BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Jam belum bergeser jauh dari angka dua dini hari ketika sebagian besar warga Kecamatan Belakang Padang masih terlelap dalam dinginnya angin laut. Namun di sebuah rumah sederhana di Kampung Jawa, kehidupan sudah lebih dulu dimulai.
Dari dapur kecil yang hangat, bunyi klik pemantik kompor memecah kesunyian. Di sanalah Djannatun Na’im yang akrab disapa Wak Djan memulai hari-harinya.
Pria kelahiran 1985 ini bergerak dengan ritme yang tampaknya sudah membatu dalam tubuhnya. Tak ada tergesa, namun juga tak ada waktu yang terbuang.
Satu per satu tahu isi sayur dimasukkan ke dalam wajan berisi minyak panas. Asap tipis mengepul, menyatu dengan aroma sayur dan adonan tahu yang perlahan berubah menjadi kecokelatan.
Sementara itu, sepiring popiah sayur menunggu giliran, dan di sudut lain dapur, puding dingin dalam loyang sudah siap dibawa. Semua itu ia kerjakan sendiri, tanpa keluhan, tanpa keluh kesah.
Dapur kecil itu seperti saksi bisu, tempat Wak Djan menaruh harapan, usaha, sekaligus doa. Setiap suara mendesis dari wajan seolah menjadi irama yang mengiringi perjuangannya.


Setelah semua matang dan tersusun rapi dalam wadah-wadah plastik, Wak Djan bergegas bersiap. Dengan motor yang setia menemaninya, ia melaju menuju Pelabuhan Pancung di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Angin subuh menerpa wajahnya, dingin, menusuk tulang, namun langkahnya tak pernah tertahan. “Dingin tak apa, yang penting rezeki jangan telat disambut,” katanya suatu hari dengan senyum khasnya.
Pelabuhan Pancung masih temaram ketika Wak Djan tiba. Lampu-lampu kapal pancung dari dan menuju Batam berkedip lembut di kejauhan, memantul di permukaan laut yang gelap. Di sisi kiri pintu dermaga tempat pejalan kaki melangkah menuju perahu, meja besar miliknya menunggu untuk ditata.
Satu per satu kue disusun seperti menata harapan pagi. Tahu isi, popiah, puding, rempeyek, kacang bawang, keripik pedas, keripik ubi, risol, epok-epok, bakwan, pukis, laksa hingga jajanan pasar lainnya.
Sebagian ia buat sendiri, sebagian lagi titipan warga lain. Totalnya lebih dari 15 jenis menu sarapan setiap hari. Meja Wak Djan seolah menjadi cermin keragaman rasa masyarakat pesisir Melayu hangat, sederhana, namun selalu mengundang siapa saja untuk singgah.
Dengan senyuman, ia menyapa para pekerja yang hendak menyeberang ke Batam. Senyumnya ringan, seperti embusan angin pagi yang membawa aroma asin laut.
Tak jarang ia melempar candaan kecil, membuat pagi di pelabuhan terasa lebih ramah. Banyak yang berhenti sejenak untuk menikmati kuenya sembari menunggu kapal berangkat.
“Kita jualan begini bukan soal kue saja. Tapi soal cerita. Orang datang beli, kadang curhat, kadang cerita kerjaan. Kita dengarkan saja. Rezeki bukan hanya uang,” tuturnya, Jumat (21/11/2025).

Sebelum menjadi pedagang kue, hidup Wak Djan pernah berputar berbeda. Ia pernah bekerja di salah satu perusahaan di Batam, juga sempat bekerja di Pelabuhan Internasional Sekupang.
Namun seiring berjalannya waktu, peluang kerja tak semudah dulu. Usia bertambah, kebutuhan meningkat, dan pekerjaan semakin sulit didapat.
“Saya sudah mencoba cari kerja lagi. Tapi memang mungkin karena umur sudah tak muda lagi. Dari situ saya pikir, lebih baik saya jualan saja,” tuturnya.
Keputusan itu bukan hanya langkah bertahan hidup, tetapi juga bentuk penerimaan dan keberanian untuk memulai lagi dari nol. Dan ternyata dari jualan kue ia justru menemukan sesuatu yang tak ia dapatkan sebelumnya, ketenangan hati.
“Kita bisa jualan kapan saja. Kalau butuh istirahat, kapan saja kita boleh istirahat. Tidak ada tekanan batin,” ujar anak ketiga dari tiga bersaudara itu. Ada kelegaan dalam suaranya seperti seseorang yang akhirnya menemukan ritme hidup yang pas bagi dirinya.
Yang membuat meja Wak Djan semakin menarik adalah kehadiran barcode QRIS yang ia pasang tepat di tengah meja. Di antara aneka kue tradisional, sorotan mata pengunjung seringkali tertuju pada kode hitam-putih itu kontras namun menarik.
Sebagai pedagang kaki lima di pesisir, penggunaan QRIS bukan hal biasa. Tapi Wak Djan punya alasannya.
“Setelah pakai QRIS, jadi lebih praktis. Tidak repot uang kembalian. Sekarang uang kecil susah,” katanya sambil terkekeh.
Ia mengingat bagaimana sering kewalahan mencari uang receh saat banyak pembeli datang bersamaan. Hingga suatu hari Bank Indonesia memberikan sosialisasi penggunaan pembayaran digital atau QRIS.
“Sebenarnya saya sudah lama nak pakai QRIS. Tapi setelah Bank Indonesia datang, saye jadi tahu,” katanya.
Bank Indonesia menjembatani pembuatan QRIS melalui Bank Riau Kepri. Dari situ, ternyata banyak manfaat yang ia dapatkan.
Mulai memahami manajemen pembukuan sederhana, seperti mengatur pemasukan harian, membuat pembukuan sederhana, hingga memahami perputaran modal.
“Mudah-mudahan dengan QRIS ini, UMKM seperti saya bisa dapat bantuan karena laporan keuangannya sudah jelas. Dan siapa tahu nanti bisa jadi UMKM naik kelas,” ujarnya sambil tertawa renyah tawa yang menyimpan harapan besar namun tetap membumi.
Bagi sebagian orang, QRIS mungkin hanya alat transaksi. Namun bagi Wak Djan, itu adalah simbol perubahan zaman.
Simbol bahwa pedagang kecil pun bisa mengikuti perkembangan teknologi tanpa harus meninggalkan akar budaya mereka. Kue-kue tetap tradisional, namun cara jualannya sudah modern.
Menjelang siang, biasanya sekitar pukul 12.00 WIB, Wak Djan menutup lapaknya. Ia kembali pulang untuk beristirahat sejenak melepas lelah sebelum memulai aktivitas lagi.
Ya, hari Wak Djan belum berakhir. Sore harinya ia kembali berjualan di lokasi berbeda, tak jauh dari pelabuhan. Di sana, pembelinya didominasi warga Belakang Padang.
Kalau pagi pembelinya para pekerja Batam, sore adalah waktu untuk penduduk kampung, ibu-ibu yang pulang belanja, anak-anak yang mencari camilan, atau warga yang menikmati suasana pesisir di akhir hari.
“Kalau sore, ramai yang dari kampung. Sudah kenal-kenal semua,” katanya dengan rasa hangat yang khas orang pesisir ramah, sederhana, dan suka bertegur sapa.
Cerita tentang Wak Djan bukan hanya tentang seorang pedagang kue. Ini tentang keteguhan seorang lelaki pesisir yang percaya bahwa rezeki selalu ada bagi siapa saja yang mau bangun lebih pagi. Tentang budaya kerja keras masyarakat Belakang Padang yang tak pernah kehilangan senyum meski hidup tak selalu mudah.
Dalam kesunyian dini hari, di bawah lampu kuning dapurnya, di antara aroma tahu goreng dan popiah yang renyah, Wak Djan menyiapkan bukan hanya makanan, tetapi juga harapan untuk dirinya, keluarganya, dan untuk siapa saja yang singgah di mejanya setiap pagi.
Dan di pelabuhan kecil itu, di tepi laut yang tak pernah tidur, nama Wak Djan perlahan menjelma bagian dari denyut hidup Belakang Padang. Sebuah cerita kecil yang sederhana, namun menyimpan makna besar tentang keberanian bertahan dan mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri.
BERLAYAR dari Belakang Padang
Suasana Lapangan Indera Sakti di Pulau Belakang Padang tampak berbeda pada Sabtu malam, 15 November 2025. Lampu-lampu dermaga memantulkan kilau di perairan, sementara ratusan warga memenuhi arena Festival BERLAYAR.
Sebuah perhelatan yang dirancang Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau untuk mengajak masyarakat pulau menikmati langsung era baru ekonomi digital.
Desiran angin laut yang selalu akrab bagi warga Belakang Padang seolah menjadi saksi bagaimana sebuah pulau yang selama ini dikenal sebagai “beranda terdepan Indonesia” kini dijadikan titik awal perjalanan digital baru.
Bukan sekadar hiburan rakyat, Festival BERLAYAR, singkatan dari Bersama Rayakan Festival Digital Masyarakat Kepulauan Riau, menjadi ruang belajar dan merayakan transformasi.
Di panggung utama, Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyampaikan filosofi nama festival tersebut. Baginya, BERLAYAR lebih dari sekadar rangkaian huruf.


“Nama ini bukan hanya indah didengar, namun melambangkan perjalanan kita untuk berlayar menembus batas, menyatukan budaya, dan mendekatkan masyarakat dengan kemajuan digital,” ujarnya.
Belakang Padang dipilih bukan tanpa alasan. Pulau yang hanya berjarak belasan menit dari Singapura ini sejak lama menjadi titik interaksi ekonomi antarnegara.
Dengan karakter masyarakatnya yang terbuka, wilayah ini dinilai memiliki potensi besar menjadi ikon baru ekonomi digital perbatasan.
“Belakang Padang adalah simbol bagaimana pulau-pulau kecil pun bisa menjadi bagian penting dalam ekosistem digital nasional,” tutur Ardhienus.
Upaya digitalisasi yang digaungkan BI Kepri bukan tanpa hasil. Pertumbuhan penggunaan QRIS di Kepulauan Riau melonjak tajam dalam dua tahun terakhir.
-Tahun 2024: volume transaksi mencapai 33,9 juta, tumbuh 117,34% yoy.
-September 2025: volume naik menjadi 64,9 juta transaksi, atau 181,80% yoy, dengan nilai mencapai Rp7,7 triliun.
-Pengguna pun bertambah dari 530.327 orang (2024) menjadi 552.780 pada September 2025.
Angka-angka ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kepri, termasuk wilayah pulau, mulai memeluk budaya transaksi digital dengan lebih percaya diri.
BI menegaskan komitmennya untuk terus memperluas ekosistem ekonomi digital nasional, terutama di wilayah perbatasan. Menurut Ardhienus, keberhasilan transformasi digital terletak pada partisipasi masyarakat.
“Kemajuan digital akan tercapai bila didukung partisipasi masyarakat yang aktif. Melalui BERLAYAR, kami ingin menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya untuk kota besar, tetapi juga untuk pulau-pulau terdepan negeri,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya QRIS Cross Border yang sangat relevan bagi Kepri mengingat interaksi ekonomi dengan Singapura dan Malaysia.
Malam semakin larut, namun keramaian festival masih terasa. Di antara riuh musik dan transaksi QRIS yang sibuk dipindai, terasa semangat baru dari masyarakat Belakang Padang sebuah pulau kecil yang kini menjadi simbol keberanian menatap masa depan.
“Mari kita jadikan Belakang Padang bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ikon ekonomi digital baru di perbatasan Indonesia,” katanya. (uly)
Biodata Narasumber :
Nama : Djannatun Na’im
Tanggal Lahir : 17 September 1985
Alamat : Kampung Jawa
Hobi : Berdagang
Anak ke : 3 dari 3 bersaudara







