BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Menteri Perdagangan RI, Bambang Susilo menilai kebijakan tarif baru yang diterapkan Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump justru membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.
Menurut Bambang, saat ini Indonesia dikenakan tarif 19 persen untuk sejumlah produk, setara dengan negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Namun, kebijakan tarif ini menciptakan celah persaingan baru.
“Dulu, saat tarifnya sama, kita harus bersaing ketat dengan negara lain. Sekarang tarifnya berbeda, artinya kita punya peluang lebih kompetitif untuk ekspor ke Amerika,” ujar Bambang saat berada di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (15/8/2025).
Pemerintah tengah menyiapkan perjanjian dagang dengan AS, yang ditargetkan rampung sebelum September. Strateginya adalah mendorong produk-produk yang tidak diproduksi di Amerika untuk mendapat tarif nol persen.
“Kalau produknya tidak diproduksi di AS, kita upayakan agar tarifnya bisa nol persen. Dengan begitu, kita bisa masuk pasar Amerika tanpa terkena tarif resiprokal,” kata Bambang.
Ia mencontohkan, perusahaan seperti PT Clow Teknologi yang berada di Tunas Industri Kabil, Kota Batam, Provinsi Kepri dapat memanfaatkan peluang ini.
“Kalau mereka ekspor dari China, tarifnya tinggi. Tapi kalau investasi di Indonesia dan memproduksi di sini, produknya jadi buatan Indonesia dan bisa mendapat keuntungan tarif,” katanya.
Produk-produk yang berpotensi menembus pasar AS dengan tarif nol persen antara lain cokelat, kopi, sagu, dan karet.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan bahwa tarif ekspor sebesar 19 persen akan dikenakan terhadap seluruh produk asal Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat. Kebijakan ini merupakan hasil kesepakatan langsung antara Trump dan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
“Indonesia akan membayar tarif 19 persen kepada Amerika Serikat untuk semua barang yang mereka ekspor ke negara kita,” kata Trump melalui media sosialnya, Kamis (16/7/2025).
Tarif tersebut merupakan penurunan dari angka awal 32 persen yang sebelumnya diumumkan oleh Trump pada April 2025. Sebelumnya, hingga awal Juli, Presiden AS itu masih bersikeras mempertahankan tarif tinggi tersebut, sebagaimana tertuang dalam surat resmi dari Gedung Putih yang ditujukan kepada Presiden Prabowo dan tertanggal 7 Juli 2025.
Namun, setelah digelarnya pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama tim negosiasi tarif RI dengan Menteri Perdagangan AS serta Kepala United States Trade Representative (USTR) di Washington D.C. pada 9 Juli 2025, disepakati adanya penundaan penerapan tarif. Penundaan ini bertujuan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan selama tiga pekan ke depan.
Adapun Trump juga menyebut bahwa Indonesia telah berkomitmen untuk menghapus seluruh hambatan perdagangan, baik tarif maupun non-tarif, bagi produk-produk asal Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia.
Trump menegaskan apabila ada barang dari negara ketiga yang hendak diekspor ke AS melalui Indonesia dan terkena tarif lebih tinggi, maka tarif 19 persen tersebut akan tetap diberlakukan terhadap produk tersebut. (uly)







