BATAMSTRAITS.COM, Jakarta – Kementerian Kebudayaan menggelar Diskusi Publik pada 11 Februari 2025 untuk memaparkan sejumlah temuan teranyar terkait Situs Gunung Padang.
Diskusi publik tersebut diikuti oleh sekitar 250-an peserta yang terdiri dari berbagai elemen, termasuk peneliti, akademisi, pemerintah, ikatan profesi, jurnalis, dan komunitas.
Diskusi ini mencoba memperlihatkan bagaimana nilai-nilai penting Gunung Padang sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional mampu menjadi suatu stimulan upaya Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya. Diskusi ini juga bertujuan mempublikasikan nilai penting termutakhir berdasarkan penelitian terkini oleh para ahli di Gunung Padang.
Enam narasumber memaparkan hasil temuannya dalam acara ini, yakni arkeolog Junus Satrio Atmodjo, Dr Taqyuddin dari Departemen Geografi UI, ahli geologi gunung api Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto, ahli geologi gempa bumi BRIN Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja, peneliti Balai Arkeologi Bandung Dr. Lutfi Yondri, dan arkeolog Dr. Ali Akbar.
Taqyuddin memaparkan nilai-nilai penting Gunung Padang sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional dapat menjadi suatu stimulan dalam upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. Dengan demikian, Gunung Padang dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bukti kejayaan peradaban nusantara di masa lampau.
Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto mengatakan Gunung Padang adalah situs arkeologis dan geologis yang unik, tetapi rentan terhadap bencana alam, sehingga perlu perhatian khusus dalam pelestariannya.
Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja menemukan bahwa semua lapisan batuan kolom di bagian atas bukit Gunung Padang disusun oleh manusia dan tidak ada yang alamiah.
Dr. Lutfi Yondri mengatakan perlu dilakukan penelitian berkelanjutan untuk mengungkap lebih banyak tentang situs ini, serta mengembangkan potensi pariwisata yang dapat mendukung ekonomi lokal dan melestarikan kebudayaan Indonesia. (*)







