BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Luka lebam di wajah dan tubuh menjadi saksi bisu kekerasan yang dialami Intan (19), seorang Asisten Rumah Tangga (ART) asal Nusa Tenggara Timur.
Bekerja di sebuah rumah mewah di kawasan elit Sukajadi, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Selama dua bulan terakhir, Intan menjalani hidup dalam teror kekerasan fisik dan verbal dari majikannya hingga puncaknya, ia dipaksa memakan kotoran anjing dan minum air dari septiktank.
Kisah memilukan ini terbongkar setelah Intan berhasil meminjam ponsel tetangga majikannya untuk mengirimkan foto-foto kondisi dirinya yang penuh luka kepada keluarganya di kampung halaman.
Foto itu kemudian diteruskan ke pengurus paguyuban Flobamora, komunitas warga NTT di Batam.
“Begitu menerima laporan, kami langsung menjemput korban. Dia dalam kondisi sangat trauma,” ujar Ketua Jaringan Safe Migran Batam, Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus, Senin (23/6/2025).
Pastor yang akrab disapa Romo Paschal itu menambahkan, Intan selama satu tahun bekerja di rumah majikannya kerap menerima cacian dan kekerasan verbal.
“Ia dipanggil dengan kata-kata kasar seperti hewan. Tidak pernah dipanggil dengan namanya sendiri,” ujarnya.
Namun, kekerasan yang dialami Intan tidak hanya berhenti pada kata-kata. Dua bulan terakhir, penyiksaan fisik mulai terjadi hampir setiap malam. Korban mengaku dipukul menggunakan tangan, sapu, bahkan obeng. Lebih menyakitkan lagi, adik korban yang tinggal bersama, juga dipaksa untuk turut menyiksa kakaknya.
“Intan dipukul, diseret ke kamar mandi, lalu dipaksa makan tai anjing dan minum air septiktank. Itu benar-benar dia alami dan dia makan,” ungkap Romo Paschal dengan suara bergetar.
Kasus ini kini telah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Barelang. Korban tengah menjalani pemeriksaan dengan didampingi kuasa hukum dan keluarga.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Debby Andrestian, membenarkan pihaknya telah menerima laporan tersebut.
“Laporan sudah masuk. Saat ini masih dilakukan pendalaman dan pemeriksaan sejumlah saksi,” kata Debby.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa praktik perbudakan modern masih terjadi, bahkan di lingkungan yang tampak ‘elit’ dan tertata rapi. Di balik pagar tinggi dan rumah mewah, kekejian bisa tersembunyi. (uly)







