BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di sebuah rumah sederhana di Bengkong, aroma pedas bercampur gurih menyeruak begitu tutup panci diangkat. Ropiandi, pria 30 tahun itu, tengah sibuk mengaduk sambal dalam wajan besar.
Dari tangannya, lahirlah sambal dengan cita rasa khas Kepulauan Riau yang kini dikenal dengan nama Sambal Sijago. Bukan sekadar sambal biasa, produk ini menawarkan olahan berbasis hasil perikanan dan pertanian.

Ada lima varian yang jadi andalan: sambal ikan asin, sambal cumi asin, sambal Batam gonggong, sambal ikan asap, dan sambal bawang. Semua dikemas rapi dan tahan hingga setahun tanpa pengawet berkat mesin sterilisasi.
“Kalau tradisionalnya kan dikukus, kalau kita pakai mesin sterilisasi. Jadi mikrobanya mati, sambal bisa tahan lama,” ujar Ropiandi sembari menunjukkan beberapa sambalnya yang sudah siap edar.

Perjalanan Sijago tak selalu mulus. Di awal merintis, Ropiandi kerap menghadapi sambal basi, daging keras, hingga rasa yang tidak konsisten.
“Itu semua pengalaman. Kita evaluasi lagi, kita terima semua saran, sampai akhirnya dapat rasa yang pas,” kenangnya.
Awalnya, sambal ini hanya dititipkan di sejumlah retail Batam dan dipasarkan lewat reseller. Lambat laun, jangkauannya meluas hingga ke Jakarta, kemudian menembus pasar ekspor ke Malaysia (Selangor) dan Singapura pada Januari 2025.
Kini, produk Sambal Sijago bisa ditemui di rak Diamond Supermarket, Gelael, Lotte, Hypermart, Boy Mart, SNL Food, hingga Santai Mart di Singapura dan Najah Food di Malaysia.
Sebelum fokus di sambal, Ropiandi sempat menjajakan rendang sachet yang dimasak sang ibu. Produk itu sempat populer di kalangan pekerja offshore yang tak punya kulkas di kapal. Namun, sejak 2015 ia memutuskan beralih total ke sambal.
“Butuh waktu setahun untuk riset resepnya. Orang tua kan biasanya masak by feeling. Kita bikin resepnya lebih konsisten, biar rasanya sama,” katanya.
Kini, sambal bukan hanya pelengkap makan, tapi juga solusi praktis untuk pekerja hingga traveler.
“Kalau makan rasanya ada yang kurang tanpa sambal. Makanya sambal ini cocok untuk orang sibuk,” katanya.
Keputusan menembus ekspor bukan tanpa tantangan. Ropiandi harus menyiapkan produk agar lolos sertifikasi dan layak dijual di luar negeri.
“Kalau barang Batam susah dijual keluar, kita harus mikir cara lain. Batam kan FTZ, jadi kita manfaatkan peluang itu,” ujarnya.

Hasilnya, sejak ekspor awal tahun 2025, penjualan Sambal Sijago semakin meningkat. Bagi Ropiandi, itu tanda kualitas produknya diakui.
“Buyer biasanya tes rasa dulu, lihat kemasan, baru putuskan mau jual lagi. Kalau sampai mereka beli, berarti sambal kita layak,” katanya dengan bangga.
Dari dapur rumah di Bengkong, Sambal Sijago kini menjadi bukti bahwa produk lokal Batam bisa tembus pasar internasional. Sebuah perjalanan penuh jatuh bangun, tapi dibayar dengan manisnya rasa sambal yang kini dinikmati lintas negara. (uly)







