Sunday, May 31, 2026
HomeBatamAnyaman Eceng Gondok Isna: Dari Gulma Jadi Produk Bernilai Ekspor

Anyaman Eceng Gondok Isna: Dari Gulma Jadi Produk Bernilai Ekspor

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di balik rimbun kolam dan rawa-rawa yang ditumbuhi eceng gondok, tersimpan kisah inspiratif seorang perempuan bernama Tisnawati, akrab disapa Isna.

Di mata masyarakat sekitar, tanaman air ini hanyalah gulma yang mengganggu. Tapi di tangan Isna, gulma berubah jadi karya bernilai tinggi, bahkan menembus pasar internasional.

“Awalnya saya ikut turun ke dalam kolam mengumpulkan eceng gondok, mau tak mau ya begitu, meskipun sering digigit lintah,” kenang Isna sambil tersenyum di sela-sela Gebyar Melayu Pesisir (GMP) di One Batam Mall, Sabtu (23/8/2025) lalu.

Isna bersama rekannya tengah mengambil eceng gondok di salah satu waduk di Kota Batam. (Istimewa)
Isna bersama rekannya tengah mengambil eceng gondok di salah satu waduk di Kota Batam. (Istimewa)

Kini, ia tak lagi sendirian. Beberapa nelayan dan petani di Batam rutin memasok eceng gondok dari kolam ikan mereka.

“Jadi dari segi bahan baku kita, Insya Allah aman,” katanya sembar tersenyum.

Sebelum jatuh hati pada eceng gondok, Isna lebih dulu menekuni rajutan benang sejak 2013. Namun, 2017 menjadi titik balik ketika ia mulai bereksperimen dengan serat alami dari gulma air. Keahlian merajut yang sudah ia miliki membuat transisi terasa lebih mudah.

Hasilnya? Deretan produk kreatif yang unik: tas, sandal, karpet, vas bunga, alas piring, hingga furniture seperti meja dan kursi. Harganya pun bervariasi, mulai Rp50 ribu untuk alas piring dan vas bunga hingga Rp2,5 juta untuk Furniture seperti kursi dan meja.

BACA JUGA:   Bea Cukai Batam Waspadai Joki Balpres Berkedok Penumpang

Namun, proses produksi bukan hal sepele. Eceng gondok yang baru dipanen harus dijemur setidaknya seminggu agar kering sempurna. Setelah dianyam, setiap produk diberi lapisan antibakteri dan vernis.

“Tujuannya agar awet dan tidak menimbulkan alergi,” tutur ibu satu anak itu.

Kini, rumah Isna di Jalan Bukit Ayu Lestari, Sei Beduk, Kota Batam, sudah bertransformasi menjadi galeri eceng gondok. Wisatawan lokal maupun mancanegara kerap datang sekadar melihat atau membeli. Turis Singapura bahkan rutin mampir membawa pulang kerajinan khas itu.

Delegasi Kedutaan Besar Turki mengunjungi Workshoop Isna Puring di Jalan Bukit Ayu Lestari, Sei Beduk, Kota Batam, Provinsi Kepri. (Istimewa)
Delegasi Kedutaan Besar Turki mengunjungi Workshoop Isna Puring di Jalan Bukit Ayu Lestari, Sei Beduk, Kota Batam, Provinsi Kepri. (Istimewa)

Dari ruang tamu rumahnya, terpajang beragam karya: tas tangan, vas bunga, anting, hingga meja kursi yang seluruhnya berasal dari serat gulma.

“Rumah sudah kayak showroom kerajinan,” katanya tertawa kecil.

Tak hanya di Batam, produk Isna kini telah menyeberang ke berbagai negara. Rutin ia mengirim 100 – 150 produk ke Singapura, sebagian besar digunakan sebagai Goodie Bag.

Dari Malaysia, ada pesanan hampers yang berawal dari bazar di Mega Mall saat pandemi. Seorang pengunjung asal Malaysia memesan wadah bertutup untuk mengirim makanan ke pelanggan restoran miliknya. Hingga kini, kerja sama itu masih berlanjut.

BACA JUGA:   Kembali Terjadi Krisis Air Dikarenakan Pipa Tergeruk Beko

Isna juga aktif memanfaatkan Shopee Ekspor untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, saat ini ia tengah bersiap mengekspor tas ke Turki.

“Awal ekspor saya difasilitasi Bank Indonesia Kepri. Dibiayai sekali, setelah itu mandiri. BI mendidik dari nol hingga siap ekspor,” ujarnya.

Dalam proses ekspor, ia nyaris tanpa kendala. Hanya perlu melengkapi dokumen asal kayu untuk furniture, dengan dukungan pemerintah dan Bea Cukai. Berkat Quality Control (QC) yang ketat, produknya pun lolos standar tanpa ada pengembalian.

Lebih dari sekadar bisnis, usaha Isna telah menciptakan jejaring pemberdayaan. Ia melibatkan 12 penduduk setempat yang masing-masing memiliki murid. Total ada sekitar 30 orang yang kini bisa menganyam dari rumah mereka masing-masing.

“Nanti hasil kerajinan mereka proses Finishingnya dibawa ke Workshop kita kemudian dipasarkan,” ujarnya.

Produk yang layak dipasarkan dikumpulkan di workshop Isna, sementara yang kurang rapi dijadikan bahan belajar. Dua kali sebulan, mereka berkumpul di workshop untuk menganyam bersama.

“Saya ingin nantinya kawasan rumah saya bisa jadi kampung kerajinan eceng gondok,” ujarnya penuh harap.

BACA JUGA:   Ombudsman RI Dorong Percepatan Perbaikan Pelayanan Pengeluaran Barang di KPBPB Batam

Bagi Isna, kerajinan hanyalah pintu masuk menuju sesuatu yang lebih besar. Pemberdayaan dan keberlanjutan lingkungan.

Ia aktif menggerakkan berbagai kegiatan sosial dan edukatif, seperti pemberdayaan ibu rumah tangga sebagai pengrajin sekaligus mitra usaha utama, pelatihan keterampilan di Lapas Wanita Batam, memberi kesempatan berkarya bagi warga binaan, edukasi dan motivasi ke pulau-pulau sekitar Batam, termasuk pengrajin pandan berduri, agar mengembangkan motif dan nilai seni lokal, edukasi wisata dengan anak-anak mancanegara dan motivasi untuk anak-anak sekolah, menumbuhkan kebanggaan pada produk lokal dan semangat wirausaha sejak dini.

Dengan segala upaya itu, Isna telah membuktikan bahwa eceng gondok bukan sekadar gulma. Di tangannya, gulma menjelma menjadi produk ramah lingkungan, peluang usaha, media edukasi, hingga sarana pemberdayaan sosial.

Dari Batam, karya-karya Isna kini melangkah ke panggung dunia membawa cerita bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, bahkan dari gulma di kolam belakang rumah. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER