BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Presidium Majelis Nasional sekaligus Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) MD KAHMI Kota Batam ke-VII. Sekaligus momentum memperingati Milad KAHMI di Grand Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Sabtu (19/9/2026).
Pembukaan Musda ditandai dengan pemotongan tumpeng. Rangkaian kegiatan diawali Dialog Publik Nasional yang mengangkat tema “Penguatan Peran KAHMI dalam Mendorong Daya Saing Batam sebagai Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi di Indonesia.”

Dialog tersebut mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari legislatif, pengawasan pelayanan publik, pengelola kawasan Batam, hingga kalangan intelektual.
Sejumlah tokoh menjadi narasumber dalam forum tersebut, yakni Ketua Komisi II DPR RI, Ombudsman RI, Kepala BP Batam, serta Dewan Pakar KAHMI.
Forum ini secara khusus membahas berbagai tantangan dan peluang Batam dalam memperkuat daya saing investasi, terutama dari aspek regulasi, kepastian kebijakan, tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, serta pembangunan yang berkelanjutan.
KAHMI menilai daya saing Batam tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dan insentif investasi, tetapi juga oleh kualitas regulasi, kepastian pelayanan, transparansi tata kelola, serta kemampuan pemerintah merespons kebutuhan dunia usaha dan masyarakat.
Karena itu, Dialog Publik Nasional tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat disampaikan kepada para pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam memperkuat pembangunan Batam.
Muhammad Rifqinizamy Karsayuda mengapresiasi pelaksanaan Musda KAHMI Kota Batam yang diinisiasi oleh jajaran Majelis Daerah KAHMI Kota Batam, termasuk Ketua MD KAHMI Batam, Amsakar Achmad.
Rifqinizamy juga menyampaikan harapannya agar Amsakar berkenan melanjutkan pengabdiannya, termasuk membuka peluang untuk berkiprah di tingkat nasional.
“Saya mengapresiasi acara yang diinisiasi dan dilakukan oleh Majelis Daerah Kota Batam, terutama ketuanya Kakanda Dr. Amsakar Ahmad. Kota Batam serius, Kepala BP Batam. Saya kira suasana kebatinan hari ini sangat berharap Kakanda Amsakar berkenan kembali untuk memimpin KAHMI Kota Batam,” ujar Rifqinizamy.
Menurut dia, posisi kepemimpinan di KAHMI Kota Batam sebenarnya relatif kecil dibandingkan manfaat pengabdian yang dapat diberikan Amsakar bagi organisasi dan daerah.
“Jabatan ini sebetulnya terlalu kecil untuk Bang Amsakar, tapi manfaatnya saya meyakini dan sudah merasakan sangat besar. Bukan hanya untuk KAHMI Kota Batam, tapi juga bagi KAHMI Kepri dan kami di tingkat nasional,” katanya.
Rifqinizamy mengatakan, KAHMI di tingkat nasional beberapa waktu lalu telah menggelar silaturahmi regional KAHMI se-Sumatera yang berjalan dengan baik dan lancar. Ia berharap Amsakar dapat melanjutkan pengabdiannya dalam ruang yang lebih besar.
“Saya juga hari ini mengharapkan Bang Amsakar berkenan untuk melanjutkan pengabdian yang lebih besar untuk kami, untuk nanti menggantikan kami menjadi bagian dari Presidium Majelis Nasional KAHMI,” ujarnya.
Ia menyebut, dari Kepulauan Riau belum pernah ada lagi kader yang duduk di posisi tersebut setelah sebelumnya pernah diisi almarhum Hari Azhar Aziz.
“Dari Kepri ini belum pernah ada. Dulu pernah almarhum Hari Azhar Aziz, sekarang Bang Amsakar kalau berkenan,” kata Rifqinizamy.
KAHMI Dorong RUU Pemdasus Batam
Selain persoalan kepemimpinan organisasi, Rifqinizamy juga menyampaikan gagasan mengenai penguatan posisi Batam melalui regulasi khusus.
Ia mengatakan KAHMI ingin menginisiasi, bersama BP Batam, penyusunan Rancangan Undang-Undang Pemdasus Batam.
Menurutnya, regulasi tersebut diperlukan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang selama ini muncul akibat fragmentasi kewenangan dan urusan yang tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
0
“Kami ingin menginisiasi dan tentu bersama dengan BP Batam untuk melahirkan Rancangan Undang-Undang Pemdasus Batam,” katanya.
Rifqinizamy menilai RUU tersebut penting untuk memberikan penguatan kepada Batam sebagai sebuah teritori yang dapat dikelola secara lebih kuat.
“Rancangan Undang-Undang ini menurut hemat kami penting untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang selama ini kami lihat dari kacamata nasional. Diperlukan untuk memberikan penguatan kepada Batam sebagai sebuah teritori untuk dikelola dengan lebih kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, regulasi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan persoalan fragmentasi kewenangan, termasuk fragmentasi urusan yang selama ini diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
“Termasuk kemudian fragmentasi urusan yang selama ini diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan bisa kita selesaikan pada wilayah itu,” katanya.
Rifqinizamy berharap gagasan tersebut dapat dikaji lebih lanjut dan apabila dinilai relevan dapat segera diwujudkan.
“Mudah-mudahan ide dan gagasan ini nanti kalau kita kaji mendapatkan relevansinya dan saya berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama ini bisa kita lahirkan untuk juga menjadi bagian dari legasi kepemimpinan Pak Amsakar dan Bu Lee Claudia pada periode ini,” tuturnya.
Amsakar: Musda Adalah Amanah Organisasi
Sementara itu, Ketua MD KAHMI Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa pelaksanaan Musda merupakan amanah organisasi untuk melakukan proses transisi kepemimpinan.
Ia menyebut masa kepengurusannya telah selesai sehingga proses pergantian kepemimpinan harus dilakukan melalui mekanisme Musda sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
“Yang paling penting saya ingin sampaikan kepada rekan-rekan media bahwa apa yang dilakukan oleh MD KAHMI hari ini adalah amanah. Bahwa kepengurusan saya sudah selesai dan transisi kepemimpinan itu harus dilakukan melalui musyawarah daerah,” ujar Amsakar.
Mengenai kemungkinan dirinya kembali mencalonkan diri sebagai Ketua MD KAHMI Kota Batam, Amsakar menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme organisasi.
“Soal ke depan, mekanisme AD/ART yang ada di organisasi. Prinsipnya silakan SC atau OC memformulasikan, mulai dari pencalonan sampai nanti pemilihan. Kita ikuti tatib yang sudah disusun,” katanya.
Amsakar juga mengatakan bahwa bagi dirinya, berada di KAHMI merupakan bagian dari jalur pengabdian.
“Saya sampaikan kepada adik-adik bahwa bagi saya ini adalah jalur pengabdian,” ujarnya.
Menurut Amsakar, keberadaan KAHMI memberikan akses dan jejaring yang luas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Hal itu dinilainya menjadi salah satu nilai penting dalam perjuangan organisasi untuk kepentingan Batam.
“Di sini sebenarnya banyak yang cukup menguatkan, tapi hati saya memang terpanggil karena sejauh ini link-link kita yang ada di tingkat nasional itu selalu memberikan jalan bagi Batam,” katanya.
Ia menilai posisi sebagai Ketua MD KAHMI Kota Batam juga membuka banyak akses di tingkat nasional.
“Dengan posisi sebagai MD ini banyak akses yang kita bisa masuk di level nasional,” ujarnya.
Amsakar mencontohkan komunikasi dan jejaring dengan sejumlah tokoh nasional yang menurutnya dapat mendukung berbagai kegiatan dan agenda KAHMI di Batam.
“Dengan adinda Rief, saya tinggal kontak, adinda hadir untuk seminar. Dengan Dinda Nusron, saya tinggal kontak, hadirnya dinda. Abang berharap supaya bobot Musda ini juga akan menggema di level nasional,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah senior KAHMI yang semula diharapkan hadir juga memiliki agenda lain pada waktu bersamaan.
“Sayang abang namanya salah seorang senior kita sedang acara bersamaan pula. Ya, Doli pun ya. Itu kalau enggak dia pun akan ke sini. Tadi saya sudah kontak,” ujarnya.
Sementara itu, terkait dinamika pencalonan dalam Musda, Amsakar menyatakan tidak ingin berkompetisi dengan kader-kader yang lebih muda apabila dirinya kembali diminta maju.
Ia bahkan mengatakan lebih memilih mendorong kader-kader muda untuk mengambil kesempatan memimpin KAHMI Kota Batam.
“Kalau ada figur yang maju, abang dalam posisi mengantarkan. Dididik, biar dimusyawarahkan ini secara baik,” katanya.
Menurut Amsakar, kompetisi antarkader dalam organisasi tidak perlu terjadi apabila terdapat kader-kader muda yang memiliki minat untuk memimpin.
“Kalau misalnya minta abang maju, abang tidak mau ada calon banyak-banyak itu. Apa namanya, menurut abang jauh lebih baik abang dengan sikap dorong adik-adik,” ujarnya.
Ia mengaku tidak ingin berhadapan secara kompetitif dengan kader-kader muda yang selama ini dianggapnya sebagai bagian dari regenerasi organisasi.
“Nggak enak bertempur sama-sama, terutama dengan adik-adik yang punya minat yang sama. Udah kita dorong. Sebab abang tidak akan tinggalkanmu, sekalipun bukan dalam posisi sebagai pemimpin,” katanya.
Saat ditanya mengenai informasi adanya kader, termasuk Bu Riyama, yang disebut-sebut mengalihkan dukungan atau suaranya kepada dirinya, Amsakar kembali menegaskan bahwa seluruh proses harus diserahkan kepada mekanisme organisasi.
“Musingkan mau ada yang mencalonkan, mau tidak ada yang mencalonkan. Ada yang masuk WA, ada juga yang menyatakan permohonan maaf. Saya tidak tahu karena dua, tiga hari terakhir ini saya posisi Jakarta,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara rinci perkembangan teknis yang telah disusun Steering Committee (SC) maupun Organizing Committee (OC) Musda.
“Saya tidak tahu sih apa yang sudah disusun oleh SC, apa yang disusun oleh OC, bagaimana mekanismenya. Kita murni serahkan itu kepada orang yang memang sudah kita berikan amanah di SK,” katanya.
Amsakar juga menyebut kemungkinan adanya sejumlah nama lain yang dapat muncul dalam proses pencalonan.
“Bahwa nanti Ibu Riyama nyerahkan, Gita Dinda, mungkin juga ada calon lain. Jangan-jangan Sayuti misalnya nyerahkan,” ujarnya.
Menurutnya, apabila para kader memiliki pandangan yang sama dengan dirinya dan tetap meminta dirinya maju, maka ia meminta agar tidak terjadi proses saling berkompetisi.
“Berarti adik-adik punya pemikiran yang sama dengan yang abang pikirkan. Berarti kalau minta abang maju ya jangan menyalurkan diri, karena abang sudah bilang seperti itu,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa dirinya lebih memilih berada di belakang proses regenerasi dan mengantarkan kader-kader muda.
“Terlalu mahal lah kalau abang harus berkompetisi dengan adik-adik. Biar adik-adik sama-sama adik-adik aja lah. Abang tukang ngantar. Kira-kira begitu,” kata Amsakar. (uly)










