Friday, August 14, 2026
HomeKepriLinggaRumah Tenun Lingga Binaan BI Kepri Kebanjiran Pesanan dari Malaysia

Rumah Tenun Lingga Binaan BI Kepri Kebanjiran Pesanan dari Malaysia

BATAMSTRAITS.COM, LINGGA – Di tengah deretan kain berwarna-warni, tangan para pengrajin di Rumah Tenun Lingga terus bergerak menyelesaikan helai demi helai kain dengan motif khas Melayu.

Bagi pengunjung, kain tenun mungkin sekadar produk kerajinan. Namun bagi para pengrajin di Rumah Tenun Lingga, setiap helainya menyimpan cerita tentang tradisi, ketekunan, sekaligus peluang ekonomi masyarakat.

Salah satu produk yang tengah diperkenalkan adalah kain dengan motif tampuk manggis dan melati. Kain tersebut dibanderol mulai sekitar Rp2,8 juta per helai, sementara untuk produk tertentu harganya dapat mencapai Rp5 juta.

Ketua Rumah Tenun Lingga, Isnawati mengatakan proses pembuatan kain membutuhkan ketelitian tinggi. Beberapa motif dikerjakan secara manual, termasuk proses pencapan atau pembuatan motif satu per satu.

“Kalau telepuk itu sebenarnya teknik pembuatannya. Dicap, ditepuk dan ditumpuk-tumpuk,” kata Isnawati saat ditemui di Rumah Tenun Lingga, Selasa (11/8/2026) lalu.

Teknik tersebut menjadi salah satu kekhasan produk tenun yang dikembangkan para pengrajin. Tidak hanya mengejar nilai estetika, proses manual itu sekaligus menjadi upaya mempertahankan keterampilan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:   1.496 Warga Batam CKG Di Hari Ulang Tahunnya

Di balik keindahan kain, ada tantangan besar yang dihadapi Rumah Tenun Lingga, yakni keterbatasan alat produksi dan jumlah tenaga pengrajin.

Dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau (BI Kepri) kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha tersebut.

Rumah Tenun Lingga merupakan salah satu UMKM yang mendapatkan pembinaan dan dukungan peralatan dari BI Kepri. Isnawati menyebut pihaknya memperoleh bantuan berupa lima alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Sebelumnya dari awal kami memang punya lima alat. Kemudian ada bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Menurut Isnawati, bantuan tersebut memberikan dampak terhadap kapasitas produksi dan keberlangsungan usaha. Peralatan menjadi modal penting bagi pengrajin untuk terus memenuhi permintaan konsumen.

“Alhamdulillah, kalau untuk produksi sudah terbantu dengan adanya bantuan ini,” katanya.

Menariknya, pasar Rumah Tenun Lingga tidak hanya berasal dari dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, produk songket yang dihasilkan para pengrajin mulai mendapat tempat di pasar Malaysia. Bahkan, permintaan dari negeri jiran tersebut disebut masih terus berjalan.

BACA JUGA:   Walau Cuaca Panas, Waspada Batam Masih Berpotensi Hujan Lokal Disertai Petir

“Sudah banyak ke Malaysia. Kami banyak mendapat pesanan dari Malaysia,” ujar Isnawati.

Pesanan tersebut bahkan membuat para pengrajin harus bekerja untuk memenuhi produksi yang telah masuk. Untuk kebutuhan berikutnya, Rumah Tenun Lingga masih memiliki rencana produksi sekitar 20 lembar kain.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kerajinan tenun dari daerah tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang mampu menembus pasar internasional.

Produk yang dikerjakan secara manual dengan waktu produksi yang tidak singkat justru menjadi nilai tambah tersendiri. Harga kain pun berada pada segmen premium, mulai Rp2,8 juta untuk produk tertentu hingga sekitar Rp5 juta.

Namun, di balik peluang pasar tersebut, Isnawati mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan minat generasi muda untuk terjun menjadi pengrajin.

“Yang bekerja itu belum ramai. Yang minat juga belum banyak,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri tenun di Lingga. Sebab, tanpa regenerasi pengrajin, kemampuan membuat kain dengan teknik tradisional berisiko semakin sulit ditemukan.

BACA JUGA:   Resmikan Kantor Baru BPBD dan Brida, Amsakar : Dorong Kinerja Lebih Optimal

Karena itu, pembinaan UMKM tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan peralatan, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.

Bagi Rumah Tenun Lingga, dukungan BI Kepri menjadi salah satu pijakan untuk menjaga agar produksi tetap berjalan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Apalagi, produk-produk tenun Lingga juga dipersiapkan untuk mengikuti ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.

Momentum tersebut diharapkan dapat memperkenalkan produk tenun khas Lingga kepada pasar yang lebih luas.

Kain-kain itu pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang motif tampuk manggis, melati, songket maupun teknik terlepuk.
Di dalam setiap helainya terdapat cerita tentang perempuan-perempuan pengrajin, tradisi Melayu yang terus dijaga, serta harapan agar kerajinan lokal mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Dari Lingga, sehelai kain tenun perlahan melangkah lebih jauh menyeberangi batas wilayah hingga pasar Malaysia.

Dan di tangan UMKM binaan BI Kepri, tradisi yang diwariskan masa lalu mendapatkan peluang untuk menjadi sumber penghidupan masa depan. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER