Wednesday, September 9, 2026
HomeBatamTGI Minta Objek Vital Nasional Dijaga, Pipa Gas Batam-Singapura Dapur 12 Bersinggungan...

TGI Minta Objek Vital Nasional Dijaga, Pipa Gas Batam-Singapura Dapur 12 Bersinggungan dengan Kawasan Shipyard

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Selain kawasan Stasiun Gas Panaran, PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) menyoroti banyaknya industri galangan kapal atau Shipyard di Dapur 12 Kota Batam. Pihaknya menaruh perhatian terhadap jalur pipa yang berada di kawasan Dapur 12.

General Manager Regional Office 4 PT Transportasi Gas Indonesia (TGI),  Oddy Jaka Rinaldi menjelaskan, jalur tersebut merupakan bagian dari jaringan pipa yang membawa gas dari Batam menuju Singapura.

“Yang bahaya itu sebenarnya yang sekarang terjadi di area Dapur 12. Jadi arah dari Batam ke arah Singapura. Pipanya ke laut lagi di Dapur 12, munculnya kan di Panaran. Terus ujungnya di Dapur 12,” kata Oddy, Rabu (9/9/2026).

Ia mengatakan, kondisi kawasan tersebut telah mengalami perubahan cukup signifikan. Dahulu, kawasan Dapur 12 merupakan rawa dan hutan bakau. Namun, saat ini kawasan tersebut telah dipenuhi aktivitas shipyard.

“Awalnya dulu itu rawa, hutan bakau. Sekarang sih shipyard semua,” katanya.

Untuk menjaga keselamatan jalur pipa yang berada di kawasan tersebut, TGI telah memiliki mekanisme koordinasi dengan perusahaan-perusahaan shipyard di sekitar jalur pipa.

BACA JUGA:   GAPEKSINDO : Ansar Nyanyang Pasangan Pasangan Pas Pimpin Kepri

Menurut Oddy, setiap aktivitas yang berkaitan dengan kapal, termasuk kegiatan uji coba atau keluar-masuk kapal, perlu diinformasikan terlebih dahulu kepada TGI.

“Kita punya semacam perjanjian bersama lah kepada shipyard teknis sana. Kalau ada yang mau trial atau mau keluar masuk, itu informasi dulu ke kami,” ujarnya.

Hal itu dilakukan karena TGI juga memiliki stasiun pemantau radar dan Automatic Identification System (AIS) di Panaran untuk memantau pergerakan kapal yang melintas di sekitar jalur pipa.

Dengan sistem tersebut, TGI dapat mengetahui pergerakan kapal dan melakukan komunikasi apabila terdapat kapal yang berpotensi membahayakan jaringan pipa.
Dipantau 24 Jam

Oddy mengatakan, selain pos pantau yang berada di ujung jalur, TGI juga melakukan pengawasan secara daring selama 24 jam menggunakan AIS dan radar. Sistem tersebut menurutnya menyerupai Vessel Traffic System (VTS) mini.

“Nah, selain kita ada pos pantau di ujung, terus kita juga secara online 24 jam mengawasi itu pakai AIS dan radar, kayak VTS mini lah, Vessel Traffic System,” katanya.

BACA JUGA:   Polisi Ringkus Komplotan Perampok Indomaret Batam, Tiga Residivis Ditangkap

Melalui sistem tersebut, petugas juga dapat berkomunikasi dengan kapal-kapal yang melintas.

Peringatan diberikan kepada nakhoda agar tidak menurunkan jangkar di atas jalur pipa karena terdapat jaringan pipa transmisi gas di bawahnya.

“Kita bisa komunikasi juga dari VTS ke kapal-kapal yang lewat untuk mengingatkan si kapten kapal untuk tidak menurunkan jangkar karena di bawahnya ada pipa,” ujar Oddy.

Oddy berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap keberadaan objek vital nasional, termasuk jaringan pipa transmisi gas yang telah lebih dahulu berada di kawasan tersebut.

Menurutnya, aspek tata ruang perlu memperhitungkan keberadaan infrastruktur vital agar pembangunan industri tidak menimbulkan risiko terhadap jaringan pipa maupun pasokan energi.

“Pemerintah harus memikirkan dampaknya. Apalagi pipa sudah tertanam lama lebih dulu ketimbang industri,” katanya.

Ia menilai persoalan keselamatan jalur pipa tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur milik perusahaan, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Hal itu mengingat sebagian besar pembangkit listrik di Batam dan Tanjungpinang telah menggunakan gas sebagai bahan bakar.

BACA JUGA:   Tak Istirahat usai Lahiran, Kini Denise Chariesta Merasa Pinggangnya Hampir Patah

“70 persen pembangkit di Batam dan Tanjungpinang itu sudah pakai gas. Sama 30 persen, paling 25 persen batu bara, 5 persen masih ini lah, solar,” ujarnya.

Karena itu, gangguan terhadap jalur transmisi gas dikhawatirkan berdampak terhadap operasional pembangkit listrik apabila tidak tersedia sumber energi pengganti yang memadai.

“Nah, kalau ada apa-apa, takutnya PLN ini nggak punya backup plan untuk menghidupkan mesin dia selain pakai gas. Jadi kan bisa dibayangkan,” katanya. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER