BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Tren peredaran narkotika saat ini di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kini mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya didominasi jenis konvensional seperti sabu, kini narkoba banyak beredar dalam bentuk liquid vape yang dinilai lebih praktis dan sulit terdeteksi.
Kasatresnarkoba Polresta Barelang, Kompol Dr. Arsyad Riyandi, mengungkapkan bahwa selama sekitar tiga bulan terakhir sejak dirinya menjabat, mayoritas kasus yang ditangani berkaitan dengan liquid vape.
“Kalau kita lihat, ungkapan kasus saat ini mayoritas didominasi liquid vape. Sudah ada ribuan barang bukti yang kita amankan dan 1.931 keping vape di antaranya kita musnahkan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, pergeseran ini tidak terjadi begitu saja. Liquid vape menjadi pilihan karena lebih mudah digunakan serta dapat tersamarkan sebagai produk rokok elektrik biasa.
“Bisa tersamarkan karena banyak juga vape yang tidak mengandung narkotika. Selain itu, mudah dibawa dan bisa digunakan kapan saja,” jelasnya.
Fenomena ini juga berdampak pada profil pengguna. Arsyad menyebut, mayoritas pengguna liquid vape yang mengandung narkotika berasal dari kalangan usia muda.
“Penggunanya mayoritas usia belasan hingga sekitar 30 tahun. Untuk usia 40 tahun ke atas relatif jarang,” katanya.
Ia menilai kemudahan penggunaan dan bentuknya yang familiar di kalangan anak muda menjadi faktor utama meningkatnya tren tersebut.
Di sisi lain, peredaran liquid vape narkotika ini juga tidak lepas dari jaringan internasional. Bandar besar diketahui terhubung dengan jaringan di Malaysia.
“Memang ada keterkaitan dengan Malaysia. Namun data pelaku sudah kita koordinasikan dengan BNN, KJRI, dan pihak kepolisian di sana,” ungkapnya.
Arsyad juga menjelaskan bahwa produk liquid vape yang beredar memiliki variasi merek dan kandungan yang berbeda-beda. Hal ini diketahui berdasarkan hasil uji laboratorium.
“Ada perbedaan kandungan di setiap merek. Variannya berbeda, sehingga sensasi yang ditimbulkan juga berbeda,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa tren ini menjadi tantangan baru dalam penanganan narkotika, karena bentuknya yang semakin sulit dikenali serta menyasar kelompok usia produktif. (uly)







