BATAMSTRAITS.COM, BATAM – PT Batam Terminal Petikemas (BTP) bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) menargetkan peningkatan kapasitas terminal peti kemas hingga mencapai 1,6 juta TEUs per tahun sebagai bagian dari kewajiban dalam perjanjian konsesi selama 36 tahun.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan target tersebut mengharuskan perusahaan melakukan pengembangan besar-besaran, baik dari sisi kawasan kerja maupun infrastruktur pendukung terminal.
“Kewajiban kami dalam masa perjanjian konsesi 36 tahun bersama BACT adalah mengembangkan terminal peti kemas hingga mencapai volume 1,6 juta TEUs per tahun. Itu berarti kami harus memperluas area kerja sekitar 30 hektare. Studi pengembangannya juga sudah kami lakukan,” ujar Basori.
Menurutnya, pada 2028 hingga 2029, terminal dengan kapasitas 1,6 juta TEUs ditargetkan sudah dapat beroperasi. Untuk mencapai target tersebut, pengembangan tidak hanya dilakukan pada infrastruktur pelabuhan, tetapi juga penambahan berbagai peralatan operasional.
BTP berencana menambah enam unit Ship to Shore (STS) Crane serta 20 unit alat pendukung operasional (RTG/alat bongkar muat) guna meningkatkan produktivitas pelayanan kapal dan peti kemas.
“Mudah-mudahan dengan dukungan semua pihak, pada 2029 atau 2030 nanti kapasitas terminal sudah mencapai target yang direncanakan,” katanya, saat Media Gathering di Kantor Batam Terminal Peti Kemas, Batu Ampar, Rabu (5/8/2026).
Saat ini, lanjut Basori, volume peti kemas di Batam telah mencapai sekitar 900 ribu TEUs. Namun, aktivitas bongkar muat masih tersebar di sejumlah pelabuhan seperti kawasan selatan, timur hingga Sekupang.
Karena itu, BTP bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Bea Cukai memiliki komitmen untuk melakukan sentralisasi pelayanan peti kemas di Batu Ampar agar pengawasan menjadi lebih efektif.
“Kalau terminalnya tersebar di banyak tempat tentu pengawasannya lebih sulit. Dengan sentralisasi, pengawasan menjadi lebih mudah dan pelayanan juga lebih efisien,” jelasnya.
Basori menjelaskan, target kapasitas 1,6 juta TEUs bukan semata-mata mengandalkan pertumbuhan volume ekspor-impor Batam saat ini. Dari total sekitar 900 ribu TEUs, sekitar 60 persen merupakan aktivitas ekspor-impor, sedangkan 30 hingga 40 persen merupakan kontainer domestik.
Untuk memenuhi target tersebut, BTP akan mengejar tambahan sekitar 1 juta TEUs melalui strategi transshipment atau perpindahan arus peti kemas internasional.
“Volume tambahan itu bukan berasal dari volume eksisting Batam. Kita harus mengambil pasar transshipment sekitar satu juta TEUs,” ujarnya.
Strategi tersebut dilakukan dengan menggandeng PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai operator terminal serta bekerja sama dengan mainline shipping operator seperti SITC agar Batam menjadi pelabuhan hub internasional.
Ke depan, BTP berharap kapal-kapal besar milik perusahaan pelayaran dunia seperti CMA CGM, Maersk, dan Wan Hai dapat bersandar langsung di Batam, bukan lagi di Singapura.
“Harapannya kapal-kapal yang sebelumnya sandar di Singapura bisa kita tarik ke Batam. Dengan begitu seluruh konektivitas ke Timur Tengah, Eropa, Australia hingga Amerika bisa langsung dilayani dari Batam,” katanya.
Basori menambahkan, perdagangan dunia yang semakin didominasi kawasan Asia, khususnya China, menjadi peluang besar bagi Batam untuk berkembang sebagai pusat logistik internasional.
Sejak 2024, BTP telah menghadirkan salah satu operator pelayaran utama di kawasan Asia, yakni SITC, sebagai langkah awal memperkuat jaringan pelayaran internasional.
Ia optimistis setelah pengerukan alur pelayaran dan pendalaman kolam pelabuhan selesai dilakukan, Batam akan mampu menerima kapal-kapal berukuran lebih besar sehingga menjadi alternatif hub selain Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas, Malaysia.
“Nanti kapal-kapal yang lebih besar bisa masuk sehingga Batam menjadi alternatif hub selain Singapura maupun Tanjung Pelepas,” ujarnya.
Dari sisi konektivitas internasional, saat ini Batam telah terhubung dengan 32 pelabuhan besar dunia. BTP juga terus memperluas jaringan pelayaran ke berbagai negara.
Selain rute yang sudah tersedia menuju India, BTP menargetkan pembukaan layanan langsung menuju Timur Tengah, termasuk Jeddah, kemudian ke kawasan Eropa, Afrika, Australia seperti Sydney dan Melbourne, hingga memperkuat konektivitas dengan Papua Nugini.
Untuk rute menuju Amerika Serikat, layanan sebenarnya telah tersedia, namun masih melalui proses transit karena belum ada kapal yang berlayar langsung dari Batam.
“Ke depan, setelah investasi tahap kedua dengan kapasitas 1,6 juta TEUs selesai, kami berharap Batam dapat terkoneksi langsung dengan seluruh kawasan dunia,” kata Basori. (uly)










