Saturday, October 3, 2026
HomeBatamInflasi Kepri September 3,49 Persen Turun, Tapi Harga Sejumlah Kebutuhan Masih Tinggi

Inflasi Kepri September 3,49 Persen Turun, Tapi Harga Sejumlah Kebutuhan Masih Tinggi

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Inflasi Kepulauan Riau (Kepri) mulai melandai pada September 2026. Namun, penurunan angka inflasi tahunan belum sepenuhnya berarti tekanan harga mereda.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Kepri pada September 2026 sebesar 3,49 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dari 3,87 persen pada Agustus 2026.

Di balik penurunan tersebut, sejumlah komoditas masih mencatat level harga yang relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Emas perhiasan, angkutan udara, bensin, nasi dengan lauk, dan beras menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan di Kepri.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Rony Widijarto P, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski laju inflasi melandai, harga sejumlah komoditas masih memberikan tekanan.

Berdasarkan data BPS, emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,44 persen terhadap inflasi tahunan Kepri. Berikutnya angkutan udara 0,30 persen, bensin 0,27 persen, nasi dengan lauk 0,26 persen, dan beras 0,18 persen.

Tingginya harga emas perhiasan sejalan dengan perkembangan harga emas dunia. Sementara tarif angkutan udara dan harga bensin masih berada di atas level tahun sebelumnya. Harga nasi dengan lauk juga masih relatif tinggi dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA:   Peningkatan Infrastruktur Jalan Disesuaikan Kemampuan APBD Kota Batam

Kondisi tersebut dipengaruhi akumulasi kenaikan harga pada periode sebelumnya, ditambah biaya bahan baku dan faktor produksi yang masih tinggi.

“Besarnya andil sejumlah komoditas tersebut menunjukkan bahwa level harganya masih relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Rony.

Dengan inflasi 3,49 persen, Kepri masih berada di atas angka nasional yang tercatat 3,28 persen (yoy) pada September 2026. Secara nasional, tekanan inflasi terutama berasal dari emas perhiasan, bensin, ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Pola serupa terlihat di Kepri, terutama pada emas perhiasan, bensin, dan beras. Namun, tekanan harga di daerah kepulauan ini juga diperkuat oleh angkutan udara serta nasi dengan lauk yang memberikan kontribusi lebih besar. Di tingkat daerah, seluruh wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kepri mengalami inflasi.

Kota Batam mencatat inflasi 3,65 persen, Kota Tanjungpinang 3,76 persen, sedangkan Kabupaten Karimun 1,63 persen (yoy).
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera, inflasi Kepri berada di posisi kelima, setelah Aceh 5,03 persen, Kepulauan Bangka Belitung 4,30 persen, Lampung 3,51 persen, dan Sumatera Barat 3,50 persen.

BACA JUGA:   Beri Kemudahan Layanan Perizinan, BP Batam Raih Penghargaan Bhumandala Ariti

Tekanan harga justru terlihat lebih jelas jika dilihat secara bulanan. Setelah mengalami deflasi 0,17 persen pada Agustus, Kepri pada September 2026 kembali mengalami inflasi 0,27 persen.

Pendorong utamanya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,88 persen, dengan andil sebesar 0,26 persen.

Sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, kangkung, dan cabai rawit ikut mendorong kenaikan harga. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan panen dari daerah sentra produksi di Sumatera bagian Utara dan Jawa.

Tekanan juga datang dari daging ayam ras. Kenaikan harga terjadi seiring meningkatnya permintaan ketika pasokan relatif terbatas.
Kelompok pendidikan turut mengalami inflasi sebesar 0,41 persen dengan andil 0,03 persen. Salah satu pemicunya adalah aktivitas pendaftaran ulang perguruan tinggi pada September.

Namun, kenaikan tersebut masih tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,25 persen.

Penurunan terutama terjadi pada tarif angkutan udara seiring masuknya periode low season setelah berakhirnya musim liburan.
Emas dan Cabai Jadi Perhatian Memasuki Oktober

Memasuki Oktober 2026, BI Kepri masih mewaspadai sejumlah faktor yang dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.

BACA JUGA:   Dorong Hospitality Berkelanjutan, Santika Luncurkan Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Beberapa di antaranya adalah volatilitas harga emas dunia, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, tekanan imported inflation, serta potensi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Sejumlah langkah telah dilakukan sepanjang September. Di antaranya High Level Meeting TPID se-Provinsi Kepri, rapat koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran SPHP di berbagai kabupaten/kota, serta pemberian sarana dan prasarana ketahanan pangan kepada kelompok tani unggulan.

Ke depan, BI bersama TPID juga akan memperkuat produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, kerja sama antardaerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi.
Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk menjaga inflasi Kepri hingga akhir 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan demikian, meski inflasi tahunan Kepri sudah turun dari 3,87 persen menjadi 3,49 persen, tantangan pengendalian harga belum sepenuhnya berakhir.

Pergerakan harga emas dunia dan komoditas pangan, khususnya cabai, masih menjadi faktor yang perlu dicermati dalam beberapa bulan terakhir 2026. (*/uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER