Friday, March 6, 2026
HomeBisnisRekor 10 Tahun, Ekonomi Kepri Melejit 2025 Gejolak Global Jadi Ujian 2026

Rekor 10 Tahun, Ekonomi Kepri Melejit 2025 Gejolak Global Jadi Ujian 2026

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) justru mencatatkan capaian impresif sepanjang 2025. Namun, di balik pertumbuhan yang melesat, tantangan menjaga momentum tetap tinggi pada 2026 menjadi pekerjaan besar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengungkapkan ekonomi Kepri tumbuh 6,94 persen pada 2025 tertinggi dalam 10 tahun terakhir dan melampaui rata-rata nasional.

“Capaian ini menunjukkan struktur ekonomi Kepri cukup kuat. Industri pengolahan masih menjadi penopang utama pertumbuhan,” ujarnya dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Batam, Selasa (3/3/2026).

Selain industri pengolahan, sektor pertambangan dan konstruksi turut berkontribusi besar terhadap akselerasi ekonomi daerah. Namun, Rony mengingatkan bahwa mempertahankan pertumbuhan di level tinggi bukan perkara mudah.

Menurutnya, tantangan utama 2026 terletak pada potensi stagnasi produksi sektor tambang. Jika produksi tidak meningkat signifikan, maka capaian pertumbuhan setara 2025 akan sulit terulang.

“Kalau produksi tambang stagnan, target pertumbuhan yang sama akan berat dicapai. Artinya, perlu diversifikasi sumber pertumbuhan,” tegasnya.

BACA JUGA:   Prabowo Masih Unggul Menurut Survei: Media Singapura Sebut Lokasi Kampanye Calon Presiden

Karakteristik ekonomi Kepri yang bertumpu pada ekspor dan investasi asing, terutama di Batam, membuat stabilitas eksternal sangat berpengaruh. Gejolak global, mulai dari ketidakpastian perdagangan hingga fluktuasi harga komoditas, menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Meski demikian, prospek 2026 dinilai masih terbuka untuk tetap berada di level tinggi, asalkan penguatan sektor domestik mampu dilakukan.

Rony menekankan, pertumbuhan tidak cukup hanya tinggi secara angka. Konsumsi masyarakat dan peningkatan pendapatan harus menjadi indikator keberhasilan yang lebih luas.

“Pertumbuhan inklusif tercermin dari konsumsi yang meningkat dan pendapatan masyarakat yang membaik,” ujarnya.

Ia melihat ruang peningkatan belanja domestik masih terbuka lebar, sehingga Kepri tidak semata bergantung pada ekspor.

Dari sisi harga, inflasi Februari 2026 secara nasional tercatat 4,7 persen, berada di atas target. Sementara inflasi Kepri mencapai 3,5 persen dan juga berada di atas batas nasional. Kenaikan tarif listrik menjadi faktor dominan pendorong inflasi nasional.

BI Kepri memastikan pengendalian inflasi akan terus diperkuat, terutama menjelang hari besar keagamaan saat permintaan masyarakat meningkat. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan akan terus diintensifkan.

BACA JUGA:   Gekrafs Gelar Batam Creative Fest 2023, Walikota Rudi: Pemerintah Akan Buatkan Tempat Khusus!

Hasil Survei Konsumen Triwulan I 2026 menunjukkan optimisme masyarakat tetap terjaga. Aktivitas usaha dan konsumsi masih tumbuh tinggi secara triwulanan.

Untuk memperkuat ekonomi inklusif, BI Kepri juga akan menggelar Kurma (Kepulauan Riau Ramadhan Fair) 2026 di Batam dan Tanjungpinang. Kegiatan ini menjadi wadah integrasi ekonomi dan keuangan syariah sekaligus memperluas akses pasar serta pembiayaan bagi pelaku UMKM.

“UMKM harus terus didorong tumbuh. Ini bagian dari upaya memperkuat ekonomi inklusif dan memperluas sumber pertumbuhan,” katanya. (uly)

spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER