BATAMSTRAITS.COM, JOHOR BAHRU – Penguatan konektivitas antara Johor Bahru dan Singapura melalui proyek Rapid Transit System (RTS) Link dinilai tidak hanya akan mempererat hubungan ekonomi kedua wilayah, tetapi juga membuka peluang baru bagi Indonesia untuk meningkatkan partisipasinya dalam rantai ekonomi regional.
Pelaksana Fungsi Bidang Ekonomi II KJRI Johor Bahru, Siti Fauziah mengatakan intensitas hubungan ekonomi dan mobilitas manusia antara Johor dan Singapura yang terus meningkat akan memberikan dampak langsung terhadap perdagangan serta pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Mobilitas manusia yang semakin tinggi berdampak langsung pada perdagangan dan kemajuan ekonomi. Hubungan antara kedua negara menjadi semakin intens, dan kondisi ini tentu membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan keterlibatannya,” ujar Siti Fauziah saat berada di Johor, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, perkembangan tersebut dapat dianalogikan sebagai “SIJORI 2.0”, mengacu pada konsep kerja sama ekonomi regional Singapura-Johor-Riau (SIJORI) yang pernah berkembang pada dekade sebelumnya.
“Dulu kita mengenal SIJORI sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan Singapura, Johor, dan Kepulauan Riau. Dengan hubungan ekonomi Johor dan Singapura yang semakin erat saat ini, saya melihat banyak peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia,” katanya.
Siti menilai salah satu peluang terbesar berasal dari tren relokasi industri. Sejumlah perusahaan yang sebelumnya beroperasi di Singapura telah memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke Johor karena faktor biaya dan ketersediaan lahan.
“Banyak industri yang sebelumnya berada di Singapura kini berpindah ke Johor. Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin sebagian investasi tersebut juga akan masuk ke Indonesia. Karena itu, sangat disayangkan jika peluang ini tidak dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Sementara itu, proyek RTS Link yang akan menghubungkan Johor Bahru dan Singapura semakin menunjukkan progres signifikan. Kereta pertama untuk layanan tersebut resmi diperkenalkan dalam sesi pratinjau di Singapore Rail Test Centre (SRTC), Senin (30/6).
RTS Link dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 dengan waktu tempuh hanya sekitar lima menit antara Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru dan Stasiun Woodlands North di Singapura.
Peresmian kereta pertama dilakukan oleh Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke bersama Pelaksana Tugas Menteri Transportasi Singapura Jeffrey Siow.
Dalam sambutannya, Anthony Loke menegaskan bahwa RTS Link bukan sekadar proyek infrastruktur transportasi, melainkan simbol eratnya kerja sama antara Malaysia dan Singapura.
“Hari ini bukan sekadar memperkenalkan sebuah kereta baru, tetapi tentang apa yang direpresentasikan oleh kereta tersebut. Ini adalah bukti dua negara yang kembali bergandengan tangan membangun sesuatu yang lebih besar dari kepentingan masing-masing,” ujarnya.
Menurut Loke, proyek tersebut mencerminkan penguatan hubungan persahabatan, kepercayaan, dan saling menghormati antara kedua negara di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
RTS Link juga dilengkapi fasilitas terintegrasi Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina (CIQ) yang ditempatkan di stasiun keberangkatan guna memperlancar pergerakan penumpang lintas negara.
Secara keseluruhan, RTS Link merupakan jalur kereta api ulang-alik sepanjang sekitar empat kilometer dengan dua stasiun utama, yakni Bukit Chagar di Johor Bahru dan Woodlands North di Singapura.
Pembangunan segmen Malaysia sepanjang 2,7 kilometer dikerjakan oleh MRT Corp, sementara operasional layanan akan dijalankan bersama oleh Prasarana Malaysia Berhad dan SMRT Corporation Ltd dari Singapura.
Setelah beroperasi, RTS Link diharapkan menjadi penghubung darat ketiga antara Malaysia dan Singapura sekaligus membantu mengurangi kemacetan kronis yang selama ini terjadi di Tambak Johor.
Bagi Indonesia, hadirnya konektivitas baru tersebut berpotensi menciptakan efek ekonomi lanjutan melalui peningkatan investasi, perdagangan, serta peluang relokasi industri di kawasan regional yang semakin terintegrasi. (uly)










