BATAMSTRAITS.COM, LINGGA – Suara hentakan kayu terdengar berulang dari sebuah rumah panggung di Kompleks Istana Damnah, Daik, Kecamatan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Bunyi itu datang dari alat tenun yang digerakkan oleh tangan-tangan terampil para perempuan di Rumah Tenun Lingga.
Di antara deretan benang berwarna putih, hitam, kuning, hijau dan merah, mereka terlihat duduk tekun menyelesaikan helai demi helai kain. Gerakannya sederhana, tapi membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Setiap helai benang ditempatkan dengan teliti. Setiap motif membutuhkan ketekunan. Setiap kain menyimpan waktu dan keterampilan pembuatnya.

Melahirkan satu lembar kain tenun, mereka bisa menghabiskan waktu hingga 15 hari. Dalam sebulan, rata-rata hanya dua lembar kain yang dapat diselesaikan, tidak ada proses serba cepat.
Ketua Rumah Tenun Lingga, Ismawati(48) mengaku tidak sejak awal memiliki hobi menenun. Ketertarikannya tumbuh setelah berulang kali mengikuti pelatihan.
“Lama-lama saya menjadi suka, apalagi hasilnya memiliki nilai ekonomis,” ujar ibu dua orang anak ini, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya menenun bukan lagi sekadar aktivitas untuk mempertahankan sebuah kebiasaan. Tetapi mulai menjadi sumber penghasilan sekaligus peluang usaha.
Di Rumah Tenun Lingga, ada lima unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang digunakan untuk mendukung produksi. Peralatan tersebut merupakan dukungan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (KPwBI Kepri).
Bantuan itu datang ketika kebutuhan produksi mulai berkembang. Sebelumnya, Rumah Tenun Lingga hanya memiliki satu alat tenun yang kini sudah tidak dapat digunakan.
“Alhamdulillah hasil tenun kami meningkat. Pesanan pun meningkat. Banyak tamu yang datang, kita ada terus produksi. Mesin yang lama kita simpan dibelakang,” tutur Ismawati.
Belakangan ini, kunjungan dari Malaysia terus berdatangan. Bahkan, pesanan dari negeri jiran itu masih harus diselesaikan hingga akhir tahun. Masih ada sekitar 20 lembar kain yang menunggu untuk dikerjakan.

Bagi pengrajin, pesanan tersebut bukan sekadar angka penjualan. Ada kebanggaan ketika kain yang dikerjakan dengan tangan di sebuah rumah panggung di Daik bisa dikenakan dan dikenal hingga ke luar negeri.
Setiap kain memiliki cerita sendiri. Motif yang digunakan tidak dibuat sembarangan. Ada tampok manggis, cendawan, awan larat, tampok kesemak, cengkeh, bunga tanjung hingga pucuk rebung.
Motif-motif tersebut merupakan bagian dari ragam hias yang tumbuh dalam kebudayaan Melayu. Para pengrajin mendapatkan referensi dari buku-buku kebudayaan kemudian mengembangkan dan memvariasikan motif yang sudah ada.
“Sejarah setiap motif tak ade (ada), tapi itulah ragam motif di alam Melayu termasuk yang digunakan di Kabupaten Lingga,” tutur Ismawati.
Salah satu yang menjadi ciri khas Rumah Tenun Lingga adalah motif telepuk. Motif tersebut dibuat dengan teknik cap yang rapat dan digunakan dalam kain khas Lingga.
“Kain ini khas motif Lingga dan ada di Museum Lingga dan biasa dipakai untuk laki-laki,” katanya.

Kain-kain tersebut tidak hanya berhenti di ruang produksi. Harganya berkisar Rp2,8 juta hingga Rp5 juta per lembar, tergantung motif dan jenis kain.
Rumah Tenun Lingga juga mulai memfokuskan produksi pada tenun songket untuk kain samping adat Melayu. Selain menerima pesanan kain untuk bahan pakaian.
Di luar, berdiri jejak Kesultanan Riau Lingga yang pernah menjadikan Daik sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Melayu. Di dalamnya, tradisi yang diwariskan dari masa lalu terus dihidupkan melalui benang dan motif yang dirangkai menjadi kain.
Inilah wajah Lingga sebagai “Bunda Tanah Melayu”. Warisan masa lalu tidak hanya disimpan dalam bangunan bersejarah, cerita, atau buku-buku kebudayaan, tetapi juga terus dikerjakan oleh tangan-tangan masyarakatnya.
Perjalanan Rumah Tenun Lingga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan penguatan ekonomi sebenarnya bukan dua hal yang harus dipisahkan. Ketika warisan budaya diberi ruang untuk berkembang, ia dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru.
Pemerhati sejarah dan budaya Lingga, Lazuardi mengatakan kain tenun juga telah mendapatkan pengakuan hak kekayaan intelektual pada tahun 2010 sebagai milik Kabupaten Lingga. Makna dari kain telepuk yakni menelepuk atau memberikan motif pada kain menggunakan kertas emas dengan cap.
Dalam tradisi berpakaian di Lingga, kain telepuk dipakai untuk acara adat istiadat, seperti untuk pengantin bersanding dan menghadiri majelis upacara adat.
Lazuardi mengatakan tenun berkembang dan mengalami masa kejayaan di Daik Lingga pada masa Kesulatanan Muhammadsyah yang memerintah pada tahun 1832 M sampai dengan 1841 M. Dia terkenal dengan sebutan Almarhum Kedaton.
Alat pemintal benang kuno juga bisa dilihat dan menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya Daik. Lazuardi menerangkan, bukti bekas peninggalan yang berhubungan dengan tenun menurut sumber lisan masyarakat terlihat pada kampung-kampung seperti Siak, Mentok, Bugis dan lain-lain. Ada simpanan koleksi masyarakat, yang meyakini tenun kain pelekat siak, becual mentuk, kain bugis di Kampung Bugis, Daik.

“Akan tetapi tenun sangat berkembang pesat semasa Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1885-1911) Sultan Lingga. Terakhir tenun terus bergeliat hingga Kolonial Belanda. Itu dibuktikan bahwa Encik Syamah seorang ahli tenun di Daik serta sering juga dipanggil Makteh Syalmah,” terang Lazuardi.
Namun kegiatan menenun sudah mulai ditinggalkan masyarakat Lingga semenjak masa pendudukan Jepang yang membuat masyarakat sangat ketakutan.
“Tapi sekarang, Alhamdulillah melalui Pemerintah Kabupaten Lingga bersama Bank Indonesia tenun ini dimunculkan lagi dan dihadirkan lagi bersama tekad tidak lain dan tidak bukan untuk mengembalikan kejayaan khazanah masa lampau di Kesultanan Riau Lingga yang berpusat di Daik Lingga,” kata Lazuardi.
Hal inilah yang membuat Bank Indonesia menciptakan berbagai program pengembangan untuk UMKM di Provinsi Kepulauan Riau. Rumah Tenun Lingga menjadi salah satu dari UMKM unggulan.
Tak hanya bantuan alat, Rumah Tenun Lingga juga mendapat kesempatan mengikuti berbagai kegiatan peningkatan kapasitas. Bagi Ismawati, kegiatan-kegiatan tersebut membuka pengalaman baru.
Adapun kegiatannya, Gebyar Melayu Pesisir (GMP) di Batam, Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, workshop pengembangan tenun hingga program digitalisasi dan pengembangan pasar.
“Dengan adanya kegiatan BI ini kami dapat banyak ilmu, pengalaman, wawasan yang lebih luas. Terimakasih BI,” katanya.
Pada Senin (14/9/2026) hingga Minggu (20/9/2026) lalu kain Rumah Tenun Lingga dipamerkan dalam ajang Gebyar Melayu Pesisir (GMP) ke-7 di K-Square, Kota Batam, Provinsi Kepri. Pihaknya memamerkan sebanyak 8 lembar kain songket dengan berbagai motif.

Selain itu, Rumah Tenun Lingga juga salah satu UMKM yang dibawa KPwBI Kepri ke berbagai kegiatan, termasuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Bahkan tidak sendiri, sebanyak 23 UMKM unggulan Kepri yang telah melalui proses kurasi ikut dibawa. Produk yang ditampilkan beragam, mulai makanan dan minuman, fesyen, kerajinan, hingga home decor.
Di sana, produk lokal tidak hanya dipajang. Ia dipertemukan dengan konsumen, pelaku usaha, pembeli, hingga calon mitra dari berbagai daerah dan negara.
Hasilnyapun mulai terlihat. Hingga 23 Agustus 2026, nilai penjualan sementara KKI mencapai Rp177,2 miliar. UMKM Kepri menyumbang Rp5,3 miliar dari capaian tersebut.
Capaian KKI 2026 secara keseluruhan meningkat 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih menarik, peluang pasar tidak berhenti pada transaksi domestik.
Business matching ekspor mencapai Rp169,9 miliar, melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara. Sementara business matching pembiayaan mencapai Rp285 miliar, meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
Angka-angka tersebut memperlihatkan satu hal, UMKM daerah memiliki peluang untuk tumbuh lebih jauh ketika produk, kapasitas, akses pasar, dan pembiayaan dibangun secara bersamaan.
Bagi Rumah Tenun Lingga, perjalanan itu mungkin dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana sebuah alat tenun dan sehelai benang. Namun dari sanalah sebuah warisan bisa bergerak lebih jauh.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P. menyebut penguatan UMKM ke depan bertumpu pada tiga semangat, bangkit, tangguh dan berdaya saing.
Bangkit berarti membantu UMKM pulih dan tetap bertahan menghadapi berbagai tantangan. Tangguh dibangun melalui struktur usaha yang lebih kuat dan akses pembiayaan yang berkelanjutan.
Sementara berdaya saing berarti mendorong pelaku usaha terus berinovasi dan membuka pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pemberian alat produksi.
Program lain juga diarahkan untuk memperkuat fondasi usaha, mulai dari onboarding UMKM digital, export coaching program, business matching ekspor, edukasi dan pendampingan sertifikasi halal, hingga business matching pembiayaan dengan perbankan.
Pendekatan semacam ini menjadi penting bagi Kepulauan Riau. Posisinya sebagai kawasan perbatasan sekaligus pusat perdagangan, industri, pariwisata, dan ekonomi kreatif membuat UMKM memiliki peluang pasar yang jauh lebih besar dibanding sekadar pasar lokal.
Tetapi peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika produk lokal memiliki kualitas, kapasitas produksi, kemasan, legalitas, serta kemampuan memenuhi permintaan pasar yang lebih luas. Di titik inilah warisan budaya bertemu dengan transformasi ekonomi.
Ketika produk massal dapat dibuat dalam jumlah besar dan waktu singkat, kain tenun menawarkan sesuatu yang berbeda, yaitu identitas.
BI membawa nama Lingga, membawa ragam hias Melayu, membawa keterampilan yang diwariskan dan terus dikembangkan. Karena itu, menjaga tenun bukan semata-mata mempertahankan masa lalu.
Ia juga tentang menciptakan alasan agar generasi berikutnya masih mau belajar menenun. Tentang membuat anak-anak muda melihat bahwa kebudayaan bukan hanya sesuatu yang harus dihormati, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Dari sebuah rumah panggung di kawasan bersejarah Daik, benang-benang Melayu dirajut menjadi kain. Dari kain itu lahir nilai ekonomi.
Dari pendampingan, lahir keberanian untuk membuka pasar. Dan dari pasar, terbuka peluang untuk membawa identitas Lingga menyeberangi batas wilayah.
Kini, ketika pesanan dari Malaysia masih terus berdatangan dan produk UMKM Kepri semakin sering diperkenalkan di panggung nasional, suara hentakan ATBM di Rumah Tenun Lingga terdengar seperti penanda bahwa warisan itu belum selesai.
Ia masih bekerja, masih tumbuh. Dan perlahan, sedang menenun jalannya sendiri menuju dunia. Dari karya lokal menuju pasar global. (uly)










