Tuesday, August 11, 2026
HomeKepriLingga6.800 Koleksi Museum Linggam Cahaya, Jejak Kesultanan Riau-Lingga

6.800 Koleksi Museum Linggam Cahaya, Jejak Kesultanan Riau-Lingga

BATAMSTRAITS.COM, LINGGA – Jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga masih tersimpan di Pulau Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Bukan hanya melalui bangunan atau cerita sejarah, warisan itu juga dapat ditelusuri melalui ribuan benda yang kini menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya.

Berada di Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, museum tersebut menyimpan sekitar 6.800 koleksi yang menggambarkan perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat Melayu, hingga perkembangan teknologi dari masa ke masa.

Menariknya, sebagian besar koleksi museum justru berasal dari masyarakat. Benda-benda bersejarah itu diserahkan melalui hibah sebagai bagian dari upaya bersama menjaga warisan budaya di daerah yang pernah menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga tersebut.

Staf Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardy, mengatakan koleksi Museum Linggam Cahaya sebagian besar merupakan hibah masyarakat yang dikumpulkan melalui program Gerakan Sayang Budaya.

“Koleksi pada Museum Linggam Cahaya itu sebagian besar merupakan hibah masyarakat,” ujarnya.

Melalui koleksi-koleksi tersebut, pengunjung dapat melihat beragam peninggalan masa lalu Kesultanan Riau-Lingga sekaligus mengenal lebih jauh kebudayaan Melayu yang masih lestari hingga kini.

BACA JUGA:   Presiden Tunjuk Wali Kota Terpilih Jadi Ex-Officio BP Batam

Koleksi museum mencakup berbagai bidang. Di antaranya keramologi atau koleksi keramik, numismatika berupa mata uang, heraldika yang berkaitan dengan lambang dan tanda jasa, etnografi, hingga filologi yang mencakup manuskrip atau naskah kuno.

Museum ini juga menyimpan koleksi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Namun, salah satu bagian yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah koleksi naskah kuno peninggalan Kesultanan Riau-Lingga.

Naskah-naskah tersebut tidak hanya berisi ajaran agama, tetapi juga merekam pengetahuan masyarakat pada masa lalu. Koleksinya mencakup kitab agama, hukum mahkamah, pengobatan tradisional, hingga karya sastra.

“Di Daik Lingga ini, sebagai bekas pusat Kesultanan Riau-Lingga, banyak ditemukan kitab-kitab bersejarah. Koleksi naskah di museum ini didominasi oleh ajaran agama Islam, tetapi ada juga naskah tentang sejarah, hukum, dan pengobatan tradisional,” jelas Lazuardy.

Selain manuskrip, museum juga menyimpan silsilah Kesultanan Riau-Lingga, kitab-kitab kuno, serta Al-Qur’an tulisan tangan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Ada pula koleksi yang tak kalah menarik, yakni tulang Gajah Mina. Benda tersebut ditemukan dalam kondisi hanyut di salah satu pantai di Pulau Daik, sekitar tahun 2004 setelah terjadinya tsunami Aceh. Fosil tulang tersebut kini menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan di Museum Linggam Cahaya.

BACA JUGA:   Amsakar Ingatkan Tantangan Globalisasi, Pramuka Harus Jadi Garda Terdepan

Keberadaan ribuan koleksi itu tidak terlepas dari perjalanan Museum Linggam Cahaya yang dimulai lebih dari dua dekade lalu.

Lazuardy mengatakan pembangunan museum dimulai pada 2002 dan rampung pada 2003. Pada tahun yang sama, museum yang saat itu masih bernama Museum Mini Linggam Cahaya mulai menerima kunjungan secara terbatas.

“Tahun 2002 mulai pembangunan, tahun 2003 kita mulai menerima kunjungan sementara di Museum Linggam Cahaya. Dulu masih berupa museum mini, lalu pada tahun 2015 kita mulai menempati gedung museum yang lebih besar,” ujarnya.

Seiring berpindah ke gedung yang lebih besar pada 2015, ruang untuk menyimpan dan memamerkan koleksi pun semakin memadai. Saat ini, sekitar 6.800 item tersimpan di museum tersebut, terdiri dari peninggalan masa lalu hingga koleksi yang merekam perkembangan kehidupan modern.

Kehadiran Museum Linggam Cahaya pada akhirnya tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda lama. Setiap koleksi menyimpan cerita mengenai perjalanan masyarakat Lingga dan warisan Kesultanan Riau-Lingga.

Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat melalui hibah koleksi menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak hanya berlangsung di ruang museum. Warisan budaya juga dijaga oleh warga yang memilih menyerahkan benda-benda bernilai sejarah agar dapat dipelajari dan dikenal oleh generasi berikutnya.

BACA JUGA:   Pengendara Keluhkan Jalan Rusak di Simpang Kaliban Jalan Raja Isa Batam

Dengan koleksi keramik, mata uang kuno, naskah bersejarah, peninggalan kesultanan, hingga fosil tulang Gajah Mina, Museum Linggam Cahaya menjadi salah satu ruang untuk menelusuri kembali jejak sejarah Pulau Daik sekaligus mengenal keberlanjutan budaya Melayu.

Museum tersebut pun dapat menjadi pilihan kunjungan bersama keluarga maupun teman, terutama bagi masyarakat yang ingin menambah wawasan tentang sejarah Kesultanan Riau-Lingga dan kekayaan budaya Melayu yang diwariskan hingga hari ini.

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER