Saturday, November 7, 2026
HomeBatamPulau Penyengat, Hadiah Cinta Sultan yang Menjadi Pusat Intelektual Melayu

Pulau Penyengat, Hadiah Cinta Sultan yang Menjadi Pusat Intelektual Melayu

BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Luasnya mungkin tidak seberapa. Hanya sebuah pulau kecil dengan bentang alam yang dapat dijelajahi dalam waktu relatif singkat. Namun, siapa sangka, dari pulau yang berada di perairan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, ini pernah tumbuh sebuah peradaban besar yang jejaknya masih terasa hingga hari ini, bahkan dalam bahasa yang digunakan oleh ratusan juta masyarakat Indonesia. Pulau itu bernama Penyengat.

Di balik bangunan-bangunan bersejarah, benteng pertahanan, masjid, dan makam para tokoh Melayu, tersimpan perjalanan panjang tentang kekuasaan, perjuangan, cinta, tradisi intelektual, hingga perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi bahasa Indonesia.

Sejarah besar itulah yang diceritakan tokoh masyarakat Penyengat, Raja Malik bin Raja Hamzah, saat menerima kunjungan anggota Pro Jurnalismedia Siber (PJS) ke Pulau Penyengat.

Menurut Raja Malik, meskipun wilayahnya relatif kecil, Penyengat memiliki peran yang sangat besar dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan Melayu.

“Pulau ini kecil saja, tetapi pernah memainkan peranan besar dari perspektif kebudayaan Melayu dan juga bahasa Melayu yang kemudian menjadi sumber bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Ada kisah menarik di balik keberadaan Pulau Penyengat. Pulau ini bukan sekadar tempat yang tumbuh secara alami menjadi permukiman masyarakat, melainkan memiliki sejarah yang erat dengan kehidupan istana Kesultanan Melayu.

Raja Malik menjelaskan, Pulau Penyengat pada mulanya merupakan pulau yang kemudian dibangun dan dikembangkan menjadi kawasan permukiman.

Pulau tersebut dipersembahkan oleh Sultan Mahmud Riayat Syah, yang juga dikenal sebagai Sultan Mahmud Lingga, kepada Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah atau yang lebih dikenal dengan gelar Engku Puteri. Pulau itu menjadi hadiah perkawinan sekaligus tempat tinggal Engku Puteri.

Kisah tersebut kemudian hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Penyengat. Hingga kini, masyarakat setempat mengenal Pulau Penyengat sebagai pulau mas kawin.

“Kalau Bapak dan Ibu bertanya kepada orang-orang tua atau anak-anak Pulau Penyengat, pulau ini apa? Jawabannya, mas kawin. Itu merupakan memori kolektif masyarakat yang dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi,” tutur Raja Malik.

Di balik cerita hadiah pernikahan tersebut, tersimpan pula sejarah tentang posisi penting Engku Puteri dalam lingkungan kerajaan. Pulau Penyengat kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan politik dan pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.

BACA JUGA:   BP Batam Dorong Transisi Kebijakan Impor Non-B3 Demi Jaga Iklim Investasi

Bahkan, pulau ini pernah menjadi tempat kedudukan sultan dan pusat aktivitas pemerintahan kerajaan.

Benteng-Benteng Tua, Saksi Perang Melawan Belanda

Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, Pulau Penyengat juga memiliki peran strategis dalam pertahanan kerajaan.

Raja Malik mengungkapkan, pada 1782–1784 terjadi peperangan antara Kerajaan Riau dan Belanda. Dalam periode tersebut, Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat pertahanan utama kerajaan. Jejak peperangan itu masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Di sejumlah kawasan perbukitan, terdapat benteng-benteng peninggalan abad ke-18 yang dahulu digunakan sebagai bagian dari sistem pertahanan. Benteng tersebut dilengkapi dengan meriam dan persenjataan untuk menghadapi serangan musuh.

Bagi pengunjung yang menyusuri kawasan perbukitan Penyengat, peninggalan tersebut bukan sekadar bangunan tua. Ia menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat dan kekuatan kerajaan pada masa itu mempertahankan wilayahnya dari ancaman kolonial.

Meriam-meriam yang masih menjadi bagian dari warisan sejarah pulau tersebut seolah membawa ingatan pada masa ketika Penyengat berada di tengah pusaran konflik politik dan militer di kawasan Selat Malaka.

Pulau kecil ini pernah menjadi bagian penting dari strategi pertahanan sebuah kerajaan yang wilayah pengaruhnya jauh melampaui batas geografis Pulau Penyengat sendiri.

Perjalanan sejarah Pulau Penyengat tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik kawasan Melayu pada abad ke-19.

Pada masa kejayaannya, kerajaan yang dikenal sebagai Riau-Lingga-Johor-Pahang memiliki wilayah kekuasaan yang mencakup kawasan Kepulauan Riau, Singapura, Johor, hingga Pahang.

Namun, perjalanan kerajaan tersebut mengalami perubahan besar setelah Inggris dan Belanda menandatangani Traktat London atau Treaty of London pada 1824.

Perjanjian antara dua kekuatan kolonial Eropa itu membawa dampak besar terhadap pembagian wilayah kekuasaan di dunia Melayu.

Singapura, Johor, dan Pahang masuk ke dalam lingkungan pengaruh Inggris, sedangkan Kepulauan Riau, termasuk Natuna dan pulau-pulau di sekitarnya, berada di bawah pengaruh Belanda.

Pembagian tersebut bukan hanya persoalan batas wilayah kekuasaan. Lebih dari itu, perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting terbelahnya kesatuan politik dunia Melayu akibat kepentingan kolonial Inggris dan Belanda.

“Yang semula nama kerajaannya Riau, Lingga, Johor, dan Pahang, kemudian hanya tinggal Riau-Lingga,” jelas Raja Malik.

Sejak saat itu, kawasan Melayu yang sebelumnya memiliki hubungan politik, sosial, dan budaya dalam satu lingkungan kerajaan mulai berkembang dalam batas-batas administrasi kolonial yang berbeda.

BACA JUGA:   Momen Bukber Bersama Warga, Amsakar Serahkan Santunan kepada 1.000 Anak Yatim Piatu

Sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana keputusan politik bangsa asing mampu mengubah peta kekuasaan dan perjalanan masyarakat Melayu hingga masa berikutnya.

Jika benteng-benteng tua menjadi saksi perjuangan mempertahankan kekuasaan, maka karya-karya tulis menjadi saksi perjuangan mempertahankan martabat kebudayaan.

Di sinilah Pulau Penyengat memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak pulau lainnya.

Raja Malik menyebut Penyengat sebagai Bustan Al-Katibin, yang dimaknai sebagai taman para penulis atau taman para penulis Melayu.

Pada abad ke-19, pulau ini berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kesusastraan Melayu. Tradisi menulis tidak lagi hanya menjadi kegiatan kalangan istana, tetapi juga tumbuh di tengah masyarakat.

Hal yang menarik, tradisi intelektual tersebut turut melibatkan kaum perempuan. Sejumlah perempuan Melayu pada masa itu menghasilkan karya-karya penting. Gagasan mengenai kedudukan perempuan, kehidupan sosial, pendidikan, dan berbagai persoalan masyarakat telah dituangkan dalam tulisan jauh sebelum isu-isu tersebut menjadi pembicaraan luas pada masa modern.

“Di Pulau Penyengat, orang gemar menulis. Menulis bukan lagi hanya tradisi istana, tetapi orang-orang biasa juga menulis. Bahkan banyak perempuan yang menghasilkan karya-karya hebat,” ungkap Raja Malik.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa Penyengat bukan sekadar pusat kekuasaan politik, tetapi juga ruang tumbuhnya pemikiran, kreativitas, dan tradisi literasi masyarakat Melayu.

Di pulau inilah gagasan-gagasan dituangkan, pengetahuan dikembangkan, dan bahasa dipelihara melalui karya tulis.

Raja Ali Haji dan Jejak Lahirnya Bahasa Indonesia

Nama Raja Ali Haji menjadi salah satu tokoh paling penting ketika berbicara tentang sejarah intelektual Pulau Penyengat.

Bersama lingkungan intelektual Melayu pada masanya, Raja Ali Haji memberikan sumbangan besar dalam pengembangan dan pembakuan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu pada masa itu telah lama digunakan sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca, terutama dalam perdagangan dan komunikasi antarkelompok masyarakat di kawasan Nusantara.

Namun, bahasa yang digunakan secara luas tersebut kemudian semakin diperkuat kedudukannya melalui karya-karya kebahasaan yang lahir dari lingkungan intelektual Melayu di Penyengat.

Upaya tersebut dilakukan melalui penulisan kamus, penyusunan perbendaharaan kata, serta perumusan kaidah tata bahasa.

Salah satu karya penting yang menjadi bukti tradisi kebahasaan tersebut adalah Bustan al-Katibin, karya Raja Ali Haji yang membahas kaidah penulisan dan tata bahasa Melayu.

BACA JUGA:   Efisiensi Anggaran, Amsakar : Uangnya Berputar Di Daerah Bukan Kembali Ke Pusat

Selain itu, terdapat pula Kitab Pengetahuan Bahasa, yang menjadi salah satu karya penting dalam tradisi leksikografi Melayu.

Melalui karya-karya tersebut, bahasa Melayu tidak hanya dipertahankan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, tetapi juga ditingkatkan kedudukannya sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahasa persuratan, dan bahasa kesusastraan.

Raja Malik menjelaskan, kerja-kerja intelektual yang berlangsung di Penyengat memiliki hubungan penting dengan perjalanan bahasa Melayu hingga kemudian menjadi bahasa Indonesia.

“Bahasa Melayu itu ditinggikan dan dimartabatkan melalui karya-karya kebahasaan. Ditulis kamus perbendaharaan bahasanya, ditulis kaidah tata bahasanya. Sehingga bahasa Melayu menjadi bahasa persuratan dan bahasa kesusastraan,” jelasnya.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, bahasa Melayu kemudian diangkat sebagai bahasa persatuan Indonesia dan berkembang menjadi bahasa Indonesia.

Dengan demikian, Pulau Penyengat memiliki tempat istimewa dalam sejarah perkembangan bahasa yang kini menjadi identitas nasional bangsa Indonesia.

Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia memiliki jejak panjang perjalanan intelektual, dan salah satu ruang penting yang turut membentuk sejarah itu adalah Pulau Penyengat.

Pulau Kecil dengan Warisan yang Melampaui Zaman

Sejarah Pulau Penyengat sejatinya bukan hanya tentang benteng, meriam, sultan, ataupun bangunan peninggalan masa lalu.

Lebih dari itu, Penyengat merupakan gambaran bagaimana sebuah pulau kecil mampu menjadi pusat kekuasaan, pertahanan, kebudayaan, dan perkembangan pemikiran.

Dari hadiah perkawinan Sultan Mahmud Riayat Syah kepada Engku Puteri, pulau ini tumbuh menjadi pusat pemerintahan kerajaan. Dari benteng-bentengnya, tersimpan cerita perjuangan menghadapi kolonialisme. Dari tradisi menulisnya, lahir karya-karya yang ikut mengangkat martabat bahasa Melayu.

Dan dari warisan intelektual itulah, generasi Indonesia hari ini turut menikmati salah satu hasil terbesarnya: bahasa Indonesia.

Bagi Raja Malik, kebesaran Pulau Penyengat tidak dapat diukur hanya dari luas wilayahnya.

“Pulau kecil saja, tetapi memberikan sumbangan yang besar kepada negara kita, yaitu bahasa,” ujarnya.

Kalimat tersebut seolah menjadi penegasan bahwa sejarah tidak selalu lahir dari wilayah yang luas atau kekuasaan yang besar.

Terkadang, sebuah pulau kecil di tengah laut justru mampu memberikan warisan yang melampaui batas geografis, melintasi zaman, bahkan menjadi bagian dari identitas sebuah bangsa. Pulau Penyengat adalah salah satu buktinya. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER