Tuesday, August 11, 2026
HomeKepriLinggaMengintip Proses Pengolahan Sagu di Panggak Laut Lingga, dari Batang hingga Menjadi...

Mengintip Proses Pengolahan Sagu di Panggak Laut Lingga, dari Batang hingga Menjadi Pati

BATAMSTRAITS.COM, LINGGA – Pengolahan sagu di Desa Panggak Laut, Kecamatan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau membutuhkan proses yang bertahap sejak batang sagu tiba di tempat pengolahan. Pengelola pabrik sagu di Panggak Laut, Sofyan, menjelaskan, proses pengolahan dimulai tidak lama setelah pohon sagu dipotong.

Menurutnya, jika dijelaskan secara keseluruhan prosesnya cukup panjang, namun secara singkat pengolahan dari awal hingga menghasilkan pati membutuhkan waktu belasan hari.

“Mulai olah dari awal, ke dalam belasan hari. Belasan hari kita bisa mengolah sagu,” ujar Sofyan, Selasa (11/8/2026).

Diakuinya, batang sagu yang telah dipotong tidak perlu dijemur terlebih dahulu. Batang tersebut langsung dibawa untuk diproses.

Tahap awal dilakukan dengan merakit atau menata batang sagu. Setelah itu, batang dinaikkan untuk dikupas bagian kulit atau bagian luarnya. Batang kemudian dibelah menjadi beberapa bagian sebelum masuk ke proses pemarutan.

Setelah diparut, serat batang sagu kemudian diproses menggunakan air untuk memisahkan pati dari serbuk atau ampas batang. Proses penyaringan dan pengambilan pati tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengolahan sagu.

BACA JUGA:   Pet-Friendly dan Dekat LEGOLAND, Dao by Dorsett Puteri Cove Jadi Pilihan Baru Wisatawan ke Johor

Sofyan menyebut, serbuk atau ampas batang yang berada dalam proses tersebut dikenal dengan sebutan serampit. Bahan tersebut kemudian melalui proses pengolahan menggunakan air selama sekitar tujuh hingga delapan jam.

“Serampit namanya itu. Jadi serampit itu dikebul, sampai dari awal sekitar tujuh jam atau delapan jam,” katanya.

Dalam prosesnya, air sungai yang berada di sekitar lokasi dimanfaatkan untuk membantu pengolahan. Air tersebut disedot dan dialirkan ke dalam rangkaian proses pengolahan sagu.

Seiring proses berlangsung, air yang keluar dari pengolahan akan semakin jernih. Ketika air yang keluar sudah hampir sama dengan kondisi air sungai, hal itu menjadi tanda bahwa pati sagu yang terkandung dalam proses tersebut sudah hampir tidak ada lagi.

“Air sungai sama air keluar ini sudah hampir sama. Itu sudah jernih. Jelasnya pati sagunya sudah tidak ada lagi,” ujar Sofyan.

Terkait kapasitas, Sofyan menyebut pabrik tersebut memiliki kapasitas hingga 46 ton sagu, sementara dalam proses pengolahan jumlah yang dikerjakan sekitar 11 ton atau di bawah 11 ton.

BACA JUGA:   Perang Timur Tengah Picu Gejolak Global, BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25%

Proses panjang tersebut memperlihatkan bagaimana batang sagu yang baru dipotong dapat langsung diolah melalui sejumlah tahapan, mulai dari perakitan, pengupasan, pembelahan, pemarutan, hingga penyaringan menggunakan air untuk mendapatkan pati sagu.

Ditempat yang sama, Kepala Desa Panggak Laut, Kecamatan Lingga, Agung Yuda Pratama, turut memberikan keterangan mengenai proses pengolahan sagu yang berlangsung di wilayahnya.

Keterangan yang disampaikan sejalan dengan gambaran proses pengolahan, yakni batang sagu tidak dijemur terlebih dahulu dan langsung masuk ke tahapan pengolahan.

Bagi masyarakat Panggak Laut, aktivitas pengolahan sagu tersebut menjadi bagian dari kegiatan rakyat yang masih berlangsung hingga kini.

Sekaligus memperlihatkan bagaimana komoditas sagu diolah dari batang pohon hingga menghasilkan pati yang siap dimanfaatkan.

spot_img
spot_img
spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER