BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Pemerintah Kota Batam melihat wisata wellness sebagai salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata, khususnya dalam menarik wisatawan mancanegara dari Malaysia dan Singapura.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan perkembangan usaha spa, massage, refleksi, hingga layanan kebugaran di Batam terus menunjukkan pertumbuhan.
Menurutnya, berdasarkan pendataan yang dimiliki Disbudpar Batam, saat ini terdapat sekitar 350 usaha spa dan layanan sejenis yang tersebar di berbagai wilayah Kota Batam. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan terus bertambah karena belum seluruh pelaku usaha tergabung dalam asosiasi.
“Kalau pendataan, ada asosiasi namanya ASPI (Asosiasi Spa Terapis Indonesia) di Batam. Tapi memang tidak semuanya masuk ke sana. Kalau di data saya ini terus berkembang, hampir ada 350-an lebih. Ini tersebar di beberapa tempat dan sangat potensial sekali,” ujar Ardiwinata, Senin (17/8/2026).
Ia menjelaskan, layanan wellness menjadi salah satu kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke Batam. Selain berbelanja dan menikmati kuliner, wisatawan juga banyak mencari layanan relaksasi seperti massage, refleksi, lulur, hingga berbagai perawatan tubuh lainnya.
“Karena salah satu wisatawan datang ke Batam itu mereka mau massage, mau refleksi, mungkin lulur dan sebagainya. Itu pokoknya wellness,” katanya.
Menurut Ardiwinata, potensi tersebut semakin besar karena Batam merupakan salah satu destinasi Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Aktivitas MICE tidak hanya membutuhkan ruang pertemuan dan fasilitas konferensi, tetapi juga berbagai aktivitas pendukung yang dapat dinikmati peserta setelah kegiatan utama selesai.
Setelah mengikuti rapat, ekspo, diskusi, maupun berbagai kegiatan bisnis lainnya, peserta MICE biasanya memiliki waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk berbelanja, menikmati kuliner, hiburan, maupun melakukan perawatan dan relaksasi.
“Destinasi wisata MICE itu after meeting-nya juga penting. Setelah rapat, setelah ekspo, setelah mereka berdiskusi, berdebat dan sebagainya, ada free time. Mereka ke mana? Ada shopping, makan, dan salah satunya adalah wellness,” jelasnya.
Ardiwinata juga menempatkan fasilitas wellness sebagai bagian dari amenities atau fasilitas pendukung dalam sebuah destinasi pariwisata.
Ia menjelaskan, sebuah kota wisata membutuhkan tiga unsur utama, yakni aksesibilitas, amenities, dan atraksi. Karena itu, keberadaan pusat perbelanjaan, hotel, restoran, tempat hiburan, klinik kecantikan, spa, hingga layanan massage menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pariwisata.
“Kalau kita bicara syarat kota pariwisata itu ada tiga, akses dulu, kemudian amenities, baru atraksinya. Kalau kita konsen kepada amenities, seperti shopping mall, hotel, restoran, tempat hiburan, klinik kecantikan, spa dan massage, ini namanya amenities,” ujarnya.
Ia menilai perkembangan industri wellness di Batam saat ini sudah cukup baik. Bahkan, potensi tersebut semakin terlihat dari hadirnya pelaku usaha yang mampu menarik konsumen dari luar negeri.
Hal itu salah satunya terlihat dari pembukaan usaha wellness baru yang menyasar tidak hanya konsumen lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia dan Singapura. Bahkan, pelaku usaha tersebut telah memiliki cabang di Pulau Pinang, Malaysia.
“Customer beliau bukan hanya lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara, khususnya Malaysia dan Singapura. Mereka juga sudah punya cabang di Pulau Pinang, Malaysia, ada dua lagi,” kata Ardiwinata.
Menurutnya, perkembangan bisnis wellness dengan pasar lintas negara tersebut menjadi sinyal positif bagi pariwisata Batam. Keberadaan fasilitas wellness yang berkualitas dinilai dapat menjadi pilihan tambahan bagi wisatawan sekaligus memperpanjang aktivitas dan lama tinggal wisatawan selama berada di Batam.
Ardiwinata mengatakan Pemkot Batam memberikan apresiasi terhadap hadirnya berbagai usaha baru di sektor tersebut. Menurutnya, pertumbuhan industri wellness merupakan bagian dari upaya memperkuat Batam sebagai destinasi wisata yang memiliki fasilitas lengkap.
Ia berharap semakin banyak pelaku usaha wellness yang berkembang dan mampu menghadirkan layanan berstandar baik sehingga Batam semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata wellness di kawasan regional.
“Ini tentunya sebagai salah satu upaya mendorong destinasi wisata wellness di Batam yang lebih terkonsentrasi,” ujarnya.
Lebih jauh, Ardiwinata menjelaskan bahwa konsep wellness tourism memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya sebatas spa dan massage, tetapi juga mencakup aktivitas yang berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan, seperti yoga, olahraga, terapi berbasis rempah, jamu, hingga berbagai bentuk perawatan tubuh.
“Apa itu wisata wellness? Dari mulai kebugaran, kemudian kesehatan, termasuk juga yoga, itu wellness semua. Ada aroma-aroma terapi, jamu, rempah-rempah, bagaimana merawat kesehatan dan sebagainya. Termasuk olahraga,” jelasnya.
Dengan posisi geografis Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia serta dukungan infrastruktur pariwisata dan MICE yang terus berkembang, ia melihat peluang pengembangan wisata wellness masih sangat terbuka.
Bahkan, Ardiwinata optimistis bukan tidak mungkin Batam ke depan menjadi salah satu penggerak utama wisata wellness di Indonesia.
“Bukan tidak mungkin ke depannya destinasi wisata wellness di Indonesia motornya berada di Batam,” katanya. (uly)










