Tuesday, May 26, 2026
HomeBisnisDari Gulma, Sambal hingga Kerupuk: Kisah UMKM Kepri Tembus Pasar Ekspor

Dari Gulma, Sambal hingga Kerupuk: Kisah UMKM Kepri Tembus Pasar Ekspor

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Dari rumah sederhana, lahir tangan-tangan kreatif. Bermodal ketekunan dan keyakinan, kini produk yang mereka hasilkan menembus pasar ekspor.

Mereka adalah, Tisnawati pemilik Isna Puring. Mengolah gulma eceng gondok menjadi produk kerajinan. Ikhsan Hasibuan, pemilik Kerupuk Kenara. Memproduksi kerupuk dari olahan hasil laut. Ropiandi pemilik Sambal Sijago. Memproduksi berbagai jenis sambal kemasan yang siap saji.

Produk-produk mereka turut ditampilkan dalam kegiatan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) di One Batam Mall pada Agustus 2025. Produk merekapun banyak diburu pengunjung pameran.

Untuk sampai ditahap ini, bukan hal yang mudah. Banyak tantangan yang mereka hadapi. Mulai dari ketidakpercayaan hingga minimnya modal yang mereka miliki. Namun, hal itu bukan jadi pematah semangat.

Gulma Menjadi Emas

Di teras rumahnya yang sederhana, Tisnawati yang lebih akrab disapa Isna menceritakan kisahnya merintis usaha mengolah eceng gondok menjadi berbagai jenis kerajinan tangan bernilai tinggi.

Usaha itu ia mulai sejak 2013. Sebelumnya ia telah menekuni kerajinan tangan lain berupa rajutan benang. Namun, suatu sore ibu satu anak ini berpikir mengubah eceng gondok menjadi kerajinan setelah melihat banyaknya gulma air di sekitar tempat tinggalnya, di Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam.

“Saya kepikiran, kok dimanfaatkan aja eceng gondok ini. Kan di sekitar rumah banyak,” ujar Isna, Jumat (29/8/2025).

Tisnawati pemilik Isna Puring menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)
Tisnawati pemilik Isna Puring menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)

Isna tak pikir panjang lagi, ia langsung mengambil eceng gondok di waduk Dam Duriangkang yang saat itu banyak terdapat di sana dan mengolahnya tahap demi tahap. Mulai dari mengeringkan hingga menganyam menjadi keranjang. Namun, tak semua produknya langsung berhasil.

“Kadang ada yang busuk, kadang ada yang tak rapi. Jadi perlu ketekunan lebih dan inovasi biar tak busuk,” katanya.

Dari ketekunan dan inovasi yang dilakukan, hasil kerajinan Isna rupanya banyak diminati dan kemudian membuat produk lainnya. Seperti tas, sandal, karpet, vas bunga, alas piring, hingga furniture seperti meja dan kursi.

Harganya pun bervariasi, mulai Rp 50 ribu untuk alas piring dan vas bunga hingga Rp 2,5 juta untuk Furniture seperti kursi dan meja.

Hasil kerja keras Isna mengembangkan olahan kerajinan dari eceng gondok terus berkembang. Kemudian ia mulai memberdayakan masyarakat sekitar, dari memasok bahan utama hingga membuat sub produksi eceng gondok.

Tak hanya meningkatkan produksi dan kualitas produk, agar diterima pasar lebih luas Isna melengkapi perizinan usaha yang dibutuhkan. Hasilnya, tak hanya di Batam, produk Isna kini telah menembus Malaysia dan Singapura. Setiap bulan setidaknya ia mengirim 100 – 150 kemasan Goodie Bag ke Singapura.

Selain melalui penjualan langsung, Isna juga memanfaatkan digitalisasi melalui Shopee Ekspor untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, saat ini ia tengah bersiap mengekspor tas ke Turki.

“Awal ekspor saya difasilitasi Bank Indonesia Kepri. Dibiayai sekali, setelah itu mandiri. BI mendidik dari nol hingga siap ekspor,” ujarnya.

Dalam proses ekspor, ia melengkapi dokumen asal kayu untuk furniture, dengan dukungan pemerintah dan Bea Cukai. Berkat Quality Control (QC) yang ketat, produknya pun lolos standar tanpa ada pengembalian.

Lebih dari sekadar bisnis, usaha Isna telah menciptakan jejaring pemberdayaan. Ia melibatkan 12 penduduk setempat yang masing-masing memiliki murid. Total ada sekitar 30 orang yang kini bisa menganyam dari rumah mereka masing-masing.

“Nanti hasil kerajinan mereka proses Finishingnya dibawa ke Workshop kita kemudian dipasarkan,” ujarnya.

Produk yang layak dipasarkan dikumpulkan di workshop Isna, sementara yang kurang rapi dijadikan bahan belajar. Dua kali sebulan, mereka berkumpul di workshop untuk menganyam bersama.

BACA JUGA:   Jelvin Sebut BVK PR Singapura Bagus, Harus Didukung Pengawasan Ketat

“Saya ingin nantinya kawasan rumah saya bisa jadi kampung kerajinan eceng gondok,” ujarnya penuh harap.

Karena keberhasilannya, Isna diminta untuk melatih narapidana membuat kerajinan eceng gondok di Lapas Wanita Batam. Pemerintah juga memanfaatkan Isna untuk melatih warga di pulau-pulau dan menjadikan rumahnya sebagai tempat wisatawan yang ingin melihat langsung dan belajar membuat kerajinan eceng gondok.

Kini, rumah Isna di Jalan Bukit Ayu Lestari, Sei Beduk, Kota Batam, sudah bertransformasi menjadi galeri eceng gondok. Wisatawan lokal maupun mancanegara kerap datang sekadar melihat atau membeli. Turis Singapura bahkan rutin mampir membawa pulang kerajinan khas itu.

Dari ruang tamu rumahnya, terpajang beragam karya: tas tangan, vas bunga, anting, hingga meja kursi yang seluruhnya berasal dari serat gulma.

“Rumah sudah kayak showroom kerajinan,” katanya tertawa kecil.

Pedasnya Sambal Sijago

Di sebuah rumah di Kavling Bengkong Jaya Blok G Nomor 1, Kelurahan Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, tercium aroma yang menggugah selera. Ropiandi tengah sibuk mengaduk sambal dalam wajan besar.

Dari tangannya, lahirlah sambal dengan cita rasa khas Kepulauan Riau yang kini dikenal dengan nama Sambal Sijago. Diolah dari cabai, ikan asin, ikan asap, cumi, gonggong yang merupakan hasil laut. Dan kini telah menembus pasar ekspor.

Sama halnya dengan Isna, Ropiandi juga memulai usahanya dengan susah payah. Berbagai tantangan dan kegagalan telah dilaluinya.

Ropiandi pemilik Sambal Sijago menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)
Ropiandi pemilik Sambal Sijago menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)

Perjalanan Sambal Sijago tak selalu mulus. Di awal merintis, Ropiandi kerap menghadapi sambal basi, daging keras dan rasa yang tidak konsisten. Dari inovasi yang dilakukan tercipta lima varian rasa yang menjadi andalan : sambal ikan asin, sambal cumi asin, sambal Batam gonggong, sambal ikan asap, dan sambal bawang.

“Itu semua pengalaman. Kita evaluasi lagi, kita terima semua saran, sampai akhirnya dapat rasa yang pas,” kenangnya.

Agar lebih menarik dan tahan lama, Sambal Sijago juga telah dikemas secara modern hingga memiliki daya tahan lama lebih kurang setahun tanpa pengawet makanan.

Pria yang akrab disapa Ropi ini menceritakan proses pemasaran. Awalnya dititipkan di sejumlah toko Batam dan dipasarkan lewat reseller. Lambat laun, jangkauannya meluas hingga ke Jakarta, kemudian menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura pada Januari 2025.

Kini, produk Sambal Sijago bisa ditemui di rak Diamond Supermarket, Gelael, Lotte, Hypermart, Boy Mart, SNL Food, hingga Santai Mart di Singapura dan Najah Food di Malaysia.

Untuk menembus ekspor bukan tanpa tantangan. Ropiandi harus menyiapkan produk agar lolos sertifikasi dan layak dijual di luar negeri.

Hasilnya, sejak ekspor awal tahun 2025, penjualan Sambal Sijago semakin meningkat. Bagi Ropiandi, itu tanda kualitas produknya diakui.

Sebelum fokus di sambal, pria asal berdarah Minang ini sempat merintis makanan khas Sumatera Barat, rendang yang dikemas dalam kantong kecil. Produk tersebut masih populer dan masih diproduksi hingga saat ini.

Bunyi Kriuk dari Karimun

Dari dapur sederhana di Perumahan Bukit Tembak Asri, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), enam orang karyawan terlihat sibuk bekerja memproduksi Kerupuk Kenara. Ada yang mengadon, menggoreng hingga membungkusnya.

Pemilik usaha itu, Ikhsan Hasibuan, pria kelahiran Medan 22 September 1988. Ia tak menyangka usaha kecil yang dirintis bersama istri sejak 2018 bisa berkembang sejauh ini.

“Awalnya saya cuma bilang ke istri, coba buat kerupuk ikan dan udang. Soalnya bahan bakunya banyak, mungkin bisa jadi usaha,” kenangnya sambil tersenyum.

BACA JUGA:   Indonesia Kutuk Serangan Rudal Israel Terhadap RS Indonesia di Gaza
Ikhsan Hasibuan, pemilik Kerupuk Kenara menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)
Ikhsan Hasibuan, pemilik Kerupuk Kenara menunjukkan produknya dalam kegiatan GMP 2025. (uly)

Perjalanan itu tidak mudah. Dengan modal hanya Rp 500 ribu, mereka berkali-kali gagal. Adonan sering tak mengembang, warnanya hitam, atau teksturnya terlalu keras.

“Gagalnya 90 persen. Tapi kami terus coba. Belajar dari kompetitor besar, minimal produk kami bisa sama atau lebih bagus,” ujar Ikhsan.

Perjuangan itu berbuah hasil. Kerupuk Kenara kini mampu memproduksi 40 kilogram kerupuk udang dan 36 kilogram kerupuk ikan setiap hari. Dari usaha yang dulunya hanya dikerjakan berdua, kini berkembang dengan enam karyawan yang merupakan warga sekitar.

Awalnya, Kerupuk Kenara hanya dipasarkan lewat teman-teman dekat. Pesanan mulai ramai, terutama menjelang lebaran. Suara “kriuk” dari dapur rumah Ikhsan akhirnya membawa mereka lolos kurasi Bank Indonesia pada 2022. Dari situ, pintu-pintu baru terbuka.

Produk mereka perlahan masuk pasar ritel. Satu per satu supermarket besar di Karimun menerima kerupuk Kenara, hingga kini sudah masuk 15 gerai modern. Tak berhenti di situ, Ikhsan melebarkan sayap ke Batam.

Setelah menunggu masa evaluasi dokumen selama setahun, kerupuknya berhasil dipajang di rak-rak Hypermart, DC Mall, dan toko oleh-oleh Batam.

Siapa sangka bunyi mendesis minyak di Karimun itu kini bergema sampai ke luar negeri. Capaian terbesar Ikhsan adalah ketika produknya berhasil menembus pasar ekspor.

Dengan bantuan Bank Indonesia (BI) melalui program business matching, Kerupuk Kenara kini rutin masuk ke Singapura setiap minggu sebanyak 300 bungkus dengan nilai transaksi sekitar 1.200 SGD per bulan. Produk itu dipasarkan di Lucky Plaza dan beberapa cabangnya.

Sementara ke Malaysia, ekspor dilakukan sebulan sekali, sekitar 500 bungkus kerupuk. Ikhsan pertama kali membuka jalur ke negeri jiran pada 2023, setelah memberanikan diri ikut Pameran Majestic Johor. Biaya ditanggung secara patungan bersama sesama pelaku UMKM. Hasilnya di luar dugaan, transaksi penjualan tembus RM7.500 dalam 10 hari.

“Rasanya terkejut sekali. Ternyata produk kita bisa diterima di sana,” ujar Ikhsan.

Harga jual kerupuk saat diekspor naik 80 hingga 120 persen dari harga lokal. Perjalanan bisnis lintas negara tak selalu mulus. Pernah satu kali, barang yang dikirim ke Malaysia tidak diambil oleh pengorder sehingga harus kembali lagi ke Karimun, lengkap dengan biaya tambahan. Hal serupa terjadi di Singapura, ketika dua kardus kerupuk yang sudah turun dari kapal justru hilang.

Namun bagi Ikhsan, ekspor adalah penyelamat di tengah melemahnya daya beli masyarakat dalam negeri.

“Di Karimun penjualan turun sampai 30 persen karena pendapatan pegawai berkurang. Tapi permintaan luar negeri masih bagus,” katanya.

Kini, kerupuk Kenara juga sudah hadir di Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan Bengkulu. Harapannya, pemerintah terus membuka ruang business matching dengan negara tetangga agar produk UMKM seperti miliknya semakin dikenal.

“Kalau ada forum bertemu dengan buyer, kita bisa dapat masukan langsung. Itu sangat membantu,” ujarnya.

Dari Kepri ke Dunia

Kisah Isna, Ikhsan, dan Ropiandi adalah potret nyata bahwa pasar global bukan milik konglomerat saja. Dari kolam, dapur, hingga ruang tamu rumah sederhana, produk-produk lokal Kepri kini melangkah ke panggung dunia.

Mereka membuktikan bahwa keberlanjutan, inovasi, dan semangat pantang menyerah bisa lahir dari hal-hal sederhana bahkan dari gulma, wajan kerupuk, hingga sambal pedas di dapur rumah.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi mengatakan tidak mudah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar ekspor. Namun, langkah itu kini sedang ditempuh oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

BACA JUGA:   Penerbangan Korea Selatan - Batam Mampu Dongkrak Pariwisata Batam

Hingga akhir tahun 2025, mereka menargetkan sedikitnya 100 UMKM di Kepri siap berorientasi ekspor. Salah satu wadah pembinaan dan promosi itu adalah Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025, yang tahun ini diikuti 24 UMKM lintas sektor, mulai dari food & beverage, wastra, fashion, hingga kriya.

Pria berbaju batik ini mengatakan semangat para UMKM inilah yang membuat mereka istimewa. Meski kerap menghadapi berbagai hambatan, para pelaku usaha tetap mencari cara agar bisa bertumbuh.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi mengatakan tidak mudah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar ekspor. (uly)
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi mengatakan tidak mudah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar ekspor. (uly)

“UMKM ini hebatnya, mereka sudah mendapatkan capacity building. Di sela-sela tantangan, mereka tetap bisa bertumbuh dan menghasilkan cuan. Itu kekuatannya,” ujar Riki.

Setiap tahun, kegiatan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) menjadi ruang belajar bersama bagi UMKM. Selain promosi, ada pula edukasi mengenai inovasi, strategi bisnis, hingga cara menembus pasar global. Riki menyebut, pengalaman para pelaku usaha ini sering kali melahirkan “trik-trik lapangan” yang justru melampaui birokrasi.

Ia melanjutkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ada sekitar 114 ribu UMKM di Kepri. Jumlah besar ini akan ditata dalam sistem data tunggal terintegrasi di bawah Kementerian UMKM.

Ke depan, kekuatan UMKM juga akan didukung dengan skema pendanaan baru melalui Koperasi Merah Putih, yang di dalamnya akan mengakomodasi pelaku usaha hingga program MBG (Makanan Bergizi Gratis).

“Kalau ingin jadi orang yang berhasil, jangan pernah berhenti berinovasi,” tegas Riki.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., menyebutkan bahwa GMP kali ini lebih diarahkan untuk mendorong UMKM agar mampu menembus pasar internasional.

“Tahun ini ada 24 UMKM yang sudah mendapatkan akses pasar di Singapura dan Malaysia. Tetangga kita itu kaya raya, dan ini kesempatan baik bagi kita. Kita lengkapi dengan digitalisasi,” ujarnya.

Menurut Rony, capaian penting dari GMP adalah Business Matching yang menyangkut penjualan dan pembiayaan. Jika sebelumnya nilai transaksi tercatat sebesar Rp10 miliar, pada tahun ini ditargetkan meningkat menjadi Rp13 miliar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., mengatakan ekspor sebagai “strata tertinggi” dalam kinerja UMKM. (uly)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., mengatakan ekspor sebagai “strata tertinggi” dalam kinerja UMKM. (uly)

Secara nasional, UMKM binaan Bank Indonesia telah membukukan transaksi ekspor hingga Rp1,4 triliun. Sementara di Kepri, jumlahnya memang baru 24 UMKM, namun akan terus dikembangkan secara bertahap.

Rony menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak boleh hanya bergantung pada dana tanggung jawab sosial (CSR).

“Kalau UMKM hidup hanya dari dana CSR, maka hasilnya akan segitu-segitu saja. Harus bisa mengakses dana-dana perbankan,” katanya.

Bank Indonesia, lanjutnya, terus mendorong peningkatan kapasitas UMKM, baik dari sisi inovasi maupun pembiayaan. Setiap tahun, selalu ada produk baru yang lahir. UMKM Kepri, kata Rony, memiliki potensi besar baik di pasar domestik maupun mancanegara, dengan dukungan warisan budaya Melayu.

Rony menggambarkan ekspor sebagai “strata tertinggi” dalam kinerja UMKM. Untuk mencapainya, Bank Indonesia telah menyiapkan tahapan pembinaan mulai dari kelompok perintis yang baru memperoleh penghasilan, kemudian naik ke level potensial, masuk pasar domestik, digital, hingga akhirnya menembus ekspor.

“Misalnya, kalau mau masuk ke Singapura tentu harus melengkapi standar tertentu. Itu yang terus kita dampingi,” katanya.

Bagi Rony, ekspor bukan hanya soal membuka pasar, melainkan juga berkaitan dengan stabilitas ekonomi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa komposisi ekspor UMKM Indonesia masih sekitar 15 persen. Sehingga perlu dorongan lebih kuat untuk mampu bersaing dengan produk serupa dari negara lain. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER