BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Kesadaran masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk bertransaksi secara syariah terus meningkat, terutama di kalangan pelaku UMKM. Ketua Baznas Provinsi Kepri, Arusman Yusuf mengatakan tren ini sangat positif karena tidak hanya menghindarkan masyarakat dari riba, tetapi juga mendidik mereka berperilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari.
“Ekonomi syariah memberikan banyak keringanan bagi masyarakat. Di Kepri perkembangannya sangat baik,” kata Arusman, Selasa (24/4/2026).
Baznas Kepri memiliki 10 program prioritas, termasuk lima program unggulan, salah satunya Kepri Sejahtera. Program ini fokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat, khususnya UMKM.
“Pendekatan kami berbeda dengan bank atau pemerintah karena sifat Baznas nirlaba. Kami tidak mencari keuntungan, tidak memungut jasa. Tujuan kami adalah membantu masyarakat mengubah taraf hidup mereka, mulai dari nol,” kata Arusman.
Melalui program ini, masyarakat bisa mulai berinfaq atau bersedekah dengan nominal kecil, mulai dari Rp1.000 hingga Rp500. Selama ini, banyak masyarakat yang terjerat pinjaman online dengan bunga tinggi karena cara pinjamnya mudah, tetapi memberatkan. Baznas hadir untuk memberi solusi melalui bantuan ekonomi tanpa syarat keuntungan.
Hingga saat ini, Baznas Kepri telah membantu lebih dari 300 gerobak UMKM, baik yang berjualan di rumah, di lapangan, maupun keliling. Tidak hanya gerobak, Baznas juga menyediakan mesin jahit untuk ibu-ibu yang ingin memulai usaha menjahit, serta peralatan produksi kerupuk ikan bagi UMKM rumah tangga.
“Kami tidak mendirikan usaha sendiri. Namun, kami mendampingi melalui pelatihan sederhana dan mengirim peserta ke pusat pelatihan di Batam bersama pihak ketiga yang profesional. Biasanya 10-15 orang yang dilatih, dan mereka kemudian bisa mengembangkan usaha secara mandiri,” ujar Arusman.
Namun, pengembangan UMKM melalui skema zakat ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah mindset masyarakat. Arusman mencontohkan program Z Chicken, di mana Baznas menyiapkan gerobak, branding, ayam, kompor, kuali, minyak, beras, tapungan, dan marinasi. Tujuannya, kualitas dan standar usahanya sejajar dengan restoran besar seperti KFC.
“Sayangnya, tidak semua UMKM bisa melanjutkan usaha setelah bantuan awal. Beberapa berhenti karena kurang pengawasan dan pendampingan, atau karena mentalitas bahwa bantuan itu gratis sehingga tanggung jawab terhadap usaha belum terbentuk,” jelasnya.
Meski begitu, Arusman optimis bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemberdayaan ekonomi berbasis zakat ini akan terus mengubah kehidupan masyarakat di Kepri, mendorong UMKM mandiri, dan menumbuhkan budaya ekonomi syariah yang berkelanjutan. (uly)









