Thursday, February 26, 2026
HomeKepriBI Tahan Suku Bunga 4,75%, Fokus Stabilkan Rupiah dan Dorong Pertumbuhan

BI Tahan Suku Bunga 4,75%, Fokus Stabilkan Rupiah dan Dorong Pertumbuhan

BATAMSTRAITS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Februari 2026. PSuku bunga Deposit Facility tetap 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan pada penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).

BI juga membuka ruang penurunan suku bunga ke depan apabila inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen dan stabilitas tetap terjaga.

Pada 18 Februari 2026, rupiah tercatat di level Rp16.880 per dolar AS, melemah 0,56 persen (point to point) dibanding akhir Januari 2026.

Menurut BI, pelemahan dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valas korporasi domestik. Namun, BI menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya.

BACA JUGA:   Jaga Peredaran Uang Asing, BI Kepri Sosialisasi Layanan Remitansi ke Para Pengelola Valuta Asing

“Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia,” kata Ramdan.

Untuk menjaga stabilitas, BI memperkuat intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar dolar AS, setara 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

BI mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen (yoy) pada triwulan IV 2025, meningkat dari 5,04 persen pada triwulan sebelumnya. Sepanjang 2025, pertumbuhan mencapai 5,11 persen, lebih tinggi dibanding 2024 sebesar 5,03 persen.

Pertumbuhan didorong konsumsi rumah tangga dan investasi, sejalan stimulus pemerintah dan bauran kebijakan BI.

Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada di kisaran 4,9–5,7 persen (yoy).

“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan fiskal Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” kata Ramdan.

BACA JUGA:   Pengikut Tarekat Syattariyah Menjalani Puasa Ramadan Lebih Awal

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), naik dari 2,92 persen pada Desember 2025. Kenaikan ini dipengaruhi faktor basis (base effect) diskon tarif listrik 50 persen pada awal 2025.

Namun inflasi inti tetap rendah di level 2,45 persen (yoy), sementara inflasi volatile food terkendali di 1,14 persen (yoy). BI meyakini inflasi 2026–2027 akan kembali berada dalam kisaran target 2,5±1 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan Januari 2026 mencapai 9,96 persen (yoy), naik dari Desember 2025 sebesar 9,69 persen. Rinciannya, kredit investasi tumbuh 22,38 persen, kredit modal kerja 4,13 persen dan kredit konsumsi 6,58 persen.

Dari sisi likuiditas, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54 persen. Dana pihak ketiga tumbuh 13,48 persen (yoy). CAR perbankan tinggi di 25,89 persen, dengan NPL terjaga di 2,05 persen (bruto). BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran 8–12 persen.

Meski BI-Rate sudah turun 150 basis poin sejak September 2024, transmisi ke suku bunga kredit masih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan turun 68 bps menjadi 4,13 persen. Namun suku bunga kredit baru turun 40 bps menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.

BACA JUGA:   PLN Batam Bersama Kejati Kepri Serahkan Kurban Sapi Kepada Masyarakat

BI mendorong perbankan mempercepat transmisi penurunan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 mencapai 4,79 miliar transaksi, tumbuh 39,65 persen (yoy). Transaksi QRIS bahkan melonjak 131,47 persen (yoy). BI-FAST memproses 455 juta transaksi senilai Rp1.176 triliun, sementara BI-RTGS mencatat transaksi Rp19.555 triliun. Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) tumbuh 12,41 persen menjadi Rp1.267 triliun.

BI memastikan kesiapan sistem pembayaran nasional menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional, termasuk Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

Melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026, BI menjamin ketersediaan uang layak edar di seluruh wilayah NKRI, termasuk daerah 3T, serta memperkuat layanan penukaran melalui aplikasi PINTAR. (*/uly)

spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER