Wednesday, April 29, 2026
HomeBisnisBI Kepri Bedah Buku “Semua Bisa Kaya”, Dorong Literasi Keuangan Syariah di...

BI Kepri Bedah Buku “Semua Bisa Kaya”, Dorong Literasi Keuangan Syariah di Kurma 2026

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau menggelar kegiatan bedah buku berjudul “Semua Bisa Kaya” karya Marviarum Eka Ramdiati. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Kepulauan Riau Ramadhan Fair (Kurma) 2026 yang berlangsung di One Batam Mall.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ardhienus, mengatakan judul buku tersebut sangat menarik karena menyentuh keinginan banyak orang.

“Siapa yang tidak ingin kaya. Judulnya sangat menarik sehingga membuat orang tertarik membaca,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, buku tersebut menyampaikan pesan penting bahwa menjadi kaya bukanlah sesuatu yang eksklusif bagi segelintir orang. Melalui pemahaman pengelolaan keuangan yang baik, setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai kesejahteraan.

Ia menjelaskan salah satu kunci utama adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Jangan sampai keinginan melampaui kebutuhan. Jika keuangan dikelola dengan baik, maka kita bisa menyisihkan dana untuk investasi,” katanya.

Ardhienus menambahkan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi ekonomi masyarakat agar lebih memahami pengelolaan keuangan, terutama berbasis prinsip syariah.

“Jangan sampai masyarakat memiliki beban keuangan yang tidak perlu. Salah satu kuncinya adalah bagaimana mengelola keuangan secara syariah,” jelasnya.

BACA JUGA:   Cegah Mpox di Batam, KKP Tingkatkan Pengawasan di Pintu Masuk Internasional

Sementara itu, penulis buku “Semua Bisa Kaya”, Marviarum Eka Ramdiati, menjelaskan bahwa makna kaya tidak selalu identik dengan memiliki harta melimpah.

Menurutnya, kaya adalah ketika seseorang merasa cukup dengan rezeki yang dimiliki.

“Rezeki tidak sepenuhnya untuk diri sendiri. Semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti,” ujarnya.

Wanita lulusan Universitas Indonesia jurusan Manajemen tersebut mengatakan proses penulisan buku ini memakan waktu cukup panjang.

Dalam bukunya, ia membahas berbagai aspek pengelolaan keuangan, mulai dari cara memperoleh rezeki, mengatur pengeluaran, hingga pentingnya berbagi melalui infak, sedekah, dan aqiqah.

“Semua itu diatur dalam Al-Quran,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya mengatur pembagian uang sejak awal menerima gaji.

Menurutnya, menabung tidak seharusnya dilakukan dari sisa pengeluaran, tetapi dialokasikan terlebih dahulu saat pendapatan diterima.

Selain itu, ia menyarankan masyarakat untuk memisahkan rekening penerimaan dengan rekening belanja agar pengelolaan keuangan lebih terkontrol.

Kurma 2026 Perkuat Ekonomi Syariah

Kepulauan Riau Ramadhan Fair (Kurma) 2026 kembali menjadi panggung penguatan ekonomi syariah sekaligus akselerasi digitalisasi UMKM di Kepulauan Riau.

Kegiatan yang berlangsung pada 2–8 Maret 2026 di One Batam Mall ini secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, pada Rabu (4/3/2026).

BACA JUGA:   Grand Mercure Batam Centre Bersihkan Pantai Tanjung Uma, Peringati Hari Lingkungan dan Laut Sedunia

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Kurma tidak sekadar menghadirkan bazar Ramadan, tetapi juga menjadi wadah sinergi berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan Kurma menjadi momentum penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi daerah dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

Menurutnya, ekonomi Kepulauan Riau saat ini mencatat pertumbuhan 7,8 persen, tertinggi ketiga secara nasional, dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga.

“Kepri tidak mudah, banyak tantangan. Tapi kita mampu tumbuh tinggi. Pertumbuhan ini harus makin merata dan berkelanjutan,” ujarnya.

Perkuat Rantai Ekosistem Produk Halal

Dalam penyelenggaraan Kurma 2026, Bank Indonesia Kepri menargetkan penguatan ekosistem produk halal sebagai salah satu prioritas utama.

Langkah ini dilakukan dengan mendorong pelaku UMKM, khususnya di sektor wastra dan makanan olahan, untuk memperoleh sertifikasi halal agar produk lokal memiliki daya saing lebih luas di pasar.

Selain itu, BI Kepri juga mendorong keberadaan juru sembelih halal (juleha) bagi pelaku usaha makanan agar proses produksi memenuhi standar halal secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga transaksi.

BACA JUGA:   Hari Pertama Puasa, Prabowo Unggah Foto Makan Bareng Titiek & Didit

Akselerasi Digitalisasi Lewat QRIS

Penguatan ekonomi syariah juga dilakukan melalui digitalisasi sistem pembayaran. BI Kepri mencatat sepanjang 2025 transaksi QRIS di Kepulauan Riau mencapai Rp11,5 triliun, menunjukkan meningkatnya adopsi pembayaran digital di masyarakat.

Pada 2026, BI akan memperluas program “meng-QRIS-kan” pasar tradisional di berbagai wilayah Kepri.

Program ini melanjutkan keberhasilan implementasi QRIS di masjid yang telah dilakukan pada 2025.

Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat inklusi keuangan sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku UMKM.

Tingkatkan Literasi Ekonomi Syariah

Selain aspek produksi dan transaksi, peningkatan literasi ekonomi syariah juga menjadi fokus penting.

BI Kepri mendorong masyarakat untuk lebih memahami produk dan layanan keuangan syariah, termasuk aspek perlindungan konsumen.

Dengan literasi yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang lebih cerdas dan produktif.

Rony menilai potensi ekonomi syariah di Kepulauan Riau sangat besar, terutama melalui sinergi dengan sektor industri dan UMKM, khususnya industri makanan yang berkembang pesat di Batam sebagai salah satu motor investasi daerah. (uly)

spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER