Monday, April 20, 2026
HomeBisnisDPRD Kepri: Harga Tiket Pesawat Tinggi Karena Avtur Impor, Subsidi Tak Terasa

DPRD Kepri: Harga Tiket Pesawat Tinggi Karena Avtur Impor, Subsidi Tak Terasa

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Memasuki Desember 2025, harga tiket pesawat semakin meningkat. Hal ini terlihat disejumlah aplikasi penjulan tiket pesawat, seperti Traveloka dan Tiket.com.

Terlihat mulai dari 8 Desember, tujuan Batam tujuan Medan, harga tiket pesawat mencapai Rp 1 jutaan. Padahal hari-hari sebelumnya masih Rp 800 hingga Rp 900 ribuan.

Tak hanya tujuan Medan, terlihat juga dari Batam ke Jakarta mencapai Rp 1,3 juta sejak 5 Desember. Padahal keberangkatan hari sebelumnya diangka Rp 900 ribu hingga satu juta.

Kenaikan harga tersebut terlihat hingga Januari 2026 mendatang. Terutama dimusim libur natal dan tahun baru (Nataru).

Sebelumnya pemerintah pada akhir tahun ini kembali memberikan program diskon tiket pesawat. Hal ini mengingat tingginya harga tiket dan juga untuk mendongkrak daya beli masyarakat pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Penurunan harga tiket ini berlaku untuk tiket domestik kelas ekonomi periode penerbangan 22 Desember hingga 10 Januari 2026, dengan periode pembelian 22 Oktober hingga 10 Januari 2026.

BACA JUGA:   Sembilan Pasar Di Kota Batam Raih Penghargaan Pasar Tertib Ukur

Pemerintah memberikan diskon tarif tiket pesawat dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71 Tahun 2025 yang memberikan insentif pajak pertambahan nilai atau PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk atas jasa angkutan udara. Berikut :

-Diskon tiket pesawat berkisar 13%-14% dari harga tiket, yang merupakan akumulasi dari berbagai komponen penurunan biaya.

-Diskon akan diberikan kepada sekitar 3,59 juta penumpang.

-Terdapat kebijakan perpanjangan jam operasi bandar udara, untuk memperkuat kelancaran mobilitas selama masa liburan.

Terpisah, Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Wahyu Wahyudin, menyoroti tingginya harga tiket pesawat yang hingga kini belum menunjukkan penurunan signifikan meskipun pemerintah telah mengklaim memberikan subsidi. Ia menyebut, kondisi di lapangan justru tidak memperlihatkan adanya dampak dari subsidi tersebut.

Menurut Wahyu, salah satu faktor yang menyebabkan harga tiket tetap tinggi adalah mahalnya harga avtur di Indonesia. Hal itu terjadi karena avtur masih bergantung pada impor. “Pemerintah memberikan subsidi karena harga avtur kita tinggi. Kalau mau murah, Pertamina harus bisa memproduksi avtur sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA:   Amsakar: Pengelolaan Dana BOS Harus Tepat Sasaran dan Bermanfaat bagi Siswa

Ia menjelaskan, hingga saat ini Pertamina belum memproduksi avtur untuk kebutuhan penerbangan dalam negeri. Karena itu, DPRD Kepri mendorong agar Pertamina dapat segera memproduksi avtur untuk pesawat, termasuk BBM untuk kapal, agar harga dapat lebih kompetitif.

Wahyu juga membandingkan harga tiket di Indonesia dengan rute internasional. Ia menyebut rute Jakarta–Singapura atau Jakarta–Malaysia justru lebih murah dibanding Jakarta–Batam.

“Di luar negeri harga avtur lebih murah karena mereka memproduksi sendiri dan pembeliannya langsung, tidak lewat perantara. Di Indonesia sepertinya masih ada beberapa perantara sehingga harga avtur tetap tinggi,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah pusat dapat lebih serius menangani persoalan avtur agar biaya transportasi udara dapat ditekan.

“Jika masalah ini ditangani dengan baik, pertumbuhan ekonomi akan semakin maju. Transportasi udara sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” tegasnya.

spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER