BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Tekanan inflasi yang diperkirakan meningkat pada Mei 2026 tidak hanya berdampak pada harga kebutuhan masyarakat, tetapi juga berpotensi menekan sektor industri dan pasar tenaga kerja.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai menjadi kombinasi faktor yang dapat memperburuk kondisi ekonomi nasional pada triwulan kedua tahun ini.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam yang juga Dosen Universitas Internasional Batam, Dr. Suyono Saputra menilai kenaikan harga berbagai barang saat ini hampir tidak dapat dihindari. Menurutnya, banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pelemahan kurs rupiah langsung berdampak pada meningkatnya biaya produksi.
“Kenaikan harga tidak terhindarkan akibat kenaikan BBM dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Produsen dalam negeri yang menggantungkan suplai bahan baku dari luar negeri tentu tertekan oleh nilai tukar. Di sisi lain, ongkos transportasi juga meningkat karena harga bahan bakar naik,” ujarnya.
Suyono mengingatkan pemerintah agar lebih fokus mengantisipasi dampak ekonomi yang muncul dibandingkan membangun narasi bahwa kondisi perekonomian berada dalam situasi yang sepenuhnya aman.
Menurutnya, tekanan yang dirasakan sektor industri saat ini semakin berat. Biaya produksi terus membengkak akibat mahalnya bahan baku impor dan biaya logistik, sementara ruang untuk menaikkan harga jual produk sangat terbatas karena daya beli masyarakat masih lemah.
“Pelaku industri kini dihadapkan pada pilihan sulit. Biaya produksi meningkat akibat pelemahan kurs, tetapi harga jual tidak mudah dinaikkan. Menaikkan harga saat ekonomi masyarakat sedang tertekan tentu bukan pilihan yang bijak,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar konsumen lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan barang-barang primer. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap berbagai produk non-primer cenderung melemah sehingga pelaku usaha harus berhitung lebih cermat dalam menjaga keberlangsungan usahanya.
Lebih lanjut, Suyono mengkhawatirkan potensi pengurangan kapasitas produksi yang dapat dilakukan sejumlah industri apabila tekanan biaya terus berlanjut. Jika perusahaan memilih memangkas produksi untuk menjaga efisiensi, maka risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) akan semakin besar.
“Pengurangan produksi oleh pelaku industri bisa memicu gelombang PHK. Jika ini terjadi, maka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II berpotensi merosot dan jauh meleset dari berbagai proyeksi yang selama ini disampaikan,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah ekonom memperkirakan laju inflasi Indonesia pada Mei 2026 mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan tersebut dipicu oleh naiknya harga berbagai komoditas pangan, kenaikan BBM non subsidi, serta dampak pelemahan rupiah yang menyebabkan imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
Tekanan inflasi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, kombinasi antara kenaikan biaya produksi, melemahnya konsumsi rumah tangga, serta ancaman PHK dinilai dapat menjadi faktor yang memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Para pelaku usaha pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta memberikan dukungan kepada sektor industri agar tetap mampu mempertahankan produksi dan tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. (*/uly)










