BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Ada sebuah momen yang sampai hari ini masih diingat Ricardo Marpaung. Bukan saat menandatangani dokumen pembelian rumah. Bukan pula ketika pertama kali melihat bangunan yang kelak menjadi tempat tinggal keluarganya.
Melainkan ketika sebuah kunci akhirnya berpindah ke tangannya. Saat itu, berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Bahagia, lega, sekaligus haru.
Setelah melalui berbagai keterbatasan, kekhawatiran mengenai kemampuan finansial, dan perjalanan panjang mempersiapkan pembelian rumah, akhirnya kalimat yang selama ini hanya ada dalam angan menjadi kenyataan.
“Akhirnya kami punya rumah sendiri,” ujar Ricardo, Seorang nasabah CIMB Niaga di Kota Batam, Provinsi Kepri, ini kepada Batamstraits.com, Kamis (8/10/2026).
Bagi sebagian orang, memiliki rumah mungkin terlihat seperti pencapaian biasa. Namun bagi Ricardo dan keluarganya, rumah adalah buah dari perjuangan yang tidak sebentar.
Ia sadar kemampuan finansial keluarganya terbatas. Penghasilan yang ada harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan berbagai keperluan keluarga.
Karena itu, impian memiliki rumah tidak bisa diwujudkan dalam satu malam. Ricardo dan keluarganya mempersiapkan diri secara bertahap selama sekitar tiga tahun.
Sedikit demi sedikit, penghasilan disisihkan. Pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting dikurangi. Mereka tahu, semakin lama menunggu, harga rumah bisa semakin sulit dijangkau.
“Kalau terus menunggu sampai punya uang yang cukup, mungkin impian itu tidak akan pernah terwujud,” ujar Pria Kelahiran 09 Agustus 1988 ini.
Kalimat itu menggambarkan dilema yang dihadapi banyak keluarga. Ingin memiliki rumah sendiri, tetapi harus berhadapan dengan kemampuan finansial yang terbatas.
Namun Ricardo memilih untuk tidak berhenti pada kekhawatiran. Ayah yang memiliki anak sepasang inipun mulai menghitung.
Berapa kemampuan keluarga membayar cicilan. Berapa kebutuhan sehari-hari, berapa biaya pendidikan anak. Hingga berapa ruang yang masih tersedia dalam keuangan keluarga.
Sebab baginya, memiliki rumah tidak boleh membuat keluarganya kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Ada alasan lain yang membuat Ricardo semakin yakin untuk memiliki rumah sendiri.
Ia melihat semakin banyak orang memilih tinggal di apartemen yang lebih menekankan kepemilikan unit. Sementara dirinya memiliki pandangan berbeda mengenai arti sebuah rumah.
Ia ingin rumah yang berdiri di atas tanah sendiri. Bukan semata-mata karena bentuk bangunannya, melainkan karena ia memandang rumah sebagai aset yang dapat menjadi bagian dari masa depan anak-anak.
“Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga aset dan warisan yang bisa menjadi bagian dari masa depan anak-anak saya,” katanya.
Bagi Ricardo, keputusan membeli rumah sebenarnya bermula dari satu pertanyaan sederhana. Apa yang bisa ia tinggalkan untuk anak-anaknya?
Ia mungkin tidak mampu memberikan banyak hal. Tetapi ia ingin memberikan sesuatu yang mendasar, tempat yang aman untuk tumbuh.
Ketika mulai memikirkan masa depan anak-anak, Ricardo menyadari bahwa sebuah rumah dapat menjadi lebih dari sekadar alamat tempat tinggal. Rumah dapat menjadi tempat pertama seorang anak belajar mengenal dunia.
Tempat keluarga berkumpul. Tempat menyimpan kenangan dan suatu hari nanti, tempat yang akan selalu diingat sebagai rumah masa kecil.
Dari Keraguan Menuju KPR
Setelah melalui masa persiapan, Ricardo menemukan jalan pembiayaan yang memungkinkan impian tersebut lebih dekat untuk diwujudkan. Informasi mengenai KPR CIMB Niaga pertama kali ia dapatkan melalui pihak marketing dari rumah yang sedang dilihatnya.
Awalnya, bukan rasa yakin yang muncul. Ada kekhawatiran. Bagaimana jika pengajuan tidak disetujui? Apakah cicilan akan sanggup dibayar setiap bulan? Apakah keputusan tersebut justru akan membebani keluarga? Semua pertanyaan itu ada di kepalanya.
Namun Ricardo mencoba mengikuti prosesnya, melengkapi dokumen yang diperlukan, dan menjalani tahapan pengajuan. Ketika pengajuan akhirnya disetujui, perasaan lega langsung muncul.
“Setelah pengajuan disetujui, rasanya sangat lega dan bersyukur,” tuturnya.
Bagi Ricardo, keberadaan fasilitas KPR CIMB Niaga memberikan kesempatan untuk memiliki rumah tanpa harus menyiapkan seluruh harga rumah secara tunai. Ia menilai hal itu penting bagi keluarga dengan kemampuan finansial terbatas seperti dirinya.
“Kalau harus membeli rumah secara tunai, mungkin akan sangat sulit bagi kami,” kata Ricardo yang melakukan pembayaran cicilan rumahnya melalui Auto Debet setiap bulannya.

Di sepanjang proses itu, informasi dan arahan menjadi hal yang menurutnya sangat membantu. Bagi orang yang belum terbiasa dengan proses KPR, dokumen dan tahapan pengajuan dapat terasa rumit.
Karena itu, komunikasi dengan pihak yang membantu proses menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Sebelas Tahun Menjaga Sebuah Rumah
Mendapatkan rumah ternyata bukan akhir dari perjuangan. Justru setelah kunci berada di tangan, perjuangan berikutnya dimulai.
Menjaga agar cicilan tetap berjalan. Ricardo mengambil tenor selama 11 tahun.
Lima tahun pertama menggunakan skema bunga flat. Sementara sisanya mengikuti suku bunga sesuai ketentuan pembiayaan yang diambilnya.
Pilihan tenor tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan kemampuan keuangan keluarga. Baginya, cicilan harus tetap dapat dijalankan secara stabil tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.
Karena itu, setelah menerima penghasilan, cicilan rumah ditempatkan sebagai salah satu prioritas. Kebutuhan keluarga dipenuhi terlebih dahulu, kemudian pengeluaran lainnya disesuaikan.
Tidak selalu mudah. Ada masa ketika kebutuhan tak terduga datang dan kondisi keuangan terasa lebih berat. Namun Ricardo dan keluarga memilih mengurangi pengeluaran yang tidak penting dan kembali disiplin mengatur keuangan.
Ada satu hal yang selalu ia ingat ketika kondisi terasa sulit. Tujuan awal mereka memiliki rumah, yaitu keluarga. Setiap kali cicilan terasa berat, Ricardo mengingat kembali alasan mengapa ia berani mengambil keputusan tersebut.
Rumah itu bukan hanya untuk dirinya. Rumah itu untuk keluarganya. Di Rumah Itu, Seorang Putri Lahir.
Kini rumah tersebut bukan lagi sekadar bangunan yang dibeli melalui proses panjang. Rumah itu telah memiliki cerita.
Di tempat yang sama pula tersimpan kenangan paling dalam keluarga mereka. Ricardo bercerita, rumah tersebut juga menjadi tempat keluarga menyimpan kenangan tentang Ibunda mereka yang telah tiada.
Karena itu, nilai rumah tersebut tidak lagi dapat dihitung hanya berdasarkan harga tanah, luas bangunan, atau nilai aset. Ada kehidupan di dalamnya, ada tawa, ada tangis, ada kelahiran dan ada kehilangan. Ada kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Itulah sebabnya ketika ditanya apa arti rumah baginya, Ricardo tidak berbicara tentang ukuran ataupun kemewahan.
“Rumah adalah tempat pulang,” katanya.
Tempat keluarga merasa aman, tempat anak-anak tumbuh. Tempat keluarga membangun harapan.
“Rumah bagi saya bukan tentang besar atau mewahnya, tetapi tentang siapa yang ada di dalamnya,” kata Ricardo.
Kunci yang Mengubah Arti Sebuah Perjuangan
Bila ditarik kembali ke awal perjalanan, ada tiga tahun persiapan yang harus dilalui Ricardo sebelum berani mengambil langkah. Kemudian ada proses pengajuan KPR. Ada kecemasan menunggu persetujuan.
Ada sebelas tahun cicilan yang masih harus dijalani. Namun semua itu menemukan maknanya pada satu momen, ketika kunci rumah berada di tangan.
Bagi Ricardo, itulah momen paling berkesan. Sebab dalam satu benda kecil berbentuk kunci, tersimpan perjalanan panjang keluarganya. Tiga tahun menabung dan berbagai pengorbanan.
Kekhawatiran mengenai kemampuan finansial. Keberanian mengambil keputusan dan harapan tentang masa depan anak-anak.
Keluarga menjadi alasan Ricardo untuk terus melangkah. Ketika cicilan terasa berat, ia kembali mengingat bahwa rumah tersebut adalah bagian dari masa depan keluarganya.
Cita-citanya pun sederhana. Ia ingin melihat anak-anak tumbuh bahagia di rumah tersebut. Ia ingin rumah itu menjadi tempat berkumpul keluarga, membuat banyak kenangan, sekaligus menjadi tempat anak-anak belajar dan mengejar cita-cita.
Dan satu cita-cita lain yang tidak kalah penting suatu hari nanti, cicilan rumah tersebut dapat diselesaikan sampai lunas.
Ricardo sadar masih banyak orang di luar sana yang memiliki impian sama. Ingin memiliki rumah, tetapi merasa belum mampu.
Menunggu penghasilan lebih besar, menunggu tabungan cukup, menunggu kondisi ekonomi lebih baik dan menunggu waktu yang dianggap tepat.
Namun dari pengalaman pribadinya, Ricardo justru menemukan satu pelajaran, tidak ada waktu yang ideal untuk memulai. Ia tidak berasal dari keluarga dengan kemampuan finansial besar.
Ia pun tidak memiliki uang dalam jumlah banyak yang bisa langsung digunakan untuk membeli rumah. Yang ia miliki adalah keinginan, perhitungan, kesabaran, dan keberanian untuk memulai. Karena itu, ia ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang yang masih berjuang memiliki rumah.
“Jangan merasa bahwa memiliki rumah sendiri hanya untuk orang yang punya penghasilan besar,” ujarnya.
Menurut Ricardo, yang terpenting adalah berusaha, menghitung kemampuan dengan bijak, dan berani mengambil langkah. Jalannya mungkin tidak cepat. Tetapi selama terus berjalan, impian itu memiliki peluang untuk menjadi kenyataan.
Perbankan Menjadi Bagian dari Perjalanan
Bagi Ricardo, CIMB Niaga bukan sekadar nama bank yang tercantum dalam dokumen pembiayaan rumah. Kehadiran fasilitas KPR menjadi salah satu bagian dari perjalanan keluarganya ketika sebuah impian yang terasa sulit mulai memiliki jalan untuk diwujudkan.
Ia tidak menganggap perjalanan itu selesai. Masih ada cicilan yang harus dijaga, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, ada masa depan anak-anak yang harus dipersiapkan.
Tetapi setidaknya, satu langkah besar telah dilakukan. Dari tidak memiliki rumah, kini keluarganya memiliki tempat untuk pulang. Dari sekadar membayangkan masa depan, kini mereka memiliki ruang untuk mulai membangunnya.
Dari sebuah keputusan finansial, lahirlah sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah rumah yang menyimpan cerita tentang perjuangan sebuah keluarga. Bagi Ricardo, perjalanan memiliki rumah mengajarkan bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kadang ia hadir perlahan. Dimulai dari menyisihkan sedikit penghasilan. Mengurangi pengeluaran, menghitung kemampuan, mengambil keputusan dengan hati-hati. Kemudian melangkah.
Satu langkah demi satu langkah. Hingga akhirnya, sebuah kunci berada di tangan dan di balik pintu itu, ada keluarga yang menunggu untuk pulang.
Kini, akses kepemilikan rumah semacam ini kian terbuka lebar bagi masyarakat. CIMB Niaga menghadirkan program KPR XTRA “Pakai Xtra Ringan! Punya Rumah Siap Huni Jadi Mudah” (periode promo 16 Juli – 31 Agustus 2026).
Program ini menjadi solusi bagi keluarga yang ingin memiliki hunian idaman, baik rumah second melalui developer non-rekenan maupun property agent, dengan skema penawaran menarik:
-Bunga 4.50% Fixed 3 Tahun (skema Fixed to Float, minimal tenor 10 tahun).
-Bunga 5.00% Fixed 5 Tahun (skema Fixed to Float, minimal tenor 15 tahun).
Perjuangan pribadi Ricardo juga tampak sejalan dengan denyut nadi Kota Batam yang kian bergairah. Sebagai kawasan strategis nasional dan internasional, Batam terus menunjukkan fondasi ekonomi yang kian kokoh.
Batam menunjukkan penguatan posisi sebagai salah satu kawasan strategis di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Batam yang mencapai 7,28 persen, realisasi investasi sekitar Rp40 triliun pada Semester I 2026, hingga meningkatnya konektivitas pelabuhan menjadi sinyal bahwa Batam kian diperhitungkan, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut perkembangan tersebut menjadi gambaran bahwa Batam sedang bergerak menuju posisi yang semakin strategis dalam peta ekonomi dan perdagangan global.
Menurut Amsakar, sejumlah indikator makro ekonomi menunjukkan geliat Batam yang semakin kuat. Realisasi investasi pada Semester I 2026 telah mencapai sekitar Rp40 triliun.
Angka tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan dunia usaha terhadap Batam sebagai kawasan investasi sekaligus salah satu pusat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Batam pada Semester I 2026 tercatat mencapai 7,28 persen. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berada di level 6,76 persen.
“Angka-angka makro ekonomi kita hari ini menunjukkan geliat yang membanggakan. Pertumbuhan ekonomi kita berada di angka 7,28 persen dan investasi terus bergerak. Ini menunjukkan bahwa Batam memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat,” ujar Amsakar. (uly)










