BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menilai tingginya arus migrasi masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan bahwa persoalan migrasi di Batam sebenarnya sudah terjadi sejak awal pengembangan kota ini sebagai kawasan industri.
Menurut Amsakar, aksesibilitas dan konektivitas yang sangat terbuka menjadi penyebab utama tingginya mobilitas penduduk. Jalur udara yang menghubungkan Batam dengan berbagai daerah, mulai dari Papua, Sulawesi, Surabaya, Jakarta, hingga Medan dan Aceh, memungkinkan perpindahan penduduk terjadi hanya dalam satu hari perjalanan. Selain itu, jalur laut juga menyediakan banyak pilihan kapal dari berbagai daerah.
“Setiap pasca Natal atau Lebaran, kapal-kapal selalu penuh penumpang. Itu menandakan bahwa ruang untuk datang ke Batam itu sangat terbuka,” ujar Amsakar, Selasa (9/12/2025).
Amsakar menyampaikan imbauan kepada masyarakat luar daerah, terutama yang berniat mencari pekerjaan di Batam. Ia meminta mereka untuk menyiapkan keterampilan personal terlebih dahulu agar tidak mengalami kesulitan setibanya di Batam.
Amsakar juga menjelaskan, grafik migrasi ke Batam cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, meskipun bersifat fluktuatif. Namun, peningkatan tersebut bersamaan dengan beberapa tantangan lain yang kini dihadapi daerah.
“Kita sedang mengalami transformasi dari industri padat karya ke padat modal, sehingga serapan tenaga kerjanya semakin kecil. Di sisi lain, arus migrasi masih tinggi, sementara penduduk usia produktif lokal juga terus bertambah,” kata Amsakar.
Ia menambahkan, setiap tahun terdapat lebih dari seribu lulusan tingkat SD, SMP, dan SMA yang harus bersiap memasuki dunia kerja atau mencari peluang baru. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak bagi pemerintah untuk memperkuat pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
“Ini hal yang sifatnya kumulatif. Karena itu, harus ada ikhtiar serius untuk memberikan pelatihan terhadap tenaga tenaga produktif kita,” tegasnya. (uly)







