BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad mengungkap berbagai pengalaman spiritual maupun pengalaman unik yang dialaminya selama melaksanakan Ibadah Haji di Tanah Suci.
Hal ini ia ceritakan saat hari pertama masuk kerja, Rabu (10/6/2026) usai menghadiri rapat paripurna DPRD Kota Batam dengan agenda Penyampaian dan Penjelasan Wali Kota Batam atas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Batam Tahun Anggaran 2025.
Dengan mengenakan kemeja putih, celana hitam dan penampilan baru berambut plontos, Amsakar mengaku sangat merasakan kemudahan sejak awal keberangkatan hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.
Menurutnya, doa masyarakat Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang selama ini dipanjatkan untuk dirinya benar-benar ia rasakan manfaatnya.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Batam. Dalam setiap pertemuan saya selalu memohon doa agar keberangkatan dan kepulangan saya dimudahkan Allah SWT. Dan realitasnya, apa yang saya harapkan itu benar-benar saya alami di Tanah Suci,” katanya.
Menurut Amsakar, banyak kemudahan yang datang tanpa diduga. Saat bangun pagi selalu ada teman yang menyiapkan kopi. Ketika waktu makan tiba, selalu ada yang membantu mengambilkan sarapan. Tak hanya itu, ketika berjalan menuju lokasi lontar jumrah di tengah lautan manusia, ia juga kerap mendapat bantuan dari jamaah lain yang membukakan jalan
“Saya merasa itu pengalaman yang luar biasa,” katanya.
Amsakar juga membagikan sejumlah kisah lucu selama berhaji. Salah satunya ketika ia sibuk mencari handuk yang menurutnya hilang. Ia mengaku bolak-balik dari kamar mandi ke kamar sambil mencari handuk tersebut. Teman-temannya pun bertanya apa yang sedang dicari.
“Saya cari handuk. Sudah bolak-balik ke kamar mandi dan kamar. Ternyata handuk itu masih saya pakai di pinggang. Saya lupa karena sudah beberapa hari menggunakan pakaian ihram,” katanya sambil tertawa.
Pengalaman lain terjadi ketika ia meninggalkan telepon genggam di sebuah area duduk dekat hotel. Setelah hampir satu jam, ia kembali ke lokasi dan mendapati ponselnya masih berada di tempat semula. Begitu juga dengan jam tangan milik istrinya yang tertinggal di toilet di Madinah.
Awalnya mereka mengira jam tersebut sudah hilang. Namun setelah melapor kepada pihak hotel, jam itu berhasil ditemukan dan dikembalikan.
“Harganya mungkin tidak mahal, tapi itu hadiah ulang tahun dari anak saya. Alhamdulillah akhirnya ditemukan kembali,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mendorong sang istri menggunakan kursi roda untuk menjalankan tawaf dan sa’i. Ia menceritakan sempat menyewa kursi roda dan bernegosiasi harga dengan penyedia jasa.
Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, penyedia jasa tersebut justru mengizinkannya tetap menggunakan kursi roda tanpa biaya tambahan. Kursi roda itu kemudian digunakan Amsakar untuk membawa istrinya hingga ke lokasi bus dan area lain yang cukup jauh.Dari pengalaman tersebut, Amsakar mengambil pelajaran berharga.
“Memudahkan urusan orang, insya Allah pada waktunya Allah akan memudahkan urusan kita. Dan itu benar-benar saya rasakan,” katanya.
Selain beribadah, Amsakar juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di Madinah dan Makkah. Di antaranya Universitas Islam Madinah, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud serta Wakaf Utsman bin Affan.Di Universitas Islam Madinah, ia melihat koleksi Al-Qur’an kuno yang diperkirakan berusia sekitar 1.447 tahun.
Menurutnya, mushaf tersebut masih berupa tulisan Arab gundul tanpa tanda baca maupun hukum-hukum tajwid seperti yang dikenal saat ini. Ia juga mengunjungi kawasan Wakaf Utsman bin Affan yang memiliki sejarah panjang dalam membantu masyarakat mendapatkan akses air bersih.
Kawasan tersebut kini dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Saat berada di Masjid Qiblatain, Amsakar mengaku mendapat pengalaman spiritual yang berkesan ketika didoakan secara langsung oleh seorang imam sekaligus guru agama setempat yang diperkenalkan oleh pembimbing rombongan.
“Itu menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan bagi saya,” katanya.
Selama menjalani puncak ibadah haji, Amsakar mengaku memiliki energi yang luar biasa. Ia berjalan puluhan kilometer mulai dari Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat hingga kembali ke hotel dan melaksanakan tawaf ifadah serta sa’i.Bahkan pada malam hari ia kembali berjalan menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar jumrah berikutnya.
“Perjalanannya puluhan kilometer, tetapi saya merasa sangat bersemangat. Alhamdulillah semuanya dimudahkan,” ujarnya.
Ia juga mengaku sengaja memanfaatkan momentum ibadah haji untuk lebih banyak mendampingi sang istri.
“Saya sudah tanamkan dalam hati sejak berangkat bahwa ini saatnya membantu istri. Di Batam sangat sedikit waktu kami untuk bersama. Karena itu selama di Tanah Suci saya ingin benar-benar mendampingi beliau,” kata Amsakar.
Ia menambahkan, selama berada di Arab Saudi ia juga sempat bertemu dengan sejumlah pejabat nasional, termasuk Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan rencana kepulangannya lebih awal.
Setelah seluruh prosedur administrasi diselesaikan dan mendapat persetujuan, ia akhirnya dapat kembali ke Indonesia lebih cepat untuk menjalankan tugas pemerintahan dan memimpin BP Batam.










