BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Serangan kawanan monyet yang meresahkan petani di Rempang Cate, Batam, kini menemui lawan sepadan. Tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) berhasil mengembangkan alat pendeteksi dan pengusir monyet otomatis yang inovatif.
Alat tersebut telah diserahkan kepada Kelompok Tani Tunas Baru pada akhir Agustus 2025 sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dosen Teknik Mesin UNRIKA, Fardin Hasibuan yang terliat dalam tim, menjelaskan cara kerja alat tersebut. Menurutnya, teknologi ini mengandalkan kecerdasan buatan sederhana untuk menjaga lahan pertanian.
“Jadi alat ini kami rancang menggunakan mikrokontroler Raspberry Pi yang terhubung dengan kamera. Begitu kamera mendeteksi keberadaan monyet, sistem akan otomatis memicu suara tembakan yang menggelegar selama 15 detik,” jelasnya, Minggu (5/9/2025).
Ia menambahkan, suara kejut itu akan terus berbunyi selama monyet masih berada dalam jangkauan sensor kamera, sehingga efektif memaksa kawanan primata itu lari menjauh dari area perkebunan.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim yang terdiri dari para dosen, yaitu Fardin Hasibuan, Muhammad Irsyam, dan Toni Kusuma Wijaya, serta diperkuat oleh mahasiswa Stiven Ewin Sianipar, Edo Wardiansyah, Jumiati Ratuloli, dan Yoga Parendi.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Tunas Baru, Afriandi, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan teknologi ini. Selama ini, serangan monyet dari hutan sekitar menjadi salah satu kendala utama yang merugikan petani.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Kementerian, UNRIKA, dan seluruh tim. Alat ini sangat membantu kami melindungi tanaman dari kerusakan,” ujar Afriandi.
Ia berharap solusi serupa dapat diterapkan di lokasi lain dan dikembangkan lebih lanjut untuk menghalau hama lain.
“Semoga teknologi ini juga bisa dikembangkan untuk mengusir babi hutan yang sering menjadi masalah bagi kami,” katanya. (uly)







