BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai donor darah utuh sudah cukup tinggi, namun donor plasma masih awam terdengar. Padahal, plasma darah menyimpan peran krusial dalam menyelamatkan nyawa pasien dengan kondisi medis kompleks, seperti hemofilia dan imunodefisiensi primer.
Momen International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 yang berlangsung pada 5-9 Oktober 2026 dengan tema “Plasma Powers Possibility” dijadikan ajang bagi Takeda bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) serta lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi. Langkah ini ditujukan demi membangun ekosistem plasma yang aman, andal, dan berkelanjutan di tanah air.
Plasma merupakan komponen terbesar dalam darah manusia, yakni mencakup sekitar 55% dari volume darah. Di dalamnya terkandung berbagai jenis protein vital seperti albumin, antibodi (imunoglobulin), serta faktor pembekuan. Komponen ini merupakan bahan baku utama pembuatan Produk Obat Derivat Plasma (PODP).
Berbeda dari pengolahan obat sintetis, PODP murni berasal dari manusia. Keberlanjutan pasokannya sangat bergantung pada kesadaran dan kontribusi para donor.
Dalam prosesnya, pengambilan plasma memanfaatkan teknologi apheresis. Alat ini secara otomatis memisahkan plasma dari komponen darah lainnya, lalu mengembalikan komponen sisanya ke dalam tubuh donor. Plasma yang terkumpul inilah yang kemudian diproses menjadi terapi bagi pasien hipoalbuminemia, kelainan darah, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS, menegaskan pentingnya kolaborasi multisektor. Penguatan ekosistem plasma tidak bisa berdiri sendiri, melainkan butuh keterlibatan aktif pemerintah, fasilitas kesehatan, unit layanan darah, komunitas, donor, hingga sektor industri.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PHTDI dan PERHOMPEDIN, Dr. dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menekankan pentingnya ketersediaan PODP yang terjamin secara mutu, keamanan, serta bukti klinisnya untuk pengobatan jangka panjang. Peran tenaga kesehatan menjadi kunci untuk memastikan pengembangan ekosistem ini tepat sasaran bagi kebutuhan pasien.
Dari kacamata pencegahan penyakit, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyoroti pentingnya keterhubungan antara penguatan ekosistem plasma dengan kesadaran masyarakat. Kesadaran tiap individu dalam berdonor berbanding lurus dengan keberlanjutan tatalaksana perawatan pasien hemofilia maupun imunodefisiensi.
Keberlanjutan pasokan plasma diawali dari proses pengambilan yang aman. dr. Linda Lukitari Waseso dari PMI Pusat menyampaikan bahwa ketersediaan donor yang memenuhi syarat serta kesiapan layanan darah menjadi benteng utama dalam mendukung pemenuhan PODP nasional.
Sisi edukasi juga terus didorong oleh komunitas. Mila Rahmania dari Yayasan Laskar Aferesis Berbagi (YLAB) mengungkapkan bahwa masyarakat akan lebih tergerak berpartisipasi jika memahami dampak nyata dari donor yang mereka lakukan. Pendekatan yang ramah, pengalaman donor yang nyaman, serta apresiasi yang tepat menjadi kunci partisipasi berkelanjutan.
Pentingnya ketersediaan PODP dirasakan langsung oleh para penyandang kondisi medis khusus:
• Hemofilia B Berat: Yusnidar Patah dari Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) membagikan tantangannya dalam mengakses perawatan yang tepat waktu di berbagai daerah Indonesia. Kehadiran ekosistem plasma yang kuat sangat dibutuhkan agar terapi tidak terputus.
• Imunodefisiensi Primer: Dimas Adhi Sugiharto dari Yayasan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia (YPIPI) menegaskan bahwa imunoglobulin dari plasma adalah kebutuhan utama agar pasien terlindung dari infeksi berat yang mengancam jiwa. Kepastian pasokan yang terjangkau dan terakses merata adalah kunci kualitas hidup mereka.
Komitmen Takeda dan BioLife di Indonesia
Sebagai perusahaan biofarmasi global berlandaskan R&D asal Jepang, Takeda membawa pengalaman internasionalnya untuk mendukung ketahanan kesehatan di Indonesia. Lewat jaringan BioLife Plasma Services yang telah mengoperasikan lebih dari 270 sentra plasma di Amerika Serikat dan Eropa, Takeda bersiap membuka sentra pengambilan plasma di Indonesia dengan standar mutu dan keamanan tinggi.
Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht, menyatakan komitmen penuh Takeda untuk mendukung prioritas kesehatan jangka panjang pemerintah Indonesia. Langkah ini sejalan dengan rekam jejak Takeda yang telah lebih dari 50 tahun berkontribusi dalam dunia kesehatan di Indonesia sejak 1971.
Melalui momentum IPAW 2026, keterlibatan seluruh rantai ekosistem mulai dari donor, tenaga medis, komunitas, hingga industri diharapkan dapat mewujudkan layanan kesehatan yang mandiri dan berkelanjutan demi kualitas hidup pasien yang membutuhkan. (uly)










