BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Jaringan gas milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Batam sepanjang 273 kilometer menjadi salah satu infrastruktur paling vital yang menopang aktivitas industri, pembangkit listrik, hingga kebutuhan rumah tangga di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Gangguan pada satu titik jalur utama bahkan berpotensi memicu efek berantai berupa pemadaman listrik, terganggunya distribusi air bersih, layanan internet, hingga pasokan gas ke ribuan pelanggan.
Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan jaringan tersebut merupakan tulang punggung distribusi energi yang beroperasi selama 24 jam untuk melayani berbagai kawasan strategis di Batam.
“Sistem ini bukan sekadar pipa bawah tanah biasa. Ini merupakan jaringan utama yang sangat vital. Tidak boleh terganggu,” ujar Wendi saat ditemui KE Groups di ruang kerjanya, Selasa (7/7/2026)
Diakuinya gas yang dialirkan melalui jaringan utama terlebih dahulu diturunkan tekanannya dari sekitar 40 bar menjadi 16 bar sebelum didistribusikan kepada pelanggan, baik kawasan industri, pembangkit listrik maupun jaringan rumah tangga.
Menurut Wendi, kerusakan pada jalur pipa utama akan berdampak besar terhadap sistem distribusi energi di Batam. Pasokan gas menuju pembangkit listrik dapat terhenti sehingga memicu pemadaman listrik dalam skala luas.
Proses pemulihan juga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
“Bila pipa utama ini terganggu, proses perbaikannya tidak bisa dilakukan dalam hitungan jam. Seluruh jaringan harus dikosongkan terlebih dahulu dan itu bisa memakan waktu hingga sekitar satu minggu,” jelasnya.
Dampak gangguan tersebut tidak hanya dirasakan sektor industri. Pemadaman listrik juga akan menghentikan operasional pompa distribusi air bersih, mengganggu layanan internet, serta membuat ribuan rumah tangga kehilangan pasokan gas untuk memasak.
“Kalau listrik mati, pompa air berhenti. Internet ikut terganggu. Aktivitas masyarakat bisa lumpuh karena semuanya saling terhubung,” katanya.
Saat ini, jaringan gas PGN Batam menghubungkan berbagai kawasan strategis, di antaranya Muka Kuning, Batu Ampar, Simpang menuju kawasan industri, Kabil, Eco Green, hingga kawasan sekitar Bandara Hang Nadim. Sejumlah pembangkit listrik utama yang berada di kawasan Kabil juga bergantung pada pasokan gas dari jaringan tersebut.
Karena itu, PGN mengingatkan setiap pekerjaan konstruksi maupun penggalian di sekitar jalur pipa agar dilakukan dengan pengawasan ketat guna menghindari kerusakan terhadap infrastruktur bawah tanah yang memiliki nilai strategis tersebut.
Di sisi lain, PGN terus memperluas jaringan distribusi gas di Batam. Pada 2026, pengembangan difokuskan ke sejumlah kawasan yang selama ini belum terlayani, termasuk wilayah sekitar Bandara Hang Nadim dan kawasan permukiman baru yang pertumbuhannya semakin pesat.
Perluasan jaringan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi Batam sebagai pusat industri, logistik, dan investasi nasional.
Dengan jaringan sepanjang 273 kilometer yang beroperasi tanpa henti, infrastruktur gas PGN menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi Batam.
Di balik pesatnya pembangunan kota, jaringan bawah tanah itu terus mengalirkan energi bagi kawasan industri, pembangkit listrik, dan rumah tangga sehingga roda perekonomian tetap bergerak sepanjang waktu. (uly)










