BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Di balik gegap gempita Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar masyarakat berkumpul bersama keluarga, ada sekelompok orang yang justru menjalankan tugas negara di balik tembok tinggi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Batam.
Bagi mereka, lebaran bukan tentang mudik atau hidangan hangat di rumah, melainkan memastikan keamanan dan menghadirkan kebahagiaan bagi para warga binaan yang juga merindukan keluarga.
Ricky Kurniady (30), Kepala Pengamanan Rutan Kelas IIA Batam, baru tiga bulan bertugas di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sejak Desember 2025. Ia adalah ayah dari satu anak, namun pada momen Idul Fitri, perannya sebagai petugas negara harus diutamakan.
“Kalau sudah tugas negara, keluarga harus maklum. Istri harus mengerti karena tugasnya mendukung pekerjaan suami,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Diakuinya, dirinya selalu memberitahukan tanggal liburnya pasca Idul Fitri. Hal tersebut sebagai pengobat kebersamaan yang tidak terwujud saat momen libur lebaran tiba.
“Jadi saya berikan dulu rasa senangnya. Nanti tanggal sekian bakal libur, gitu,” kata Ricky.
Di Rutan Batam, sebanyak 1.045 warga binaan menghuni fasilitas tersebut. Sekitar 75 hingga 80 persen berasal dari Kota Batam.
Sementara sisanya datang dari berbagai daerah seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, hingga Tanjung Pinang, Uban, dan Tanjung Balai. Jarak yang jauh membuat momen kunjungan keluarga menjadi sangat berharga.
Untuk mengakomodasi itu, pihak rutan membuka layanan kunjungan khusus lebaran selama tiga hari. Sistemnya diatur ketat.
Petugas pengamanan yang berjumlah sekitar 76 orang dibagi menjadi empat regu, kemudian disusun lagi menjadi dua tim yang bekerja bergantian selama masa open house.
Setiap tim dipimpin oleh perwira yang bertugas mengatur penempatan anggotanya. Mulai dari pemeriksaan barang, pemasangan kabel ties, pengecekan stempel, hingga pengawasan langsung saat warga binaan bertemu keluarga.

“Kita tidak membeda-bedakan siapa pun. Semua punya hak yang sama,” kata Ricky.
Waktu kunjungan ditetapkan selama 20 menit untuk setiap warga binaan. Perhitungan waktu dimulai sejak mereka benar-benar duduk dan bertemu keluarga.
Di dalam ruang kunjungan, tiga petugas berjaga di sisi kiri, kanan, dan tengah untuk memastikan durasi berjalan adil. Namun di balik ketegasan aturan, ada sisi kemanusiaan yang tetap dijaga.
“Kalau dari pulau jauh seperti Tanjung Pinang atau Tanjung Balai, kadang kita tambah waktu lima menit. Karena kita tahu perjalanan mereka tidak dekat,” ujar Ricky.
Penambahan waktu itu tidak serta-merta diberikan. Petugas di lapangan terlebih dahulu menilai situasi, lalu melaporkannya kepada perwira piket. Keputusan akhir tetap berada di tangan perwira, berdasarkan pertimbangan objektif.
Ahad Riadi (37), staf pengamanan yang telah lama bertugas di Batam, menegaskan bahwa semua petugas terlibat tanpa terkecuali.
“Semua punya tanggung jawab. Tidak peduli agama atau latar belakang. Kalau ada keributan, semua wajib turun,” tutur pria yang memiliki tiga orang anak ini.
Menurut Ahad, penilaian tambahan waktu kunjungan juga mempertimbangkan perilaku selama kunjungan. Jika terjadi pelanggaran, waktu bisa dikurangi.
Sebaliknya, jika ada kondisi khusus seperti orang tua yang membutuhkan waktu lebih lama untuk makan atau berinteraksi, petugas bisa memberikan kelonggaran.
Selain itu, rutan juga menyediakan layanan khusus bagi kelompok rentan. Seperti penyandang disabilitas, lansia, dan bayi di bawah dua tahun.
Mereka ditempatkan di area yang lebih nyaman, termasuk pelataran masjid untuk menghindari paparan asap rokok.
Di hari pertama Idul Fitri, seluruh warga binaan muslim dan petugas melaksanakan salat Id bersama di rutan.
Sehingga dirinya juga tak merasakan perayaan Idul Fitri bersama isteri dan anak-anaknya. Kebiasaan di hari pertama, sebelum bertugas dirinya menggunakan seragam Couple dengan keluarga.
Kemudian proses sungkem dan ditutup dengan sesi foto bersama. Ahad pun kembali menggunakan pakaian dinas dan bergegas ke Rutan untuk pelaksanaan Salat Id.
“Kalau saya senangin hati anak biasanya mengajak mancing ikan ditengah laut saat ambil cuti pengganti,” katanya.

Kepala Rutan Kelas IIA Batam, Fajar Teguh Wibowo, bahkan mewajibkan petugas muslim untuk melaksanakan salat di rutan.
“Tujuannya untuk mitigasi risiko dan menjaga keamanan. Kalau petugas banyak yang di luar, pengawasan tidak maksimal,” ujarnya.
Setelah salat, suasana berubah hangat. Petugas dan warga binaan saling bersalaman dalam tradisi halal bihalal, lalu menikmati hidangan sederhana seperti opor ayam bersama.
Momentum itu menjadi pengganti kebersamaan yang biasanya dirasakan di rumah.
Namun, bagi sebagian petugas, kerinduan terhadap keluarga tetap tidak bisa sepenuhnya terobati. Banyak di antara mereka yang harus menahan rindu, bahkan sekadar untuk makan bersama anak dan istri.
Di sisi lain, ada kisah-kisah kecil yang menyentuh. Beberapa petugas secara sukarela membawa makanan dari rumah untuk dibagikan kepada warga binaan yang tidak memiliki keluarga atau berasal dari luar daerah.
“Ada yang bilang tidak punya keluarga. Kadang petugas tergerak, sekadar memberi makanan atau bahkan sebungkus rokok saja, mereka sudah sangat terharu,” katanya.
Bagi para petugas, tugas ini bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi juga menghadirkan rasa kemanusiaan di tengah keterbatasan.
Di balik seragam dan aturan ketat, mereka adalah manusia biasa yang juga ingin pulang, berkumpul, dan merayakan hari raya bersama keluarga.
Namun demi tanggung jawab, mereka memilih tetap tinggal, menjaga, dan memastikan bahwa bahkan di balik jeruji, Idul Fitri tetap terasa sebagai hari kemenangan. (uly)







