Tuesday, August 11, 2026
HomeKepriLinggaBI Kepri Dorong Leni Rusnika Kembangkan Tudong Manto hingga Pasar Mancanegara

BI Kepri Dorong Leni Rusnika Kembangkan Tudong Manto hingga Pasar Mancanegara

BATAMSTRAITS.COM, LINGGA – Di sebuah rumah di Jalan Masjid Sultan Lingga, Kampung Tembaga, Kelurahan Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, benang dan kain menjadi bagian dari keseharian Leni Rusnika. Dari tempat sederhana itu, tudong manto kerajinan khas Melayu Lingga dikerjakan dengan telaten dan perlahan dibawa menembus pasar yang lebih luas.

Leni mulai menekuni kerajinan tudong manto sejak 2021. Saat itu, ia mengaku hanya bermodalkan keberanian untuk memulai. Usahanya kemudian diresmikan oleh Ibu Bupati dan mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI) Kepri berupa bantuan mesin produksi.

“Ini aku mulainya dari 2021. Diresmikan oleh Ibu Bupati. Selain aku nekat, aku juga dapat bantuan dari BI,” ujar Leni saat dikunjungi media dari Kota Batam bersam Bank Indonesia Kepri dalam rangka GMP 2026, Selasa (11/8/2026).

Tak hanya tudong manto, kelompok yang dibangun Leni juga mengerjakan baju kurung. Bagi Leni, keterampilan membuat tudong manto bukan sekadar kegiatan menghasilkan kerajinan, tetapi juga peluang untuk membantu sesama perempuan di lingkungan sekitarnya.

BACA JUGA:   Berangkat Haji 21 Mei, Amsakar Minta Dukungan untuk Li Claudia Pimpin Batam

Keterampilan itu diperolehnya dari seorang teman. Setelah belajar dan semakin mahir, pesanan yang datang pun mulai bertambah. Kondisi tersebut mendorong Leni mengambil langkah berikutnya: membentuk kelompok sendiri.

“Saya punya inisiatif buat kelompok sendiri untuk membantu ibu-ibu rumah tangga biar mereka punya penghasilan sendiri,” katanya.

Kini, kelompok tersebut beranggotakan 12 orang. Produksi tidak seluruhnya dilakukan di satu tempat. Sebagian anggota mengerjakan tudong manto dari rumah masing-masing dan sebagian lainnya bekerja di rumah produksi Leni.

Untuk memperkuat kapasitas produksi, BI Kepri memberikan bantuan berupa 10 mesin, terdiri atas lima mesin obras dan lima mesin jahit. Bantuan tersebut menjadi salah satu penopang bagi Leni dan para anggota kelompoknya untuk meningkatkan produksi.

Bagi Leni, dukungan BI bukan hanya soal bantuan peralatan. Ia berharap pendampingan dapat terus diberikan agar kelompok yang dibangunnya semakin berkembang.

“Harapannya BI terus membimbing aku, jangan bosan-bosan dan memberi aku bantuan lagi,” ujarnya.

Tudong manto yang dibuat Leni dan kelompoknya tidak hanya dipasarkan di Indonesia. Produk tersebut juga telah menjangkau sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia.

BACA JUGA:   Imlek 2577 Penuh Sukacita, Menko IPK AHY: Batam Simbol Kota Damai dan Multikultural

Pemasarannya dilakukan secara daring. Leni memanfaatkan jaringan pertemanan di luar negeri untuk memperkenalkan tudong manto kepada calon pembeli.

“Online. Kita punya teman yang di sana, mereka yang promosi,” kata Leni.

Sebagian teman sekolah Leni yang kini berada di luar negeri turut membantu mempromosikan produknya. Dari jejaring tersebut, pesanan tudong manto datang dari luar Indonesia.

Harga tudong manto yang diproduksi Leni berkisar Rp2,5 juta hingga Rp4 juta, tergantung jenis dan pengerjaannya.

Dalam proses pembuatannya, keterampilan tangan tetap menjadi bagian penting. Bagi masyarakat setempat, tudong manto bukan sekadar penutup kepala, melainkan bagian dari identitas dan tradisi Melayu Lingga. Proses menyulam motif pada tudong manto membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Di tangan Leni dan 12 anggota kelompoknya, keterampilan tersebut kemudian bertemu dengan semangat kewirausahaan. Dari rumah di Kampung Tembaga, kerajinan yang diwariskan dan dipelajari antarsesama itu kini menjadi sumber penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga.

Perjalanan Leni bermula dari sebuah keputusan sederhana untuk “nekat” memulai. Namun, keberanian itu kemudian berkembang menjadi sebuah kelompok, didukung peralatan produksi, dan membuka jalan bagi tudong manto Lingga untuk dikenal hingga Malaysia, Singapura, dan Australia.

BACA JUGA:   Tim Asli Sesalkan Tatib Debat KPU Batam Tak Ada Kepastian, Dewi : Batal Bukan Karena Kami

Bagi Leni, perjalanan tersebut masih jauh dari selesai. Ia ingin terus belajar, memperbesar produksi, dan berharap pendampingan BI Kepri dapat terus berlanjut. Sebab, di balik setiap tudong manto yang selesai disulam, ada keterampilan, ketekunan, sekaligus harapan agar semakin banyak perempuan di Lingga memiliki penghasilan dari tangan mereka sendiri. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER