BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Aroma ayam krispi yang baru diangkat dari penggorengan menyeruak dari sebuah rumah sederhana di Tanjung Piayu, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Wangi gurih itu kerap menggoda siapa saja yang melintas. Dari teras rumah itulah Leni Marlini membangun kembali harapan hidupnya.
Di balik seporsi ayam goreng yang ia jual setiap hari, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang sempat kehilangan penghasilan, sebelum akhirnya menemukan jalan baru melalui usaha kecil bernama Z-Chicken.
Bagi perempuan 50 tahun itu, usaha ini bukan sekadar berjualan ayam goreng. Z-Chicken menjadi titik balik dalam hidupnya.
Sebelumnya, Leni bekerja sebagai pengawas di SPBU Pelita samping Hotel Aston Batam. Namun, suatu waktu ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sejak saat itu, kondisi ekonomi keluarganya menjadi tidak menentu karena ia tidak lagi memiliki penghasilan tetap.
“Waktu itu saya sedang tidak bekerja karena sudah keluar dari SPBU. Kondisinya tidak punya penghasilan,” tutur Leni menceritakan pengalaman hidupnya, Kamis (12/3/2026).

Kesempatan baru datang ketika ia mengetahui program pemberdayaan usaha yang dijalankan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kepulauan Riau. Melalui program Z-Chicken, Baznas memberikan bantuan usaha kuliner kepada masyarakat agar dapat membangun usaha mandiri melalui pemanfaatan zakat produktif.
Bagi Leni, kesempatan itu seperti pintu yang terbuka di saat keadaan sedang sulit.
“Saya dibantu oleh Baznas Kepri melalui Program Z-Chicken ini,” ujarnya lirih.
Program Z-Chicken merupakan salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Baznas Kepulauan Riau melalui dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat. Lembaga ini berupaya mendorong pelaku usaha kecil agar dapat membangun usaha secara mandiri melalui bantuan peralatan, bahan baku awal, serta pendampingan usaha.
Ketua Baznas Kepulauan Riau, Arusman Yusuf, mengatakan kesadaran masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi berbasis syariah juga terus meningkat. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mulai memanfaatkan skema pembiayaan syariah dalam menjalankan usaha.
“Kesadaran masyarakat untuk melakukan transaksi syariah sangat meningkat. Ini sangat bagus karena selain menghindari riba, juga mengedukasi masyarakat untuk berperilaku ekonomi sesuai nilai-nilai Islam,” kata Arusman.
Menurutnya, dana zakat yang dihimpun Baznas tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk membangun usaha produktif masyarakat.
“Baznas itu sifatnya nirlaba. Tidak ada pengembalian dan tidak ada keuntungan. Kita memberikan bantuan agar mereka bisa mengubah taraf hidupnya,” ujarnya.
Di Kepulauan Riau, Baznas juga menjalankan berbagai program pemberdayaan ekonomi lainnya. Hingga kini, lembaga tersebut telah membantu sekitar 300 gerobak usaha bagi pelaku UMKM, serta memberikan bantuan peralatan usaha seperti mesin jahit bagi masyarakat yang memiliki keterampilan tetapi tidak memiliki modal.
Melalui berbagai program tersebut, Baznas berharap masyarakat yang sebelumnya berada di lapisan ekonomi paling bawah dapat perlahan bangkit dan mandiri secara ekonomi.
Bagi Leni Marlini, program tersebut menjadi pintu untuk memulai kembali kehidupannya.
Proses untuk menjadi mitra usaha tidak terjadi secara instan. Leni terlebih dahulu mengikuti tahapan yang disiapkan oleh Baznas Kepri, mulai dari pendaftaran hingga pelatihan usaha.
Perjalanannya berlanjut dengan mengikuti acara peluncuran program Z-Chicken Kepulauan Riau yang saat itu diselenggarakan di Cafe Jamur Belian. Setelah kegiatan tersebut, para mitra mulai membuka usaha mereka masing-masing.
Leni memulai usahanya pada 9 Agustus 2024. Tak lama setelah itu, momentum besar pun datang.
Penjualan ayam krispinya melonjak pada 17 Agustus 2024, bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Penjualan booming di tanggal 17 Agustus 2024,” kenangnya.
Untuk memulai usaha, Leni menerima berbagai perlengkapan memasak dan berjualan. Ia mendapatkan steling, kuali besar, kompor, rice cooker, hingga tabung gas. Selain itu, ia juga menerima bahan baku awal seperti 300 potong ayam marinasi, minyak goreng, tepung khusus ayam krispi, serta berbagai perlengkapan kemasan.
Bahan baku ayam sendiri disediakan melalui stokis resmi Z-Chicken.
“Ayamnya wajib beli di stokis Z-Chicken di Piayu. Ayamnya sudah dimarinasi. Bahan-bahannya juga tersedia di sana. Bahkan masing-masing produk sudah memiliki sertifikat halal,” kata Leni.
Kini Leni menjalankan usaha ayam krispinya dari rumah. Ia juga kerap mengikuti berbagai kegiatan bazar untuk memperluas penjualan.
Persaingan usaha ayam krispi memang cukup ketat. Di banyak sudut kota, berbagai merek ayam goreng bermunculan. Namun, Leni tetap berusaha mempertahankan kualitas rasa agar pelanggannya tidak berpaling.
“Tantangannya itu kita harus mampu bersaing dengan banyaknya outlet yang menjual ayam krispi,” ujarnya.
Meski begitu, usaha kecil yang ia jalankan mampu bertahan dengan cukup stabil. Dari berjualan ayam krispi, Leni kini memperoleh omzet rata-rata sekitar Rp500 ribu per hari. Pendapatan itu bisa meningkat ketika ada pesanan dalam jumlah besar.
“Alhamdulillah penjualan stabil walaupun banyak saingan dengan harga yang kompetitif,” kata Leni.
Bagi Leni yang merupakan ibu tunggal dan merawat satu anak perempuan, karena ditinggal suaminya menghadap Tuhan, usaha ini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Jika sebelumnya ia tidak memiliki penghasilan, kini ia mampu menjalankan usaha sendiri.
“Saya sangat terbantu sekali dengan adanya Program Z-Chicken dari Baznas Kepri ini. Dari yang tadinya saya tidak punya penghasilan, akhirnya bisa punya usaha sendiri,” ungkapnya.
Usaha kecil yang ia jalankan juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar. Ketika mendapatkan pesanan nasi kotak dalam jumlah besar, Leni sering melibatkan ibu-ibu di sekitar rumah untuk membantu proses memasak.
Dalam beberapa kesempatan bazar, ia juga merekrut anak-anak muda di sekitar tempat tinggalnya untuk membantu menjaga stan penjualan.
Hal sederhana itu menunjukkan bahwa usaha kecil pun bisa membuka peluang bagi orang lain.
Namun, perubahan paling terasa bagi Leni bukan hanya soal pendapatan. Lebih dari itu, usaha ini mengembalikan rasa percaya diri dalam dirinya.
Dari seorang yang sempat tidak memiliki penghasilan, kini ia menjadi pemilik usaha yang menjalankan bisnisnya sendiri.
“Yang pastinya dari saya yang tidak berpenghasilan menjadi memiliki penghasilan. Ekonomi keluarga menjadi lebih baik dan saya punya usaha sendiri,” katanya.
Bagi Leni, bantuan yang ia terima bukan sekadar modal usaha. Program tersebut memberinya kesempatan untuk memulai usaha tanpa harus meminjam uang.
“Kami tidak harus meminjam modal untuk punya usaha. Kami dibantu untuk bisa membuka usaha Z-Chicken,” jelasnya.
Kini Leni menjalani hidup dengan lebih mandiri dan percaya diri. Dari dapur kecil yang selalu dipenuhi aroma ayam krispi, ia perlahan membangun kembali kehidupan keluarganya.
Seporsi ayam goreng yang ia jual setiap hari bukan sekadar makanan bagi pelanggan. Di baliknya, ada cerita tentang kesempatan, kerja keras, dan harapan yang kembali digoreng hangat dari dapur seorang ibu bernama Leni Marlini. (uly)









