BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad mengataka bahwa persoalan kota tidak hanya berhenti pada pengelolaan sampah. Ia juga menyoroti penggunaan atap seng yang dinilai kurang mendukung estetika kota serta kenyamanan hunian.
Ke depan, Amsakar mendorong penggunaan material bangunan yang lebih layak, seperti genting, sejalan dengan arahan Presiden RI agar kabupaten dan kota di Indonesia menjadi lebih bersih, rapi, nyaman, dan indah.
“Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga kenyamanan warga dan wajah kota,” ujar Amsakar saat memimpin Apel Gabungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam di Dataran Engku Putri, Kantor Wali Kota Batam, Senin (9/2/2026) lalu.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan para developer agar pembangunan perumahan dan kawasan permukiman ke depan lebih memperhatikan kualitas material bangunan, termasuk pada bagian atap.
Seperti diketahui sorotan terhadap penggunaan atap seng ini datang dari Presiden RI Prabowo Subianto. Kepala Negara bahkan mengaku terheran-heran melihat masih banyak rumah di Indonesia yang menggunakan seng sebagai atap bangunan.
Menurut Prabowo, seng membuat rumah lebih panas, mudah berkarat, dan tidak mendukung keindahan lingkungan.
“Saya lihat saudara-saudara, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita, maaf ya, banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” kata Prabowo.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Presiden bahkan menyatakan keinginannya agar seluruh atap bangunan di Indonesia beralih ke genting, bukan seng. Gerakan tersebut ia sebut sebagai “gentengnisasi”.
“Alat-alat genteng itu, pabrik-pabrik genteng itu tidak mahal. Nanti Koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” jelas Prabowo. Ia menambahkan, bahan baku genting berasal dari tanah dan bisa dicampur dengan zat lain, termasuk limbah batu bara, sehingga menghasilkan genting yang ringan dan kuat.
“Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita, bahwa limbah dari batu bara itu dicampur dengan tanah, menjadi bahan genteng yang baik,” ujarnya.
Prabowo menegaskan bahwa gerakan gentengnisasi harus dilaksanakan. Ia bahkan menyebut, kepala daerah yang enggan menjalankan program ini berarti tidak ingin kotanya menjadi indah.
“Kalau kita ingat, kakek nenek kita dulu atapnya pakai rumbia atau ijuk, sejuk. Sekarang seng, seng,” kata Prabowo, sembari mengingatkan bahwa wisatawan tidak datang ke Indonesia untuk melihat seng berkarat.
Menurut Presiden, karat adalah simbol kemunduran.
“Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, harus kuat, harus indah, rakyat kita harus bahagia,” tegasnya.
Sejalan dengan arahan Presiden tersebut, Pemerintah Kota Batam menilai dorongan penggunaan genting dan penataan estetika bangunan menjadi bagian penting dalam upaya menjadikan Batam sebagai kota yang lebih tertata, nyaman, dan berdaya saing, baik bagi warganya maupun bagi wisatawan. (uly)







