BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di sebuah ruangan sederhana di lantai dua Panti Asuhan Rhaudatussyafa Madani, tawa anak-anak terdengar riang. Mereka berkerumun, berebut mendekat ke arah seorang pria muda berkulit sawo matang yang mengenakan kaos hitam dan topi abu-abu.
Dialah Kai Emilio, pemuda 26 tahun asal Singapura yang belakangan menjadi buah bibir di Batam karena aksi sosialnya. Bagi sebagian orang, pertemuan lintas negara mungkin hanya urusan bisnis atau liburan.
Namun bagi Kai, kunjungan ini adalah tentang rasa. “Aku cuma ikut kemampuan. Apa yang aku rasa itu momen, aku buat saja. Apa yang kita kasih pun itu Allah yang kasih, bukan kita punya,” katanta pelan, sambil menyalami anak-anak satu per satu.
Hari itu, Senin (4/8/2025), Kai datang bersama istri dan beberapa temannya. Mereka tak hanya membawa sembako dan makanan, tapi juga sebuah janji, membangun satu kamar tambahan di lantai tiga panti.
Janji yang lahir spontan setelah mendengar cerita keterbatasan tempat tidur dari sang pengasuh.
“Kami sering buat kegiatan sosial, dan semuanya pakai dana pribadi. Ini bukan soal pencitraan atau konten, tapi soal niat ikhlas,” kata pemilik akun TikTok dan Instagram @kaiemilio.fg yang akrab dijuluki “Sultan Singapore” itu.

Kai mengaku Batam memberinya rasa nyaman yang berbeda. “Saya banyak teman di sini. Rasanya kayak rumah sendiri. Kalau di negara lain saya belum ada kenalan. Jadi kalau buat kegiatan sosial, hati saya lebih tenang,” tuturnya.
Di sudut ruangan, Sahuri, Ketua Yayasan Rhaudatussyafa Madani, menatap dengan mata berkaca-kaca. Baginya, bantuan Kai adalah jawaban dari doa panjang.
“Alhamdulillah, beliau langsung bersedia bangun satu kamar lagi. Ini sangat membantu. Selama ini, kamar yang ada cuma bisa tampung delapan anak, padahal idealnya satu kamar bisa untuk 15 anak,” ujarnya.
Panti yang berdiri sejak 2023 itu kini menampung delapan anak berusia di atas enam tahun. Ada yang yatim, ada pula yang putus sekolah.
Salah satunya remaja dari Batuaji yang akan kembali disekolahkan. “Dengan kamar baru, semoga makin banyak anak yang bisa tinggal dan mendapat pendidikan layak,” kata Sahuri.
Bagi Kai, semua ini hanyalah awal. Ia ingin tetap terhubung dengan anak-anak panti, melihat mereka tumbuh, dan mungkin kembali membantu di lain waktu.
“Kita tak harus kaya untuk berbagi. Cukup punya niat dan rasa peduli. Selebihnya, Allah yang atur,” ucapnya sambil tersenyum.
Dan di sore itu, di antara gelak tawa dan cerita sederhana, batas antara Singapura dan Batam seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah rasa kemanusiaan dan keyakinan bahwa kepedulian tak mengenal jarak. (uly)










