BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Suasana Bandara Hang Nadim mendadak mencekam pada pagi hari ketika sebuah pesawat Rajawali Airbus A320 ‘terbakar’ di sisi landasan. Bandara pun ditutup total selama satu jam.
Namun ternyata, insiden tersebut adalah bagian dari latihan keadaan darurat besar-besaran yang digelar pada 2025. Skenario latihan ini benar-benar dibuat seperti kejadian nyata. Sebuah pesawat fiktif Rajawali Air rute Kamboja Batam dengan 140 penumpang dan kru digambarkan mengalami kerusakan engine nomor dua saat hendak mendarat. Cuaca buruk dan fenomena windshear membuat pesawat tergelincir keluar runway lalu engine-nya terbakar.
Dalam simulasi, petugas mencatat 116 penumpang selamat, 20 terluka berat, dan 4 meninggal dunia. Angka ini membuat suasana latihan kian dramatis seakan-akan kecelakaan sungguhan terjadi di Batam.
Yang membuat latihan semakin menegangkan adalah hujan deras yang tiba-tiba turun. Meski begitu, seluruh rangkaian tetap dijalankan tanpa penundaan.
“Kami tidak mengharapkan hujan, tapi justru ini menambah tantangan dan membuat latihan makin realistis,” ujar Direktur Operasi PT Bandara Internasional Batam Anton Marthalius, Selasa (2/12/2025).
Untuk mengatasi “kecelakaan” ini, bandara mengerahkan tiga foam tender, satu nurse tender, tiga ambulans internal, satu mobil komando, dan ambulans dari 13 rumah sakit di Kota Batam, seperti RS Awal Bros, RSUD Embung Fatimah, hingga RS Bhayangkara.
Latihan besar ini digelar karena adanya kewajiban Permenhub No. 140/2015 yang mengatur bahwa bandara harus melakukan latihan darurat minimal setiap dua tahun. Persiapan dilakukan selama 120 hari, melibatkan airlines, AirNav, ground handling, TNI, Polri, SAR, Pemko Batam dan berbagai instansi lain.
Penutupan bandara selama satu jam membuat dua penerbangan terdampak, tetapi penundaan berlangsung lancar karena telah dikoordinasikan jauh hari, dan penumpang sudah diberi tahu sebelumnya.
Latihan terakhir dilakukan pada 2023, sehingga agenda berikutnya dijadwalkan kembali pada 2027. (uly)







