BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, menegaskan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan makanan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah Kota Batam.
Program ini, kata Hendri, merupakan salah satu program prioritas Presiden dan Wakil Presiden yang termasuk dalam Asta Cita keempat, yaitu memperkuat sumber daya manusia (SDM).
“Program MBG ini bertujuan meningkatkan kualitas SDM, mengatasi masalah malnutrisi dan stunting. Karena itu, program ini harus kita dukung bersama,” ujarnya saat Pembukaan SPPG di Nongsa, Rabu (22/10/2025).
Hendri menyebutkan, saat ini terdapat 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah aktif dari total target 120 hingga 125 SPPG yang direncanakan dibangun di Kota Batam.
“Khusus di Kecamatan Nongsa ada delapan SPPG. Tujuh di antaranya sudah aktif, dan satu lagi segera diresmikan. Semoga SPPG Nongsa #04 ini berjalan lancar,” ujarnya.
Menurut Hendri, penerima manfaat program ini mencakup anak-anak PAUD, serta ibu hamil dan menyusui yang menerima makanan bergizi melalui posyandu. Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan dalam proses produksi dan distribusi makanan.
“Kita belajar dari kejadian sebelumnya, seperti temuan serangga atau belatung dalam makanan. Itu harus menjadi perhatian serius. Pihak dapur harus bekerja dengan teliti agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Hendri juga meminta para guru untuk selalu memeriksa makanan sebelum dibagikan kepada anak-anak, agar tidak terjadi insiden yang merugikan. Ia mencontohkan kasus di Sagulung, di mana 18 anak mengalami gangguan kesehatan akibat makanan yang tidak layak.
“Saya turun langsung ke lokasi waktu itu. Karena itu, saya tekankan kepada seluruh SPPG, ahli gizi, dan pengelola dapur agar benar-benar menjaga safety food. Jangan sampai ada tamu tak diundang seperti lalat yang bisa menimbulkan masalah,” katanya.
Ia mengingatkan agar jarak antara dapur produksi dan penerima makanan tidak terlalu jauh, serta menu yang disajikan harus menyesuaikan kondisi bahan pangan yang tersedia.
“Pernah juga di Sagulung, menu karbohidrat diganti dari nasi ke kentang, tapi kentangnya kekecilan. Itu harus disesuaikan agar tetap sesuai standar gizi,” ujarnya.
Hendri menambahkan, pelaksanaan program MBG di Batam dilakukan enam hari dalam seminggu, berbeda dari kebijakan awal nasional yang lima hari.
“Untuk hari Sabtu, makanan dititipkan pada hari Jumat dalam bentuk makanan kering,” ujarnya.
Dengan adanya pengawasan ketat dan penerapan standar operasional yang baik, Hendri berharap program MBG dapat berjalan optimal dan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak Batam. (uly)







