Thursday, September 24, 2026
HomeBatamSekolah Terintegrasi Merah Putih Rempang Mulai Dibangun, Target Peresmian Tahun 2028

Sekolah Terintegrasi Merah Putih Rempang Mulai Dibangun, Target Peresmian Tahun 2028

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Setelah melalui proses pematangan lahan atau cut and fill selama dua bulan, pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Batam, resmi dimulai, Kamis (24/9/2026). Pembangunan sekolah tersebut ditandai dengan kegiatan groundbreaking atau pemancangan awal.

Sekolah Terintegrasi Merah Putih akan dibangun di atas lahan seluas 18 hektare. Kawasan pendidikan tersebut dirancang terintegrasi, mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA, serta dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti asrama, kolam renang, lapangan olahraga, gedung serbaguna, rumah ibadah dan fasilitas lainnya.

Direktur Operasional PT MEG, Michael Wilson, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, para donatur dan pemerintah daerah yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan sekolah tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, donatur, pemda. Terima kasih atas komitmennya sebagai bagian Indonesia Emas. Tak hanya meletakkan batu pertama, tapi batu harapan dari setiap anak,” kata Michael.

Menurut dia, keberadaan sekolah tersebut diharapkan dapat menjadi tempat lahirnya generasi muda yang mampu menggapai berbagai cita-cita dan berkontribusi bagi bangsa.

“Kami berharap dari ruang kelas ini bisa melahirkan anak-anak yang sukses dan generasi muda bisa mencapai cita-citanya. Ada yang menjadi dokter, menteri, presiden, dan lain sebagainya. Kami akan selalu mendukung Sekolah Terintegrasi Merah Putih ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Pengurus Yayasan Merah Putih, Eddy Hussy, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting karena menandai dimulainya perjalanan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih.

“Hari ini merupakan groundbreaking atau pemancangan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota, BP Batam dan seluruh pihak yang mendukung,” kata Eddy.

Ketua Pengurus Yayasan Merah Putih, Eddy Hussy, mengatakan kegiatan Ground Breaking ini menjadi momentum penting karena menandai dimulainya perjalanan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih. (uly)
Ketua Pengurus Yayasan Merah Putih, Eddy Hussy, mengatakan kegiatan Ground Breaking ini menjadi momentum penting karena menandai dimulainya perjalanan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih. (uly)

Ia menjelaskan, sekolah tersebut dirancang sebagai kawasan pendidikan yang cukup lengkap. Selain ruang belajar untuk jenjang SD, SMP dan SMA, fasilitas yang disiapkan antara lain lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, masjid, gereja serta asrama bagi guru dan murid.

“Dalam pembangunan kami akan selalu berkoordinasi dengan BP Batam. Sekolah di sini cukup lengkap. Ada lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, masjid, gereja dan asrama bagi guru dan murid,” ujarnya.

Eddy mengatakan desain bangunan telah dipersiapkan dengan melibatkan sejumlah tenaga profesional. Konsultan pembangunan dipimpin PT Airmas dengan Riza sebagai senior arsitek. Selain itu, terdapat konsultan infrastruktur, landscape, interior dan quantity surveyor (QS).

BACA JUGA:   Amsakar: Pengelolaan Dana BOS Harus Tepat Sasaran dan Bermanfaat bagi Siswa

Ia memastikan dana yang berasal dari para donatur akan digunakan secara profesional dan pembangunan akan diawasi agar kualitas serta waktu pengerjaannya sesuai dengan perencanaan.

“Para donatur, duit yang bapak ibu sumbangkan kami gunakan dengan profesional. Kami menerima kritikan dan kami akan mengawasi pembangunan ini dengan baik. Agar kualitas dan waktu sesuai dengan yang direncanakan,” katanya.

Eddy menegaskan, sekolah tersebut tidak hanya dirancang sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai lingkungan untuk membentuk karakter dan menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan.

“Tak hanya tempat belajar, tapi tumbuh sebagai anak yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Anak-anak bisa belajar dan mengenali bangsa dan dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

“Keberadaan sekolah ini, harapan kami menjadi bagian menyiapkan SDM yang tangguh dan menghadapi tantangan masa depan,” katanya.

Eddy menyebut groundbreaking ini merupakan pemancangan awal dari perjalanan panjang pembangunan sekolah. Karena itu, ia meminta dukungan dari seluruh pihak agar cita-cita tersebut dapat terwujud.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam yang dinilainya memiliki peran dalam mendukung terwujudnya pembangunan sekolah tersebut.

“Groundbreaking merupakan pemancangan awal untuk perjalanan yang panjang. Kami juga memohon dukungan. Sekolah ini bisa terwujud, ada orang yang cukup berjasa, yaitu Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. Ini semoga menjadi contoh sekolah pertama di Indonesia. Tujuannya mulia, mencerdaskan bangsa. Saya berharap dukungan semua pihak,” tuturnya.

Amsakar: Pendidikan Kunci Hadapi Kompetisi Global

Sementara itu, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan terima kasih kepada para pengusaha yang tergabung dalam Yayasan Merah Putih atas keterlibatan mereka dalam pembangunan sekolah tersebut.

Amsakar mengatakan, pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih menjadi bagian dari catatan sejarah bagi Batam, terlebih kegiatan groundbreaking tersebut berlangsung bertepatan dengan HUT Provinsi Kepulauan Riau dan bersinergi dengan para pelaku usaha di daerah.

“Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, apa yang kita lakukan adalah catatan sejarah. Groundbreaking Sekolah Merah Putih bersamaan dengan HUT Kepri dan bersinergi dengan pelaku usaha di daerah,” kata Amsakar.

BACA JUGA:   Pesta Rakyat HUT RI ke-80 Ditunda, Empati Situasi Nasional

Ia menjelaskan, BP Batam berperan dalam mempersiapkan lahan untuk pembangunan sekolah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan dunia usaha tersebut merupakan langkah penting dalam menghadirkan fasilitas pendidikan bagi masyarakat.

“BP Batam mempersiapkan lahan. Sinergi ini adalah hal pertama yang dilakukan. Di lain (daerah) pasti dibiayai Prabowo, tapi di Batam akan dilakukan oleh pelaku usaha,” ujarnya.

Amsakar mengatakan pembangunan sekolah di kawasan hinterland menjadi penting karena Batam membutuhkan generasi unggul yang mampu mengikuti perkembangan industri.

“Yang kita lakukan di wilayah hinterland, wilayah pinggirnya Batam. Batam ini membutuhkan generasi unggul,” katanya.

Menurut Amsakar, perkembangan industri di Batam saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Ia menyebut sejumlah bidang yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Batam, antara lain logistik, shipyard, industri manufaktur, teknologi informasi, programmer dan tenaga teknik.

“Dengan perkembangan industri sekarang, diperlukan ilmu yang terkait dengan logistik, berkaitan dengan shipyard, industri manufaktur, IT, programmer, tenaga teknik. Dari beberapa ini sudah terlihat ke arah mana tenaga kerja,” ujarnya.

Ia menilai pendidikan dan keterampilan yang diperoleh generasi muda harus berjalan seiring dengan kebutuhan dunia kerja.

“Gaya konvensional dan ilmu biasa saja tidak diperlukan oleh Batam. Apa yang kita lakukan saat ini untuk menjawab itu. Susah dapat kerja, skill yang kita miliki dengan sejalan dengan kebutuhan,” kata Amsakar.

Menurutnya, Sekolah Terintegrasi Merah Putih di kawasan hinterland diharapkan mampu menampung dan memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak dari kawasan tersebut.

“Sekolah hinterland, mudah-mudahan dapat menampung anak-anak hinterland. Untuk menang dalam kompetensi global ini adalah pendidikan,” ujarnya.

Amsakar juga mengajak seluruh pihak untuk menyatukan langkah dalam mendukung pembangunan sekolah tersebut.

“Hari ini kita hadir bersama untuk menciptakan groundbreaking. Ayo satukan hati dan langkah. Kurangi diskusi yang kontraproduktif. Kebijakan ini berguna bagi anak-anak. Selama kita bertekad, insyaallah jalannya selalu ada,” katanya.

Terinspirasi Perjuangan Menempuh Pendidikan

BACA JUGA:   KJK Segera Gelar Uji Kompetensi Wartawan di Tanjungpinang Akhir Agustus 2026

Dalam kesempatan tersebut, Amsakar turut menceritakan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan. Ia mengatakan perjuangan mendapatkan pendidikan bukanlah hal mudah bagi dirinya.

Ia mengaku saat duduk di sekolah dasar harus berjalan kaki sejauh sekitar 4 kilometer. Ketika masuk SMP, jaraknya mencapai sekitar 16 kilometer dan ia menempuh perjalanan dengan sepeda.

“Saya SD jalan 4 km, SMP 16 km naik sepeda. Masuk jam 1, jam 11 berangkat. Sampai sekolah 8 malam. SMA tinggal dengan paman 6 km naik sepeda,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Amsakar mengatakan dirinya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah. Ia bahkan menyampaikan kepada almarhum ayahnya bahwa jika tidak dapat melanjutkan kuliah, dirinya akan merantau untuk bekerja ke Medan, Surabaya atau Malaysia.

“Kalau saya tidak kuliah saya akan merantau kerja ke Medan, Surabaya atau Malaysia. Serius, Pak Ngah,” katanya.

Ia kemudian menyebut pada 1985 dirinya berangkat ke Pekanbaru. Di sana, ia menjalani berbagai aktivitas untuk bertahan hidup, termasuk menjual kemampuan intelektual dengan membuat makalah untuk orang lain serta aktif berorganisasi.

“Cara hidup di sana menjual otak, buat makalah orang, aktif berorganisasi. Kemudian saya juga dapat beasiswa dari Pak Harto. Kemudian lolos ASN dan terdampar di Batam,” ujarnya.

Amsakar mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya memiliki perhatian terhadap akses pendidikan bagi masyarakat, khususnya anak-anak di kawasan hinterland.

Ia mengenang bagaimana dirinya bersama sembilan saudara lainnya harus bertahan hidup dalam keluarga yang menggantungkan penghasilan pada pekerjaan sebagai nelayan dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Saya mendapat pendidikan berat. Kami 10 kakak-adik bertahan hidup dengan nelayan yang bergantung dengan cuaca,” katanya.

Karena itu, ia berharap keberadaan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang dapat membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak dari kawasan Galang, Bulang dan Belakang Padang untuk mendapatkan pendidikan serta berkontribusi dalam pembangunan Batam dan Indonesia.

“Mimpi saya Indonesia Emas ada anak Galang, Bulang, Belakang Padang yang tampil. Dapat mewarnai perjalanan Batam ke depan,” kata Amsakar.

Ia berharap pembangunan sekolah tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan ditargetkan dapat diresmikan pada 2028.

“Mudah-mudahan 2028 bisa diresmikan,” ujarnya. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER