Tuesday, August 18, 2026
HomeBisnisBank Indonesia Olah Limbah Uang Kertas Jadi Cendra Mata Hingga Sumber Energi

Bank Indonesia Olah Limbah Uang Kertas Jadi Cendra Mata Hingga Sumber Energi

BATAMSTRAITS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus mendorong transformasi pengelolaan Rupiah yang lebih ramah lingkungan melalui penerapan ekonomi sirkular. Uang Rupiah yang sudah tidak layak edar kini tidak sekadar dimusnahkan, tetapi diolah kembali agar memberikan nilai baru bagi lingkungan dan perekonomian.

Salah satu langkah nyata BI dilakukan melalui pemanfaatan limbah racik uang kertas. BI bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah limbah tersebut menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk cendera mata.

Selain itu, BI bermitra dengan perusahaan pengolahan energi untuk memanfaatkan limbah racik uang sebagai sumber energi tambahan bagi pembangkit listrik maupun kebutuhan industri.

Hingga saat ini, sebanyak 72% limbah racik uang kertas telah diolah melalui pendekatan sirkuler. BI menargetkan seluruh limbah racik uang dapat diolah secara sirkuler pada 2027. Transformasi tersebut sejalan dengan tuntutan keberlanjutan dalam pengelolaan uang Rupiah.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali saat membuka rangkaian Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, pada 14 Juni, mengatakan bahwa pengelolaan Rupiah tidak berhenti ketika uang tidak lagi layak edar.

BACA JUGA:   QRIS Dorong UMKM Kepri Masuk Pasar Internasional

Menurutnya, tantangan pengelolaan uang kini bukan semata-mata bagaimana memusnahkan uang yang sudah tidak layak edar, melainkan bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif.

“Ketika uang tidak lagi layak edar, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif,” ujar Ricky.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BI melakukan transformasi ramah lingkungan dalam seluruh siklus pengelolaan Rupiah, mulai dari proses pencetakan, pengedaran, hingga pemusnahan uang.

Inovasi tersebut bahkan mendapat pengakuan internasional melalui International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026, yang menjadi salah satu apresiasi atas upaya BI dalam menghadirkan pengelolaan uang yang lebih berkelanjutan.

Upaya menuju pengelolaan uang yang lebih berkelanjutan juga dilakukan sejumlah bank sentral di kawasan.

Bank Negara Malaysia (BNM), misalnya, mengolah limbah racik uang menjadi berbagai produk bernilai guna. Sementara itu, Bank of Thailand memilih penggunaan bahan kertas yang lebih tahan lama untuk memperpanjang masa edar uang.

Penggunaan material yang lebih awet diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pencetakan ulang akibat uang yang cepat rusak atau usang. Langkah tersebut sekaligus mendukung efisiensi dan keberlanjutan dalam pengelolaan uang.

BACA JUGA:   Rekor 10 Tahun, Ekonomi Kepri Melejit 2025 Gejolak Global Jadi Ujian 2026

Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa aspek lingkungan kini semakin menjadi bagian penting dalam pengelolaan mata uang di berbagai negara.

Pengalaman dan inovasi tersebut menjadi salah satu bahasan dalam BRIDGE 2026, forum dialog internasional bagi ekosistem pengelolaan uang yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 13 Agustus.

Forum yang diselenggarakan BI sebagai bagian dari rangkaian FERBI 2026 tersebut mempertemukan bank sentral dan otoritas moneter dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini, serta pelaku industri uang tunai internasional.

Melalui forum tersebut, BI dan para pemangku kepentingan tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga membangun perspektif bersama mengenai masa depan pengelolaan uang yang efisien, inovatif, dan semakin ramah lingkungan. (uly)

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER