Monday, October 26, 2026
HomeBatamSampah Rumah Tangga Jadi Cuan, Pertamina Dampingi Lahirnya Ekonomi Sirkular di Batam

Sampah Rumah Tangga Jadi Cuan, Pertamina Dampingi Lahirnya Ekonomi Sirkular di Batam

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di balik tumpukan botol plastik, kardus bekas, kertas dan berbagai sampah rumah tangga yang berada dalam kontainer di Perumahan Permata Bandara, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepri tersimpan cerita tentang perjuangan, kemandirian dan harapan.

Bagi sebagian orang, sampah adalah sesuatu yang harus segera disingkirkan. Namun, bagi Nella Nelvia (38), Bendahara Unit Bank Sampah RT One Berseri, sampah justru menjadi jalan bagi ibu-ibu rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga.

“Berdirinya bank sampah ini memang berangkat dari keresahan kami, ibu-ibu rumah tangga yang lebih banyak di rumah. Kami ingin mendapatkan uang juga walaupun hanya di rumah,” tutur Nella, ibu tiga anak yang bersama dua rekannya berupaya membangun kegiatan pengelolaan sampah dari lingkungan tempat tinggal mereka.

Perjalanan itu tidak dimulai dengan fasilitas lengkap ataupun tumpukan sampah bernilai ekonomi. Semuanya berawal dari keresahan sederhana, keinginan untuk memperoleh penghasilan sendiri dan keberanian mencoba sesuatu yang baru.

Cikal bakal Unit Bank Sampah RT One Berseri bermula pada 2022. Ketua RT yang saat itu menjabat mengajak warga mengikuti sosialisasi pengelolaan bank sampah di kelurahan. Dari kegiatan tersebut, para ibu mulai mengenal cara memilah, mengumpulkan dan mengelola sampah agar memiliki nilai jual.

Setelah sosialisasi, warga dikumpulkan hingga akhirnya terbentuk kelompok pengelola bank sampah. Pada tahun pertama, hanya 13 nasabah yang bergabung. Penimbangan dilakukan sekali dalam sebulan, dengan jumlah sampah yang terkumpul paling banyak sekitar 200 kilogram per bulan.

Minat warga pun belum begitu besar. Sebagian ibu-ibu merasa hasil yang diperoleh dari mengumpulkan sampah tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Pada masa awal, pendapatan yang diterima nasabah bahkan hanya sekitar Rp500 ribu selama setahun. Total hasil penjualan bank sampah pada 2022 tercatat sekitar Rp5 juta dalam setahun.

“Awal-awal, ibu-ibu hanya mendapatkan Rp500 ribu selama setahun. Itu pun pencairannya menunggu terkumpul. Karena sampah yang kami dapat paling banyak hanya 200 kilogram sebulan,” kenang Nella, Sabtu (24/10/2026).

Keterbatasan fasilitas menjadi tantangan berikutnya. Bank sampah memanfaatkan fasilitas umum (fasum) di lingkungan perumahan. Mereka belum memiliki gudang untuk menyimpan sampah yang terkumpul. Peralatan masih sederhana, sementara pencatatan transaksi dilakukan secara manual.

Sampah yang sudah ditimbang juga harus segera disiapkan karena Dinas Lingkungan Hidup (DLH) datang menjemput sekitar sebulan sekali. Penimbangan biasanya dilakukan sehari sebelum penjemputan. Dalam proses pengangkutan, terdapat dua layanan yang berbeda, yakni DLH Bank Sampah Induk yang mengambil sampah terpilah dan DLH pengangkut sampah campuran.

Bagi kelompok kecil yang baru merintis kegiatan, keterbatasan tempat dan sarana itu membuat langkah mereka tidak selalu mudah. Namun, para pengurus tidak menyerah.
Kontainer Mengubah Perjalanan Bank Sampah

Perubahan mulai terasa pada 2023, ketika program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) Pertamina datang membantu. Para pengurus menyampaikan berbagai keluhan, terutama mengenai keterbatasan tempat penyimpanan.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Pertamina memberikan kontainer pada Agustus 2023 untuk mengakomodasi kegiatan Bank Sampah RT One Berseri. Kehadiran kontainer menjadi titik penting dalam perjalanan mereka.

Sampah yang sebelumnya sulit ditampung kini memiliki tempat penyimpanan yang lebih memadai. Warga pun semakin tertarik bergabung. Untuk menambah semangat nasabah, para pengurus memberikan penghargaan berupa sembako kepada nasabah yang berhasil mengumpulkan sampah paling banyak.

Bagian penimbangan dan pemilahan ditangani Sri Surmasi (53) sedang berjalan di depan kontainer penyimpanan yang diberikan CSR Pertamina. (uly)
Bagian penimbangan dan pemilahan ditangani Sri Surmasi (53) sedang berjalan di depan kontainer penyimpanan yang diberikan CSR Pertamina. (uly)

Pada awalnya, layanan bank sampah hanya menjangkau warga RT 01. Seiring meningkatnya minat masyarakat, cakupannya diperluas hingga RT 02. Jumlah nasabah pun bertambah, dari 13 orang pada 2022 menjadi sekitar 90 orang setelah pengembangan pada tahap awal. Volume sampah yang terkumpul meningkat dari sekitar 200 kilogram menjadi satu ton per bulan.

Pendapatan tahunan juga mengalami kenaikan. Jika pada 2022 hasil penjualan sekitar Rp5 juta, pada 2023 jumlahnya meningkat menjadi sekitar Rp15 juta. Bagi para ibu yang sebelumnya menganggap sampah tidak seberapa nilainya, perkembangan tersebut perlahan mengubah cara pandang. Sampah yang selama ini dibuang ternyata bisa menjadi sumber penghasilan jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik.

Upaya pengembangan berlanjut pada 2024. Pertamina mengajak pengurus Bank Sampah RT One Berseri melakukan studi banding ke Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. Satu jam perjalanan dari Kota Batam menggunakan kapal cepat.

Dari kunjungan itu, mereka melihat sistem penjemputan sampah atau jemput bola yang dilakukan untuk memperluas jangkauan pengumpulan. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan di lingkungan mereka sendiri. Para pengurus tidak lagi hanya menunggu warga mengantar sampah ke kontainer, tetapi mulai aktif mendatangi sekolah, instansi dan lokasi lain untuk mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang.

Hasilnya cukup signifikan. Volume sampah yang terkumpul meningkat drastis hingga mencapai tiga ton per bulan. Tahun 2024 pun menjadi periode ketika kelompok tersebut berfokus memperluas jaringan nasabah.

Pada tahun yang sama, hasil penjualan sampah mencapai sekitar Rp30 juta setahun. Pertamina turut memberikan timbangan dan karung untuk menunjang kegiatan tersebut. Akan tetapi, sebelum memiliki kendaraan pengangkut sendiri, para pengurus masih menggunakan sepeda motor pribadi dan keranjang untuk membawa sampah.

Cara itu tentu memiliki keterbatasan. Selain kapasitas angkut yang kecil, mereka juga harus menghadapi risiko saat membawa sampah dalam jumlah banyak.

Nella mengenang, pengurus bahkan pernah terkena tilang polisi karena membawa barang terlalu banyak dengan sepeda motor. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pentingnya sarana transportasi yang lebih memadai.

Pada September 2025, Pertamina memberikan bantuan kendaraan roda tiga atau motor Viar. Kendaraan tersebut digunakan untuk mengangkut sampah dari sekolah, instansi, Perumahan Cipta Mandiri, Arira Garden, dan Citra Mas.

Ketua Kelompok Unit Bank Samah One Berseri, Kartini Majid (52), seorang ibu empat anak tengah mengendari motor roda tiga bantuan dari CSR Pertamina. (uly)
Ketua Kelompok Unit Bank Samah One Berseri, Kartini Majid (52), seorang ibu empat anak tengah mengendari motor roda tiga bantuan dari CSR Pertamina. (uly)

Sementara itu, warga Perumahan Permata Bandara tetap dapat mengantarkan sampah mereka sendiri ke fasilitas umum tempat bank sampah beroperasi. Kini, kebiasaan mengumpulkan sampah mulai tumbuh di tengah masyarakat.

“Warga sudah tahu kalau melihat sampah itu ada cuannya,” kata Nella sembari merapikan beberapa lembar kardus yang sudah dilipat.

Kalimat sederhana itu menggambarkan perubahan yang terjadi. Sampah tidak lagi sekadar barang sisa, tetapi sesuatu yang bisa dikumpulkan, ditimbang, dan ditukar menjadi uang.

BACA JUGA:   Wagub Marlin: Bangun Karakter Anak Bangsa Ciptakan Generasi Emas Tahun 2045

Dari sekitar 90 nasabah pada tahap pengembangan awal, jumlah anggota bank sampah terus bertambah hingga mencapai 210 nasabah. Pertumbuhan jumlah nasabah dan volume sampah turut mendorong peningkatan pendapatan kelompok.

Jika dirinci berdasarkan hasil penjualan setiap tahun, perkembangannya sebagai berikut:
• 2022: sekitar Rp5 juta per tahun.
• 2023: sekitar Rp15 juta per tahun.
• 2024: sekitar Rp30 juta per tahun.
• 2025: sekitar Rp46 juta per tahun.

Dari Rp5 juta pada tahun pertama menjadi Rp46 juta pada 2025, hasil penjualan bank sampah menunjukkan peningkatan yang berarti bagi kelompok yang bermula dari belasan nasabah.

Meski demikian, uang hasil penjualan tidak seluruhnya menjadi pendapatan pengurus. Sebagian merupakan hak nasabah yang mengumpulkan sampah, sedangkan operasional kelompok juga bergantung pada selisih harga penjualan.

Mekanisme pembayaran kepada nasabah cukup beragam. Ada yang mengambil uangnya setahun sekali, biasanya menjelang Lebaran dan Natal. Ada pula yang memilih menjual sampah secara langsung, yakni menerima uang saat menyerahkan barang. Sebagian lainnya mengambil pembayaran ketika membutuhkan uang.

Nasabah baru dapat menerima pembayaran setelah menjadi anggota setidaknya selama tiga bulan. Setiap penjualan, hasilnya dikelola melalui rekening Bank Sampah RT One Berseri di Bank Riau Kepri. Pengurus akan mendatangi bank untuk melakukan penarikan ketika diperlukan.

Sampah yang terkumpul tidak semuanya diolah sendiri. Sebagiannya disalurkan kepada DLH, perusahaan, maupun pengepul. Sampah tertentu juga diproses kembali menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Bagi nasabah, sistem tersebut memberikan pilihan untuk mengubah sampah menjadi simpanan yang bisa dicairkan sesuai kebutuhan.

Dalam cerita yang disampaikan bersama pengurus, ada pula pengalaman Menik Maria, yang memperoleh hasil sekitar Rp5 juta setahun dan dapat menggunakannya untuk membantu membayar uang muka atau DP motor. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana hasil pengumpulan sampah dapat menjadi tambahan dana bagi kebutuhan keluarga.

Dari Sampah Anorganik Beralih ke Sampah Organik

Ketika pengumpulan sampah anorganik semakin berkembang dan jumlah nasabah terus bertambah, para pengurus mulai memikirkan langkah berikutnya, bagaimana agar sampah organik rumah tangga juga memberikan manfaat. Pada akhir 2025, mereka kembali mengembangkan pengelolaan sampah organik, terutama sisa makanan rumah tangga dan limbah dapur.

Sebenarnya, upaya tersebut bukan hal yang sepenuhnya baru. Sejak awal 2023, kelompok ini telah mengolah kulit sayur dan buah menjadi ekoenzim atau eco-enzyme. Pada 2025, hasil pengolahan itu dikembangkan menjadi sabun cair berbahan ekoenzim yang dapat digunakan untuk mencuci pakaian.

Mereka juga mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi sejak 2025. Dengan begitu, sampah tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Produk-produk tersebut diarahkan menjadi bagian dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis pengolahan sampah.

Salah satu peluang lainnya datang dari limbah sabut kelapa. Pertamina memiliki program lain di Kampung Terih yang menghasilkan limbah kulit atau sabut kelapa dalam jumlah banyak. Limbah tersebut kemudian diberikan kepada kelompok untuk diolah. Pertamina juga memberikan bantuan mesin pencacah sabut kelapa.

Nella dan Kartini sedang memasukkan sabut kelapa ke dalam mesin pencacah bantuan dari CSR Pertamina. (uly)
Nella dan Kartini sedang memasukkan sabut kelapa ke dalam mesin pencacah bantuan dari CSR Pertamina. (uly)

Sabut kelapa yang telah dicacah dapat diolah menjadi cocopeat atau media tanam. Hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Kampung Terih.

Dari situ, muncul pemikiran di kalangan pengurus bahwa bahan serupa juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian mereka sendiri. Pengembangan pengolahan sampah organik itu kemudian berkaitan dengan kegiatan KWT Siji Sembada.

Mengelola sampah organik ternyata memiliki tantangan tersendiri. Pada tahap awal, para pengurus menyediakan lima tong sampah di depan kontainer. Warga disosialisasikan agar membuang sisa makanan dan sampah dapur ke dalam tong tersebut.

Namun, upaya itu belum berjalan maksimal. Jarak tong yang dianggap cukup jauh membuat sebagian warga enggan berjalan untuk membuang sampah organik.

Tahun ini, para pengurus mencoba mendekatkan fasilitas kepada warga dengan menyediakan dua tong untuk setiap dua rumah, sehingga sisa makanan dapat dibuang lebih mudah.

Meski demikian, masalah baru muncul. Sisa sampah yang dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos tidak selalu menghasilkan pupuk atau tanaman yang diharapkan. Sampah organik yang seharusnya terurai justru kerap dimakan tikus.

Kondisi serupa terjadi pada tanaman yang ditanam menggunakan sistem vertikultur. Tong-tong vertikultur berada di dekat parit sehingga mudah dijangkau tikus. Akibatnya, tanaman yang tumbuh juga kerap dimakan hewan pengerat tersebut.

Seorang Warga Perumahan Permata Bandara denang menunjukkan tong vertikultur. (uly)
Seorang Warga Perumahan Permata Bandara denang menunjukkan tong vertikultur. (uly)

Para pengurus masih mencari cara agar pengolahan sampah organik dapat berjalan lebih baik. Salah satu rencana yang muncul adalah memusatkan pengumpulan sampah organik di depan kontainer agar pengelolaannya lebih mudah dipantau.

Tantangan ini menunjukkan bahwa mengembangkan bank sampah bukan hanya soal mengumpulkan barang bekas yang laku dijual. Dibutuhkan pula pengetahuan, sarana, kedisiplinan warga, dan proses mencoba berbagai cara hingga menemukan sistem yang sesuai.

Dalam perjalanan pengembangan Unit Bank Sampah RT One Berseri, dukungan Pertamina tidak hanya berupa kontainer dan kendaraan roda tiga. Kelompok tersebut juga memperoleh pendampingan dan pelatihan, serta sejumlah peralatan untuk menunjang pengelolaan sampah.

Bantuan itu meliputi mesin komposit untuk pengolahan sampah menjadi pupuk, timbangan barang, aplikasi pengelolaan bank sampah bernama KIMARA (Kampung Inovasi Permata Bandara), mesin cocopeat, motor Viar, laptop, printer, serta kontainer untuk menyimpan sampah sebelum diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Nella sedang menimbang sampah menggunakan timbangan barang yang berasal dari bantuan CSR Pertamina. (uly)
Nella sedang menimbang sampah menggunakan timbangan barang yang berasal dari bantuan CSR Pertamina. (uly)

Bantuan-bantuan tersebut mendukung perubahan kegiatan bank sampah, dari yang semula dikelola secara sederhana dan manual menjadi kegiatan yang memiliki sarana pengangkutan, pencatatan, penyimpanan, serta pengolahan produk.

Namun, bagi Nella dan rekan-rekannya, pendampingan tersebut masih sangat dibutuhkan. Mereka berharap dukungan Pertamina tidak berakhir ketika periode program yang berjalan selama lima tahun berakhir pada 2027.

“Kami berharap pendampingan dari Pertamina jangan berakhir. Karena satu-satunya yang mendukung kami masih Pertamina. Belum ada bantuan dari pemerintah. Walaupun jangka waktu lima tahun berakhir pada 2027, semoga masih berlanjut,” ujar Nella.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Di balik bertambahnya jumlah nasabah dan meningkatnya hasil penjualan, pengelolaan bank sampah tetap membutuhkan pendampingan agar kegiatan dapat berkelanjutan.

Tiga perempuan di balik RT One Berseri

Unit Bank Sampah RT One Berseri dikelola oleh tiga perempuan yang menjalankan tanggung jawab masing-masing. Ketua kelompok adalah Kartini Majid (52), ibu empat anak. Bendahara dijabat Nella Nelvia (38), ibu tiga anak. Sementara itu, bagian penimbangan dan pemilahan ditangani Sri Surmasi (53), yang juga memiliki empat anak.

BACA JUGA:   Bapemperda DPRD Kota Batam Gelar FGD, Bahas Ranperda Lembaga Adat Melayu

Di tengah tanggung jawab sebagai ibu dan anggota keluarga, ketiganya menjalankan kegiatan yang menuntut waktu, tenaga, dan ketelitian. Mereka harus mengatur sampah yang masuk, melakukan penimbangan dan pemilahan, mencatat transaksi, berkoordinasi dengan pembeli, serta mengembangkan produk olahan.

Tiga Pengurus Bank Sampah di RT One Berseri. (uly)
Tiga Pengurus Bank Sampah di RT One Berseri. (uly)

Penghasilan kelompok berasal dari selisih harga penjualan sampah. Para pengurus tidak menerima insentif tetap sebagaimana kader yang mendapatkan insentif dari program tertentu.

Karena itu, mereka berharap pemerintah turut memberikan perhatian melalui insentif bagi petugas bank sampah, sebagaimana dukungan yang diberikan kepada kader posyandu.

Menurut mereka, pekerjaan tersebut pada dasarnya merupakan kerja sosial yang membutuhkan komitmen berkelanjutan. Para pengurus menggerakkan warga, menjaga lingkungan, dan mengupayakan agar sampah tidak berakhir begitu saja sebagai limbah.

Sementara itu, kelompok ini juga merupakan bagian dari Subkegiatan Pengelolaan Sampah KIMARA atau Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara.

Nama KIMARA mencerminkan upaya mereka membangun inovasi pengelolaan sampah yang berangkat dari lingkungan permukiman sendiri.

Perjalanan RT One Berseri memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan kecil dapat tumbuh ketika ada kemauan warga, dukungan fasilitas, dan pendampingan yang sesuai kebutuhan.

Dari 13 nasabah pada 2022, kelompok ini berkembang hingga 210 nasabah. Dari volume sekitar 200 kilogram sampah per bulan, mereka pernah mencapai satu ton, lalu tiga ton per bulan setelah menerapkan sistem jemput bola. Dari hasil penjualan Rp5 juta setahun, pendapatan kelompok meningkat menjadi sekitar Rp46 juta pada 2025.

Angka-angka itu mencatat perkembangan usaha. Namun, nilai yang mereka bangun tidak berhenti pada uang. Ada kebiasaan memilah sampah yang mulai tumbuh. Ada warga yang belajar melihat nilai dari barang yang sebelumnya dibuang. Ada produk olahan yang membuka kemungkinan usaha baru. Ada pula para ibu rumah tangga yang memperoleh kesempatan untuk menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan keluarga.

Di sisi lain, perjalanan tersebut belum selesai. Pengolahan sampah organik masih menghadapi kendala, fasilitas terus membutuhkan perawatan, dan keberlanjutan pendampingan menjadi salah satu harapan terbesar para pengurus.

Mereka ingin pemerintah ikut terlibat, bukan hanya dalam bentuk bantuan peralatan, tetapi juga penghargaan terhadap tenaga dan waktu yang dicurahkan para pengelola bank sampah.

Bagi Nella, Kartini, Sri Surmasi, dan ratusan nasabah RT One Berseri, sampah telah mengubah cara mereka memandang peluang. Apa yang dahulu dianggap tidak bernilai kini dapat menjadi tambahan uang belanja, tabungan menjelang hari raya, bahkan membantu memenuhi kebutuhan yang lebih besar.

Di Perumahan Permata Bandara, sampah kini memiliki cerita yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar sisa yang menunggu dibuang, melainkan sumber penghasilan, ruang belajar, dan harapan agar para ibu rumah tangga dapat terus bergerak menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, melalui Program KIMARA (Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara) yang dijalankan bersama Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri di Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Di Kampung KIMARA, minyak goreng bekas dapat menjelma menjadi lilin aromaterapi, kardus telur disulap menjadi vas bunga, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk cair. Bagi kelompok masyarakat RT One Berseri sampah bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan peluang untuk membangun kemandirian ekonomi dan menumbuhkan harapan bagi keluarga.

Pengurus Bank Sampah RT One Berseri sedang mempromosikan hasil jualannya. (uly)
Pengurus Bank Sampah RT One Berseri sedang mempromosikan hasil jualannya. (uly)

Perubahan itu tumbuh di Kampung Kimara, sebuah inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim Group.

Di balik aktivitas memilah, mengangkut, dan mengolah sampah, tersimpan cerita tentang masyarakat yang perlahan bertumbuh. Kelompok yang pada awalnya hanya beranggotakan sekitar delapan hingga 10 orang pada 2022 itu kini berkembang menjadi kurang lebih 200 anggota.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ketika persoalan lingkungan ditangani bersama dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkembang, sesuatu yang semula dianggap tak bernilai dapat menghadirkan manfaat yang jauh lebih besar.

Kampung Kimara tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan memilah sampah. Kelompok ini berupaya memperpanjang manfaat setiap material yang masih dapat diolah menjadi produk bernilai guna.

Sampah organik diolah menjadi pupuk organik cair. Sementara itu, sampah anorganik dimanfaatkan untuk menghasilkan beragam kerajinan, mulai dari hiasan bunga hingga vas yang dibuat dari kardus telur. Minyak goreng bekas pun mendapat kehidupan baru setelah diolah menjadi lilin aromaterapi.

Kreativitas tersebut membuka peluang ekonomi bagi para anggota, terutama ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan pengolahan sampah. Sampah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini dapat menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai jual.

AFT Hang Nadim Group turut mendukung pengembangan kegiatan tersebut. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa sarana pengangkutan sampah, tetapi juga pelatihan untuk meningkatkan kemampuan anggota dalam mengolah sampah menjadi produk yang bernilai.

Salah satu dukungan konkret berupa kendaraan roda empat yang digunakan untuk mengangkut sampah dari sejumlah kantor perusahaan. Sarana ini membantu kelompok memperluas jangkauan pengumpulan sampah sekaligus mendukung kegiatan operasional mereka.

AFT Hang Nadim Group Manager Sigit Gentur Sutopo menegaskan bahwa komitmen TJSL perusahaan diwujudkan melalui pendampingan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

“Selain motor, kami juga membantu pelatihan-pelatihan cara mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya menjelaskan bentuk dukungan yang diberikan kepada kelompok tersebut.

Dampak program tidak hanya terlihat dari sampah yang berhasil diolah atau produk yang dihasilkan. Perubahan juga terasa dalam kehidupan sehari-hari anggota kelompok.

Menurut Sigit, sebagian ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan Kampung Kimara kini mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Bagi keluarga, tambahan pendapatan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan anak.

Ada pula anggota yang berhasil mengumpulkan tabungan hingga mampu membeli logam mulia. Uang yang disisihkan sedikit demi sedikit menjadi simpanan untuk masa depan, sekaligus memberi ruang bagi keluarga untuk mengatur kebutuhan dengan lebih baik.

BACA JUGA:   Warga Batam Bayar UWT dan PBB, Taba : Jangan Ada Double Pungutan

Sebagian hasil kegiatan juga dapat dimanfaatkan untuk menambah pembayaran uang sekolah atau SPP anak. Di sinilah nilai pemberdayaan Kampung Kimara menemukan maknanya. Pengelolaan sampah bukan semata-mata kegiatan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga jalan bagi masyarakat untuk membangun ketahanan ekonomi keluarga.

Di balik produk yang dihasilkan, ada waktu dan tenaga yang dicurahkan para anggota. Di balik penghasilan yang terkumpul, ada kebutuhan rumah tangga yang terbantu dan di balik tabungan yang sedikit demi sedikit bertambah, ada harapan agar anak-anak dapat terus mengenyam pendidikan dengan lebih baik.

Pendampingan terhadap RT One Berseri bukan tanpa alasan. Program ini berangkat dari hasil pemetaan sosial terhadap kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan Batu Besar.

Dari pemetaan tersebut, RT One Berseri dinilai sebagai kelompok yang paling sesuai untuk dikembangkan. Kelompok ini memiliki modal sosial berupa hubungan antaranggota yang solid serta area operasional dan fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan untuk berkegiatan.

Pada saat yang sama, pemetaan sosial mengidentifikasi persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah yang belum optimal. Kondisi tersebut menjadi dasar penentuan arah program. Perbaikan lingkungan melalui optimalisasi pengelolaan sampah dari sumbernya ditetapkan sebagai tujuan awal pendampingan.

Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pelaku utama perubahan. Mereka terlibat langsung dalam kegiatan, mengembangkan keterampilan, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan mereka.

Seiring perkembangannya, Kampung Kimara juga didorong untuk membangun jejaring dengan berbagai mitra strategis. Kelompok ini kini telah menjalin kerja sama dengan perusahaan lain, sekolah, dan instansi pemerintah.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut membuka peluang bagi kelompok untuk memperluas kegiatan, menjangkau sumber sampah baru, serta memperkuat keberlanjutan program. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat kegiatan terus berjalan selama ada bantuan, melainkan mendorong kelompok agar mampu berkembang secara mandiri.

Kerja keras anggota Kampung Kimara juga membuahkan prestasi. Pada 2024, kelompok ini meraih juara pertama tingkat Kota Batam dalam kompetisi yang diselenggarakan Pemerintah Kota Batam.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya masyarakat dalam mengelola sampah dan membangun lingkungan yang lebih baik. Bagi kelompok yang tumbuh dari sekitar delapan hingga 10 orang menjadi kurang lebih 200 anggota, capaian itu sekaligus menjadi penanda perjalanan panjang yang telah mereka lalui.

Sigit mengungkapkan kebanggaannya terhadap pencapaian tersebut. Ia bahkan menyampaikan secara berseloroh bahwa setelah menjadi juara pertama pada 2024, kelompok itu tidak perlu lagi mengikuti perlombaan serupa pada tahun berikutnya karena sudah terbukti menjadi yang terbaik.

Di balik candaan itu, tersimpan apresiasi terhadap kerja kolektif masyarakat yang berhasil mengembangkan kegiatan sederhana menjadi gerakan pemberdayaan dengan dampak nyata.

Bagi AFT Hang Nadim Group, keberhasilan pendampingan tidak semata-mata diukur dari bantuan sarana, jumlah pelatihan, ataupun penghargaan yang diraih. Lebih dari itu, keberhasilan tercermin ketika masyarakat mampu melanjutkan kegiatan, memperluas kemitraan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri.

Kampung Kimara memperlihatkan bagaimana persoalan sampah dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas. Berawal dari kebutuhan memperbaiki lingkungan, kegiatan ini berkembang menjadi ruang belajar, ruang kolaborasi, dan sumber peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kendaraan pengangkut membantu memperluas jangkauan pengumpulan sampah. Pelatihan memperkuat keterampilan anggota. Kemitraan membuka akses terhadap dukungan dan peluang baru. Sementara itu, keterlibatan masyarakat menjadi fondasi yang menjaga seluruh proses tetap berjalan.

Perjalanan Kampung Kimara juga mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat. Ketika warga memperoleh manfaat langsung dari pengelolaan sampah, tumbuh alasan yang lebih kuat untuk menjaga kebersihan sekaligus mempertahankan kegiatan tersebut.

Dari pupuk organik cair, vas bunga berbahan kardus telur, hingga lilin aromaterapi dari minyak jelantah, Kampung Kimara membuktikan bahwa nilai sebuah barang tidak selalu berakhir ketika barang itu dibuang.

Di Batu Besar, sampah kini menjadi bagian dari cerita tentang perubahan. Tentang ibu-ibu yang memperoleh penghasilan, keluarga yang terbantu membayar pendidikan anak, tabungan yang tumbuh menjadi logam mulia, serta masyarakat yang membangun masa depan melalui kerja bersama.

Sebab, pada akhirnya, yang sedang diolah Kampung Kimara bukan hanya sampah. Mereka juga sedang menumbuhkan kemandirian, merawat lingkungan, dan mengubah harapan menjadi sesuatu yang nyata.

Di tempat yang sama, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan AFT Hang Nadim membina UBS RT One Berseri untuk mengelola sampah secara terpadu melalui pendekatan ekonomi sirkular dan prinsip zero waste.

Program KIMARA ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

“Melalui pembinaan UBS RT One Berseri, kami mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Program KIMARA ini memberikan dampak lingkungan yang positif, membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya kelompok ibu rumah tangga,” ujar Fahrougi.

Saat ini, UBS RT One Berseri telah mampu mengelola sampah secara produktif dan berkelanjutan. Kelompok ini mengolah limbah buah yang berasal dari kedai buah dan jus.

Setiap bulan, kelompok ini mampu mengolah 41 kg sampah organik untuk pembuatan eco enzyme. Kemudian sebanyak 231 kg sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan maggot dan 39 kg sampah organik diolah menjadi kompos.

Selain itu, UBS RT One Berseri ini juga mengembangkan hidroponik. Hasil panen hidroponik saat ini mencapai 20 kg per bulan yang dipasarkan kepada masyarakat sekitar. Keberhasilan program ini berdampak pada kelestarian lingkungan dan membuka akses ekonomi baru bagi masyarakat.

“Pengelolaan sampah anorganik juga menunjukkan hasil yang signifikan dengan volume mencapai 3 ton per bulan yang kemudian dipilah dan dijual ke perusahaan daur ulang. Dari seluruh aktivitas tersebut, kelompok binaan ini berhasil mengurangi timbunan sampah yang berakhir di TPA dan menciptakan sumber pendapatan tambahan yang mendukung perekonomian anggota UBS RT One Berseri,” kata Fahrougi. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER