BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Dalam rangka memperingati Hari Bumi dan Hari Buku Sedunia, Serindit Philosophy Centre secara meluncurkan Buku Praktis Identifikasi Jenis Pohon Batam. Sebagai bagian dari upaya penguatan literasi lingkungan, dokumentasi pengetahuan lapangan, dan konservasi keanekaragaman hayati hutan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi momentum perjalanan tiga tahun Serindit Philosophy Centre sebagai organisasi riset dan edukasi nirlaba yang bergerak dalam penguatan konservasi keanekaragaman hayati dan ketahanan pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau yang merupakan bagian terentan dari hotspot keanekaragaman hayati Sundaland.
Bertepatan dengan momentum tersebut, Serindit turut memperkenalkan Perbendaharaan Serindit, lini penerbitan di bawah naungan yayasan yang menjadi ruang untuk menghimpun dan menerbitkan catatan lapangan, riset, serta refleksi pengetahuan yang berpijak pada nilai Salus Naturae, Salus Populi (keselamatan alam merupakan asas bagi keselamatan hidup manusia).
Sebagai publikasi perdana dari Perbendaharaan Serindit, Buku Praktis Identifikasi Jenis Pohon Batam hadir untuk menjawab kebutuhan identifikasi pohon yang lebih praktis dan aplikatif di lapangan. Referensi identifikasi pohon yang tersedia selama ini umumnya bersifat sangat teknis dan kurang praktis digunakan dalam kondisi lapangan yang dinamis.
Buku ini disusun sebagai upaya menjembatani kebutuhan tersebut melalui pendekatan visual dan sistem identifikasi yang lebih sederhana tanpa menghilangkan dasar ilmiahnya.
Buku ini ditulis oleh Kesuma Wijaya dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit II Batam dan Alia Firdamayanti Tarmizi dari Serindit Philosophy Centre, dengan proses penyusunan, kajian, dan verifikasi ilmiah melibatkan Peneliti Ahli Utama Henti Hendalastuti Rachmat dari Pusat Riset Ekologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Buku ini merangkum 167 spesies pohon hutan Batam yang terbagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu Dipterocarpaceae seperti Meranti, Keruing, dan Mersawa, serta kelompok NonDipterocarpaceae yang terdiri dari 35 famili berbeda.
Penyusunan buku dilakukan menggunakan metode identifikasi praktis melalui kolase foto, legenda visual, dan deskripsi sederhana agar memudahkan proses pengenalan jenis secara cepat di lapangan.
Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca dan pengguna buku untuk mengenali jenis pohon berdasarkan bentuk daun, warna getah, tekstur kulit batang, bentuk banir, hingga karakter morfologi lainnya.
Setiap spesies juga dilengkapi dengan informasi status keterancaman berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta klasifikasi kualitas kayu untuk mendukung pengelolaan hutan yang lebih lestari dan berbasis pengetahuan. Lebih dari sekadar panduan lapangan, buku ini juga menghadirkan refleksi mengenai etika dan adab terhadap alam.
Melalui penerbitan ini, Perbendaharaan Serindit terus mendorong agar nilai-nilai kecintaan terhadap hutan tumbuh melalui proses mengenal, membangun kedekatan, serta menumbuhkan kepedulian sebagai pengingat untuk menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia sebagai khalifah bagi alam.
Peluncuran dan bedah buku ini turut dihadiri oleh berbagai pihak yang bergerak dalam bidang lingkungan, pendidikan, konservasi, dan pengelolaan hutan, di antaranya Kebun Raya Batam, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Batam, Manggala Agni, KTH Mandiri Bersama, KTH Harapan Sukses, Universitas Batam, Universitas Riau Kepulauan, Rumpun Bakau Indah, Yayasan Mondial Anugrah Indonesia, Siswa Sekolah Mondial, SMA Negeri 17 Batam, serta PT MSAS.
Peluncuran buku ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas pengarsipan pengetahuan lokal mengenai hutan dan keanekaragaman hayati di Kepulauan Riau, sekaligus memperkuat kolaborasi antara peneliti, praktisi lapangan, komunitas, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pulau-pulau kecil.
Melalui momentum Hari Bumi dan Hari Buku Sedunia, Serindit Philosophy Centre memandang bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan melalui aksi konservasi di lapangan, tetapi juga melalui penguatan literasi, dokumentasi pengetahuan, dan budaya membaca sebagai fondasi kesadaran sosio-ekologis. (*/uly)







