Friday, November 6, 2026
HomeBatamMenjejak Perigi Tua 2 di Penyengat, Cerita Kehidupan Melayu yang Tak Pernah...

Menjejak Perigi Tua 2 di Penyengat, Cerita Kehidupan Melayu yang Tak Pernah Kering

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Sukses menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III di Kota Batam pada 4–5 November 2026, rombongan Dewan Pimpinan Pusat dan anggota Pro Jurnalismedia Siber (PJS) melanjutkan agenda penting mereka ke bumi berbudaya. Pada Jumat (6/11/2026) siang, rombongan menyeberak menuju Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Kunjungan istimewa ini merupakan bagian dari agenda pengenalan sejarah dan budaya Melayu bagi keluarga besar PJS yang hadir langsung atas undangan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad. Setibanya di pulau bersejarah tersebut, rombongan langsung disambut dan dipandu berkeliling oleh Tokoh Masyarakat Penyengat, Raja Malik Bin Raja Hamzah.

Pulau Penyengat dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini menyimpan nilai sejarah yang sangat penting bagi perjalanan peradaban Melayu Nusantara. Sebagai salah satu pusat penting Kesultanan Riau-Lingga di masa lampau, pulau ini kaya akan peninggalan sejarah, tradisi, serta warisan budaya yang hingga kini masih berdiri dan terpelihara dengan baik.

Selama kunjungan, rombongan PJS berkesempatan melihat langsung sejumlah situs bersejarah yang menyimpan cerita masa silam. Salah satu titik yang menarik perhatian adalah Perigi Tua 2, sebuah sumur bersejarah yang berada tepat di depan Masjid Raya Sultan Riau, Kampung Jambat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota.

BACA JUGA:   952 Warga Batam Gangguan Jiwa Berat, Kebanyakan Laki-Laki

Berdasarkan papan informasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Perigi Tua 2 merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari kekayaan cagar budaya di Pulau Penyengat. Papan informasi tersebut menjelaskan bahwa belum diketahui secara pasti kapan sumur tersebut pertama kali dibangun. Meski demikian, masyarakat mengenalnya dengan sebutan Sumur Raja Men karena letaknya yang berdampingan langsung dengan kediaman Raja Muhammad Men.

Keberadaan sumur tua ini sering kali luput dari pandangan wisatawan umum yang datang berkunjung.

“Mungkin banyak wisatawan yang melewatkan tempat ini, karena fokus pada Masjid Sultan,” ujar Yudiar, salah seorang anggota PJS, saat mengamati situs tersebut.

Padahal, keberadaan Perigi Tua 2 merupakan saksi bisu perjalanan kehidupan masyarakat Melayu pada masa lampau. Lebih dari sekadar berfungsi sebagai sumber air bersih, sumur tua ini menyimpan lembaran cerita tentang dinamika kehidupan sosial masyarakat sekaligus lingkungan kerajaan pada zamannya. Menariknya, di tengah usia yang tidak lagi muda, kondisi air di dalam sumur tersebut masih terlihat jernih.

BACA JUGA:   38 Pegawai BP Batam Ikuti Pelatihan Teknis SMKU 2024

Terpasangnya beberapa pompa air di bagian atas sumur juga menandakan bahwa peninggalan bersejarah ini masih dimanfaatkan dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar hingga saat ini.

Di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman yang serba cepat, keberadaan Perigi Tua 2 menjadi pengingat berharga bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan istana yang megah atau benda-benda kebesaran kerajaan. Terbukti, sebuah sumur tua pun mampu merangkkai cerita panjang mengenai napas kehidupan, peradaban, dan kebudayaan masyarakat di masa lalu.

Bagi rombongan PJS, lawatan ke Pulau Penyengat ini bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjelma menjadi ruang refleksi untuk mengenal lebih dekat akar sejarah dan kebudayaan Melayu yang menjadi pilar utama identitas masyarakat Kepulauan Riau.

Warisan sejarah seperti Perigi Tua 2 patut untuk terus dijaga, dirawat, dan dilestarikan bersama. Merawat peninggalan masa lalu pada hakikatnya bukan sekadar mempertahankan fisik bangunan atau situs purbakala, melainkan juga menjaga ingatan kolektif dan jati diri budaya agar tetap hidup, bernapas, serta diwariskan kepada generasi mendatang.

BACA JUGA:   3.707 Warga Telah Jalani CKG di 21 Puskesmas di Batam

Melalui kunjungan ini, diharapkan keluarga besar PJS dapat semakin mendalami kekayaan sejarah dan budaya Melayu, sekaligus mengambil peran aktif dalam menyuarakan pentingnya pelestarian warisan budaya melalui karya-karya jurnalistik yang mencerahkan.

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER