BATAMSTRAITS.COM, BATAM – PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat kesiapan sarana dan armada distribusi untuk memastikan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat di Kota Batam, Kepulauan Riau, tetap terpenuhi di tengah meningkatnya permintaan.
Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan armada yang tersedia sekaligus mengajukan penambahan armada mobil tangki untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan BBM, termasuk seiring bertambahnya jumlah SPBU dan pembangunan SPBU baru di Batam.
Jr. SPV II Fuel Receiving & Storage, Fongky Ocotodiano A, mengatakan saat ini distribusi BBM didukung 13 unit mobil tangki BBM dengan total tonase 248 kiloliter (KL) .
Dari jumlah tersebut, terdapat 8 unit mobil tangki berkapasitas 16 KL yang seluruhnya milik sendiri (all in) . Kemudian 5 unit berkapasitas 24 KL, dengan rincian 3 unit all in dan 2 unit sewa.
Menurut Fongky, armada yang ada saat ini terus dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan SPBU. Bahkan, ketika permintaan berada pada level tinggi, satu armada dapat melakukan perjalanan pengantaran hingga empat kali bolak-balik dalam sehari, terutama untuk tujuan dengan jarak relatif lebih dekat.
“BBM ke SPBU, dengan 248 KL, dengan unit mobil tangki 13, itu bisa kita optimalkan. Akan tetapi, mengingat bertambahnya permintaan masyarakat, demand-nya semakin tinggi, kita sudah bersurat juga, pimpinan kita sudah menyampaikan untuk dilakukan penambahan armada,” kata Fongky.
Ia menegaskan, penambahan armada diperlukan agar kebutuhan BBM di SPBU dapat dipenuhi secara maksimal dan tidak sampai mengganggu mata rantai pasokan kepada masyarakat.
“Kita berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan dari SPBU-SPBU yang ada, agar tidak memutus mata rantai kebutuhan dari masyarakat. Dan itu menjadi prioritas,” ujarnya.
Fongky menjelaskan, intensitas perjalanan armada sangat bergantung pada tingkat permintaan. Dengan menggunakan jalur utama atau jalan protokol yang relatif dekat menuju sejumlah SPBU, perputaran armada dapat dilakukan secara optimal.
“Kalau demand tinggi itu bisa sampai dengan empat kali mobil itu bolak-balik, tapi dengan jarak yang relatif lebih dekat. Misalkan, kita menggunakan jalan utama yang ada protokol, insya Allah jaraknya tidak terlalu memakan waktu,” katanya.
Selain armada mobil tangki, sistem penyaluran BBM di lokasi juga ditopang 20 unit pompa produk yang digunakan untuk melayani kegiatan penyaluran produk melalui mobil tangki, loading sales, bunker tug boat, dan transfer jalur pipa Avtur.
Untuk penyaluran LPG, tersedia 1 (satu) jembatan timbang kapasitas 60 ton, yang digunakan dalam mendukung kegiatan penyaluran LPG melalui mobil skid tank.
Sementara untuk penyaluran BBM melalui mobil tangki, fasilitas pengisian didukung filling shed area belakang dengan 4 bay dan filling shed area depan dengan 3 bay.
Pada filling shed belakang terdapat Bay 1 hingga Bay 4. Bay 1 melayani Pertalite dan PX 92, Bay 2 melayani Pertalite dan PX 92, Bay 3 melayani Pertalite, sedangkan Bay 4 melayani Balum Opt.
Sedangkan pada filling shed depan terdapat Bay 5 dan Bay 6. Bay 5 melayani PX Turbo serta Biosolar B50/Dexlite, sementara Bay 6 melayani Pertadex, HSFO, dan Biosolar B50.
Selain BBM, sarana penyaluran juga mencakup distribusi LPG. Data operasional menunjukkan terdapat 7 unit mobil tangki LPG dengan total tonase 135 MT, serta 9 unit skid tank.
Untuk mendukung operasional tersebut, terdapat pula awak mobil tangki (AMT), yakni AMT BBM sebanyak 38 orang, terdiri dari 21 AMT I dan 17 AMT II.
Kemudian untuk LPG terdapat 12 orang AMT, yang terdiri dari 8 AMT I dan 4 AMT II.
Fongky menekankan bahwa peningkatan intensitas distribusi tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan awak maupun kelayakan armada.
Ia mengatakan jam kerja AMT diatur selama 8 jam, kemudian operasional dilanjutkan oleh pengemudi atau personel berikutnya sehingga pergantian dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pekerjaan sekaligus aspek keselamatan.
“Dan kita selalu memperhatikan keselamatan dari AMT itu sendiri. Untuk jam kerja mereka itu selalu 8 jam. Jadi 8 jam mereka bekerja itu akan digantikan dengan driver yang lain untuk menjalankan objek itu sendiri,” jelasnya.
Menurut dia, sebelum armada beroperasi, dilakukan PDI untuk memastikan kelayakan armada. Selain itu, terdapat DCU khusus untuk AMT sebagai bagian dari perhatian terhadap keselamatan dan kesiapan personel.
Penguatan Armada Jadi Kebutuhan Mendesak
Sementara, ia mengatakan penguatan armada menjadi kebutuhan seiring pertumbuhan jumlah SPBU dan meningkatnya aktivitas perekonomian di Batam.
“Total keseluruhannya 21. Kita ajukan 8 unit,” katanya.
Ia menjelaskan, penambahan armada diperlukan untuk mendukung pertumbuhan jaringan penyaluran BBM, termasuk adanya pembangunan SPBU baru yang berpotensi meningkatkan kebutuhan distribusi.
“Untuk mensupport ini kan ada penambahan SPBU, ada pembangunan SPBU baru, atau nanti skemennya akan meningkat, maka kita harus menyediakan dengan sebuah yang mencukupi,” ujarnya.
Menurutnya dengan kondisi armada yang saat ini tersedia, kapasitas tersebut dinilai akan semakin berat apabila jumlah SPBU terus bertambah. Saat ini terdapat sekitar 38 SPBU reguler, sementara pembangunan SPBU baru masih berlangsung.
“Kalau dengan armada yang saat ini 13 unit saja ini tidak akan mampu, karena di situ sudah banyak, ada 38 SPBU yang regular. Saat ini sedang ada pembangunan lagi SPBU,” katanya.
Menurutnya pertumbuhan pembangunan SPBU tersebut juga mencerminkan adanya peningkatan aktivitas perekonomian di Batam. Karena itu, kapasitas distribusi harus disesuaikan dengan pertumbuhan kebutuhan.
“Berarti kan dengan sebenarnya dari sisi perekonomian seperti yang dibangun tadi itu ada peningkatan yang signifikan. Maka kita harus menyesuaikan supaya supply chain-nya mencukupi,” ujarnya.
Fongky menegaskan, fokus utama Pertamina adalah memastikan rantai pasok BBM tidak terputus, khususnya untuk memenuhi kebutuhan SPBU dan masyarakat.
“Mungkin kita memfokuskan di sini adalah menjaga supply chain-nya ini jangan sampai berputus ke SPBU. Insya Allah mudah-mudahan tidak ada kendala yang banyak,” katanya.
Hal tersebut disampaikan di Integrated Terminal Batam PT Terminal Batam, Jalan Raya Pelabuhan, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Selain armada distribusi, fasilitas di terminal juga mencakup kegiatan loading sales & bunker, yang dilayani melalui Jetty 1 untuk Biosolar & Pertadex, Jetty 2A untuk Biosolar & Pertadex, serta Jetty 3 untuk LSFO & Biosolar.
Dengan kombinasi penguatan armada, optimalisasi perjalanan mobil tangki, kesiapan fasilitas pengisian, serta penerapan aspek keselamatan AMT dan kelayakan kendaraan, Pertamina berupaya menjaga pasokan BBM tetap tersedia di tengah pertumbuhan kebutuhan energi masyarakat Batam. (uly)










