BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan seluruh perizinan pemanfaatan ruang laut untuk pembangunan sistem kabel bawah laut Nongsa-Changi Cable (NCC) telah dipenuhi sesuai ketentuan pemerintah.
Jalur kabel yang menghubungkan Nongsa Digital Park, Batam, dengan Changi, Singapura itu juga dipastikan aman serta tidak mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Singapura.
Direktur Jenderal Tata Ruang Laut KKP, Kartika Listriana, mengatakan setiap pemanfaatan ruang laut wajib memiliki izin yang sah sesuai regulasi yang berlaku.
Dalam proses penerbitan izin tersebut, pemerintah telah melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, para pemangku kepentingan, hingga pelaku usaha yang memanfaatkan ruang laut.
“Harus memiliki izin yang sah, itu sudah ketentuan dari pemerintah. Kami sudah melakukan koordinasi, komunikasi dengan berbagai pihak, sektor terkait, khususnya yang menggunakan ruang laut, pemerintah daerah, stakeholder, dan para pelaku usaha. Akhirnya kami bisa mengeluarkan izin KKPRL pada tahun 2020,” ujar Kartika disela-sela Landing Ceremony Nongsa Changi Cable, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, sistem perizinan saat ini telah disederhanakan melalui mekanisme yang lebih transparan. Seluruh proses dilakukan melalui sistem yang telah terintegrasi sehingga seluruh izin dapat diidentifikasi dan diproses secara terbuka.
“Karena sekarang semua izin harus kita sederhanakan, harus kita identifikasi semuanya melalui WSS dan secara terbuka, transparan kita proses semuanya,” katanya.
Kartika belum merinci jumlah kabel bawah laut yang telah membentang di antara Batam dan Singapura. Menurutnya, data tersebut akan disampaikan lebih rinci oleh tim teknis KKP.
“Untuk data detailnya nanti tim kami bisa menyampaikan agar lebih jelas,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai peresmian Nongsa-Changi Cable menjadi momentum penting dalam penguatan kerja sama digital Indonesia dan Singapura.
“Pada intinya ini momentum yang sangat baik. Tadi juga disampaikan oleh Bapak Menteri maupun Vice Prime Minister Singapura, program yang mereka bawa akan menjadi hub yang sangat baik untuk digitalisasi. Kami yakin dengan masuknya investasi ke Indonesia, kegiatan khususnya di Indonesia akan semakin cepat berkembang,” katanya.
Menanggapi kepastian perizinan ruang laut proyek tersebut, Kartika menegaskan seluruh proses perizinan telah selesai sehingga pemanfaatan ruang laut untuk pembangunan kabel bawah laut telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Terkait keamanan jalur kabel bawah laut yang melintasi perairan Batam dan Singapura, Kartika menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai langkah mitigasi sejak tahap perencanaan. Mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk, analisis dilakukan secara menyeluruh terhadap kondisi lalu lintas kapal maupun ekosistem laut.
“Kami juga sudah melakukan mitigasi karena kawasan Batam cukup ramai dengan lalu lintas kapal. Ekosistem laut dalam kegiatan penggelaran kabel juga harus dimitigasi dan tidak boleh mengganggu. Semua kewajiban dalam kegiatan penggelaran menjadi tanggung jawab pelaku usaha yang menerima izin,” ujarnya.
Ia menambahkan, keamanan kabel bawah laut tidak hanya dipengaruhi kondisi geologi dasar laut, tetapi juga hasil analisis teknis yang telah dilakukan sebelum proyek dilaksanakan.
“Kalau ada gangguan bukan semata-mata tergantung kondisi geologi lautnya. Tetapi pada prinsipnya kami sudah melakukan analisis dan hasilnya cukup memadai serta cukup aman,” katanya.
Kartika juga memastikan keberadaan kabel bawah laut tersebut tidak menghambat aktivitas pelayaran internasional di Selat Singapura. Kapal-kapal berukuran besar tetap dapat melintasi jalur tersebut secara aman.
“Bisa,” ujarnya saat ditanya apakah kapal-kapal besar tetap dapat melintas.
Sebelumnya diberitakan, Batam kembali menorehkan sejarah sebagai salah satu pusat konektivitas digital Indonesia setelah diresmikannya Nongsa–Changi Cable (NCC), sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Nongsa Digital Park, Batam, dengan Changi, Singapura.
Infrastruktur sepanjang sekitar 50 kilometer tersebut menjadi salah satu jalur kabel bawah laut paling pendek dan efisien di Selat Singapura sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai gerbang utama ekonomi digital Indonesia menuju Asia Tenggara.
Peresmian NCC dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Perdana Menteri Singapura merangkap Menteri Perdagangan dan Industri serta Ketua Otoritas Moneter Singapura (MAS) Gan Kim Yong, Direktur Utama PT Telkom Indonesia Dian Siswarini, Chairman Nongsa Digital Park Mike Wiluan, serta sejumlah pemangku kepentingan dari Indonesia dan Singapura.
Dalam kesempatan itu, Airlangga Hartarto menegaskan pembangunan Nongsa–Changi Cable bukan sekadar proyek telekomunikasi, melainkan fondasi koridor digital baru yang akan menopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam jangka panjang.
Dengan kapasitas lebih dari 1,6 petabit per detik dan didukung 24 fiber pairs, sistem kabel bawah laut tersebut menghadirkan latensi sangat rendah untuk mendukung kebutuhan cloud computing, hyperscale data center, kecerdasan buatan (AI), layanan digital lintas negara, hingga berbagai inovasi ekonomi berbasis data.
Pertumbuhan industri pusat data di Batam yang mencapai sekitar 22 persen per tahun, investasi BW Digital hingga 450 megawatt, serta pengembangan kawasan cloud oleh Oracle semakin memperkuat posisi Batam sebagai hub digital Indonesia dan salah satu pusat ekonomi digital baru di kawasan Asia Tenggara. (uly)










