BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Sales Area Manager Retail Kepri Pertamina Patra Niaga, Bagus Handoko, memastikan bahwa kondisi pasokan energi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap aman meski adanya dinamika global terkait konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menegaskan, berdasarkan hasil monitoring di lapangan, tidak terjadi kepanikan masyarakat dalam membeli bahan bakar.
“Alhamdulillah masyarakat tidak mengalami panic buying. Ini indikasi yang baik. Kami mengajak seluruh masyarakat Kepri untuk tidak khawatir karena gangguan di Selat Hormuz insyaallah tidak berdampak signifikan terhadap supply,” ujarnya.
Bagus mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan pembelian secara normal dan tidak melakukan penimbunan. Ia juga mendorong penggunaan energi secara bijak sebagai langkah antisipatif bersama.
Terkait harga, ia menjelaskan bahwa untuk BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi setiap bulan. Sementara itu, BBM subsidi sepenuhnya mengikuti kebijakan pemerintah melalui Kementerian ESDM. Ia juga mengutip pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang memastikan tidak ada penyesuaian harga hingga Lebaran.
Sementara itu, menanggapi isu panic buying di wilayah Karimun, Bagus menjelaskan bahwa kondisi di daerah tersebut memiliki karakteristik distribusi yang berbeda dibanding wilayah lain di Indonesia.
Karimun merupakan satu-satunya daerah dengan sistem distribusi “double handling”, yaitu dari depot ke kapal, kemudian ke mobil tangki, dan akhirnya ke SPBU. Berbeda dengan daerah lain yang langsung dari depot ke mobil tangki dan ke SPBU.
“Ritme suplai yang unik ini memengaruhi perilaku konsumen. Jadi tidak bisa serta-merta disebut panic buying, karena masyarakat membeli saat kapal datang, lalu kembali normal hingga suplai berikutnya,” jelasnya.
Bagus menegaskan bahwa stok energi bersifat dinamis sehingga tidak bisa dinyatakan secara statis dalam hitungan hari tanpa konteks suplai yang terus berjalan.
Sebagai gambaran, saat ini stok Pertalite mencapai 116.000 kiloliter dengan ketahanan sekitar 26 hari, sementara Pertamax sekitar 21.000 kiloliter dengan ketahanan hingga 93 hari.
Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut terus berubah karena adanya distribusi harian dan tambahan suplai berkala.
“Misalnya hari ini stok cukup lima hari, tapi tanggal 20 akan masuk tambahan 6.000 KL. Jadi tidak bisa dilihat secara statis, karena bisa memicu kepanikan jika disalahartikan,” katanya.
Menjelang Idulfitri, Pertamina juga memproyeksikan adanya penurunan konsumsi BBM di Batam. Hal ini dipengaruhi pola mudik masyarakat yang sebagian besar keluar daerah, terutama ke Sumatera Barat dan wilayah lainnya.
Meski demikian, Pertamina tetap bersiaga melalui Satuan Tugas (Satgas) untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang mungkin terjadi.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah penambahan armada distribusi dengan memanfaatkan mobil tangki non-reguler (putih-biru), yang biasanya melayani sektor industri.
“Karena saat Satgas, aktivitas industri cenderung menurun, armadanya bisa dialihkan untuk mendukung distribusi ke masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, konsumsi avtur mengalami peningkatan sebesar 11 persen dibandingkan kondisi normal. Namun, Bagus menegaskan bahwa harga avtur bersifat business to business (B2B) antara Pertamina dan maskapai, sehingga tidak berdampak langsung pada masyarakat.









