BATAMSTRAITS.COM, Jakarta – Peredaran “A Business Proposal” di bioskop kian mengalami penurunan drastis. Berdasarkan penelusuran di tiga jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema XXI, Cinepolis, dan CGV, pada Rabu (11/2), film adaptasi webtun Korea berjudul sama itu hanya tersisa tayang di enam bioskop di seluruh Indonesia.
Angka itu hanya segelintir jika menengok data jumlah bioskop dan layar di Indonesia. Menurut Badan Perfilman Indonesia per Februari 2024, bioskop Indonesia tersebar di 517 lokasi dan memiliki total 2.145 layar.
Layar “A Business Proposal” yang tersisa itu tersebar di wilayah Jabodetabek. Jaringan Cinema XXI menyisakan dua bioskop di Jakarta dan satu bioskop di Bekasi yang masih menayangkan “A Business Proposal”.
Jaringan CGV masih menayangkan film itu di tiga bioskop mereka hari ini, masing-masing di Jakarta, Depok, dan Bekasi. Di sisi lain, Cinepolis sudah tidak menayangkan film itu lagi di jaringan mereka.
Jumlah penayangan “A Business Proposal” yang tersisa di enam bioskop itu merosot tajam dibandingkan layar film tersebut pada Selasa (11/2). Kala itu, “A Business Proposal” sebelumnya masih tersedia di 52 bioskop dari tiga jaringan raksasa yang tersebar di 24 kota seluruh Indonesia.
Penyusutan layar itu tak lepas dari perilisan film blockbuster “Captain America: Brave New World”. Film terbaru Marvel Cinematic Universe (MCU) itu tampaknya mengilas jumlah layar “A Business Proposal” dan menguasai bioskop pada tengah pekan ini.
Penurunan layar itu merupakan imbas dari angka penonton “A Business Proposal” yang melempem pada dua hari pertama. Sebab, nasib layar untuk film-film yang tayang di bioskop bergantung kepada capaian penonton pada hari sebelumnya.
Pekan perdana penayangan juga menjadi momen krusial dalam perilisan di bioskop. Jika angka penonton “A Business Proposal” tak kunjung bangkit, film itu pun berpotensi turun layar dalam waktu singkat.
Kemungkinan turun layar itu pun menjadi semakin besar jika tren film lain meningkat, seperti “Petaka Gunung Gede” hingga “1 Kakak 7 Ponakan” yang masih mendulang angka penonton.
Situasi ini terjadi setelah berbagai penikmat konten Korea Selatan, terutama penggemar drama “A Business Proposal”, menyerukan “cancel” atau boikot terhadap film tersebut akibat perilaku Abidzar yang menuai kontroversi. (*)










