktur padat karya. Padahal dampak ekonominya jauh lebih luas,” ujar Amsakar, Kamis (8/7/2026).

Menurutnya, investasi di bidang teknologi informasi, cloud computing, dan ekonomi digital akan menciptakan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja dengan kompetensi khusus. Karena itu, Batam harus mulai menggeser fokus pembangunan dari sekadar mengejar industri padat karya menuju penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Investasi teknologi informasi, IT, cloud, atau apa pun namanya yang masuk ke Batam akan memberikan multi-layer effect. Pertama tentu soal ketersediaan SDM. Akan ada pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang tertentu untuk mengelola fasilitas tersebut,” katanya.

BACA JUGA:   Upaya Cegah Banjir, Sekda Jefridin Tinjau Kegiatan Gotong Royong Tingkat Kota Batam

Amsakar menjelaskan manfaat ekonomi sudah mulai dirasakan bahkan sejak tahap pembangunan proyek berlangsung. Aktivitas konstruksi mampu menyerap ribuan pekerja sekaligus menggerakkan rantai pasok berbagai sektor usaha.

“Ketika pembangunan dimulai saja sudah banyak orang yang bekerja. Jadi tidak harus selalu melihat industri kecil atau industri padat karya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan SDM yang mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang,” ujarnya.

Tak hanya sektor formal, geliat investasi tersebut juga dinilai menjadi pemicu tumbuhnya sektor informal di Batam. Aktivitas ekonomi masyarakat semakin hidup, ditandai dengan berkembangnya pusat-pusat kuliner dan usaha mikro di berbagai kawasan.

“Kalau kita berjalan malam di beberapa titik strategis di Batam, kawasan Thamrin ramai, Bengkong juga luar biasa. Hampir di seluruh titik di Batam, sektor informal tumbuh dengan sangat subur,” kata Amsakar.

Ia menilai indikator keberhasilan investasi tidak lagi semata-mata diukur dari jumlah tenaga kerja formal yang terserap.

“Perkembangan ekonomi memberikan multi-layer effect. Tidak hanya bicara soal tenaga kerja formal, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor informal,” katanya.

Menurutnya, berbagai sektor yang ikut terdorong antara lain transportasi, properti, konstruksi, perdagangan, jasa, pariwisata, hingga usaha kuliner.

BACA JUGA:   Jefridin Tetapkan Target Penyelesaian Dokumen LKPJ 2024

“Sektor transportasi pasti hidup. Properti berubah, konstruksi berubah, perdagangan, jasa, pariwisata, kuliner, dan berbagai sektor kehidupan lainnya, terutama sektor informal, juga akan berkembang,” ujarnya.

Amsakar menyebut Batam kini tengah memasuki fase transformasi industri. Dalam satu hingga dua tahun terakhir, struktur ekonomi mulai bergeser dari dominasi manufaktur menuju industri berbasis teknologi dan ekonomi digital.

“Beberapa saat terakhir ini relatif industri kita mulai bergeser. Dari manufaktur bertransformasi. Dalam satu sampai dua tahun terakhir sudah ada delapan investasi yang masuk,” katanya.

Transformasi tersebut, lanjut Amsakar, berjalan seiring dengan membaiknya berbagai indikator ekonomi daerah. Pertumbuhan investasi terus meningkat, sementara tingkat kemiskinan dan pengangguran menunjukkan tren penurunan.

“Alhamdulillah perkembangan ekonomi kita baik. Pertumbuhan investasi terus melaju, angka-angka ekonomi lainnya juga tumbuh,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, tingkat pengangguran terbuka di Batam turun dari sekitar 7,6 persen menjadi sekitar 7 persen. Sementara angka kemiskinan berhasil ditekan hingga turun sekitar 1,04 persen.

Meski demikian, tingginya mobilitas penduduk masih menjadi tantangan tersendiri dalam menekan angka pengangguran.

“Setelah kita membuka kesempatan kerja, angka pengangguran lebih banyak disebabkan oleh arus migrasi yang masuk. Begitu seseorang mendapatkan kartu pencari kerja atau kartu kuning, enam bulan kemudian datanya sudah masuk sebagai penduduk Batam dalam statistik, meskipun belum memiliki KTP Batam,” jelasnya.

BACA JUGA:   Funworld Arena Rekreasi Hadirkan Bowling Pertama di Batam

Menurut Amsakar, kondisi tersebut membuat angka pengangguran Batam relatif sulit turun secara signifikan karena terus dipengaruhi masuknya pencari kerja dari berbagai daerah.

Sementara itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sedikitnya 20 proyek data center kini berkembang di Batam dengan total nilai investasi lebih dari Rp120 triliun. Nilai tersebut belum termasuk sejumlah proyek baru yang masih dalam tahap persiapan.

Besarnya investasi itu menandai perubahan posisi Batam di kawasan. Kota ini tidak lagi dipandang sebagai alternatif investasi, melainkan mulai diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting infrastruktur digital di Asia Tenggara.

Di balik nilai investasi yang besar, data center menjadi fondasi utama ekonomi digital modern. Berbagai layanan berbasis cloud computing, kecerdasan buatan (AI), transaksi perbankan digital, perdagangan elektronik, media sosial, hingga beragam aplikasi digital yang digunakan masyarakat setiap hari bergantung pada pusat data yang mampu beroperasi selama 24 jam tanpa henti.

Dengan semakin banyaknya investasi digital yang masuk, Batam diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat industri manufaktur, tetapi juga berkembang sebagai hub ekonomi digital yang menopang pertumbuhan teknologi di tingkat regional. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER